TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Di tengah geliat Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai kota pendidikan yang semakin ramai, bertahan hidup dengan uang saku Rp1,5 juta per bulan bukan hal mustahil bagi mahasiswa.
Kuncinya ada pada pengelolaan keuangan yang disiplin dan gaya hidup yang tidak berlebihan.
Hal ini dirasakan betul mahasiswa asal Tegal, Jihan Salsabila (23).
Sudah empat tahun dia tinggal di Purwokerto dan merasakan perkembangan kota kecil ini menjadi lebih urban.
Dia pun membagikan gambaran realistis biaya hidup dan pola konsumsi mahasiswa di Purwokerto.
Mendapat uang saku Rp1.5 juta per bulan, Jihan mengaku, dana tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar meski tetap butuh pengelolaan bijak.
"Kalau dapat Rp1,5 juta itu biasanya sudah termasuk kos."
"Misalnya kos Rp400 ribu, berarti sisa Rp1,1 juta untuk kebutuhan lain seperti makan, jajan, atau beli kebutuhan pribadi," ujarnya, Senin (20/4/2026).
Baca juga: Biaya Hidup Makin Mahal, Slogan Purwokerto sebagai Kota Slow Living Dicibir Warga Lokal
Di tengah budaya nongkrong yang lekat dengan kehidupan mahasiswa, Jihan mengaku tetap bisa menyesuaikan pengeluaran.
Ia tidak menjadikan aktivitas tersebut sebagai beban financial.
"Nongkrong paling seminggu 1 sampai 2 kali, itu pun kalau ada teman yang ngajak."
"Sekali nongkrong habis sekitar Rp30 ribu, sudah termasuk makan dan minum," katanya.
Pilihan tempat pun fleksibel, disesuaikan kebutuhan dan kondisi keuangan.
"Kadang di angkringan, kadang di kafe kecil."
"Tapi, kalau mau ngerjain tugas, biasanya pilih tempat yang ada wifi, seperti sekitar kampus atau tempat yang nyaman buat belajar," katanya.
Tak selalu harus di tempat berbayar, Jihan juga kerap memanfaatkan ruang publik semisal alun-alun atau tepi jalan untuk sekadar berbincang santai.
Menurut Jihan, gaya hidup mahasiswa di Purwokerto sangat beragam.
Namun, tidak semua mahasiswa terjebak dalam pola konsumsi tinggi atau mengikuti tren secara berlebihan.
"Setiap orang beda-beda. Ada yang hampir tiap hari nongkrong, tapi ada juga yang cukup 1 sampai 2 kali seminggu saja," ungkapnya.
Dalam hal penampilan pun, ia melihat, adanya perbedaan preferensi.
"Ada yang mengikuti tren, tapi ada juga yang tetap pakai gaya sendiri."
"Tidak harus selalu ikut tren, yang penting tetap rapi dan nyaman," tambahnya.
Ia sendiri mengaku bukan tipe yang mudah terpengaruh fenomena fear of missing out atau FOMO.
"Kalau memang suka, ya diikuti. Tapi kalau tidak, ya tidak perlu dipaksakan," tegasnya.
Baca juga: Purwokerto Berubah Jadi Kota Urban, Siapa Paling Terdampak? Begini Kata Akademisi Unsoed
Di tengah keterbatasan anggaran, Jihan mengaku masih memiliki peluang untuk menabung, meski tidak selalu rutin setiap bulan.
"Kadang bisa nabung, tapi tergantung kebutuhan juga."
"Ada bulan yang bisa, ada juga yang tidak," katanya.
Hal ini, menurutnya, kembali pada prioritas pengeluaran masing-masing individu.
Soal kebutuhan makan, Jihan menilai, harga makanan di Purwokerto relatif masih ramah di kantong mahasiswa.
"Kalau makanan standar sih masih normal. Misalnya, di warung bisa Rp13 ribu, tapi di kafe bisa Rp20 ribu."
"Itu wajar karena ada fasilitas seperti wifi dan pelayanan," jelasnya.
Ia menilai, anggapan mahal sering kali muncul karena tidak mempertimbangkan nilai tambah yang diberikan.
"Kalau dibandingkan langsung, memang terlihat mahal, tapi sebenarnya ada nilai tambahnya," ujarnya.
Meski demikian, ia juga pernah menemukan pengalaman yang kurang memuaskan.
"Kadang ada yang tidak worth it, misalnya harga Rp25 ribu tapi porsinya sedikit dan tidak sesuai ekspektasi," tambahnya.
Dengan strategi tertentu, kebutuhan makan sehari-hari masih bisa ditekan.
"Sehari kadang cukup Rp20 ribu untuk makan. Biasanya makan dua kali, tidak selalu sarapan," katanya.
Menurutnya, ketersediaan makanan murah di Purwokerto masih cukup melimpah.
"Kalau mau cari yang murah itu gampang. Tinggal kita pintar-pintar saja memilih tempat," jelasnya.
Baca juga: Uang Rukun dan Hajatan Jadi Biaya Hidup Tersembunyi di Balik Slogan Slow Living Purwokerto
Sementara itu, seorang mahasiswa lain, Sulthoni (22) mengaku, biaya hidup di Purwokerto bisa ngirit dan murah asal mampu berhemat.
"Kalau mengikuti tren jelas tidak akan ada habisnya, jadi saya lebih memilih buat selektif dalam mengeluarkan," katanya.
Selektif dalam artian, dia memilih makan di tempat makan sederhana, jarang nongkrong.
Apabila nongkrong, lebih memilih warung kopi sederhana, yang hanya mengeluarkan Rp5.000 sampai Rp10 ribu saja.
"Kalau jalan, biasanya kalau tidak angkringan ya bisa warung pinggir jalan, ya paling sering di burjo sih, karena kan sebelum ada kafe kalcer kekikian, anak-anak lebih sering di burjo kampus," katanya.
Toni sendiri menghabiskan kurang lebih dana Rp1 juta sampai Rp1.5 juta per bulan.
Ia mengaku lebih banyak menginvestasikan ke olahraga dan makan biasa ketimbang harus sekedar beli kopi di atas harga Rp15 ribu sampai Rp50 ribu per cupnya. (*)