Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris I Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Sejak lima tahun terakhir, di kawasan Desa Lancok Ulim dan beberapa desa lain di sepanjang jalan nasional muncul toko maupun kios yang menjual berbagai jenis kue tradisional Aceh.
Terutama kue bhoi. Toko-toko kue bhoi tersebut berada di kiri dan kanan Jalan Banda Aceh-Medan, kawasan Desa Lancok Ulim, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen.
Kue bhoi diminati banyak orang, terlebih para pembeli dapat melihat langsung proses pembuatannya karena para ibu memasak di tempat jualan.
Di lokasi tersedia oven besar, meja adonan tepung, serta perlengkapan memasak lainnya.
Lena Amni (42), warga Desa Nase Mee Pandrah sekaligus pemilik UMKM Dapu Bhoi dan Arafit Sam-Sama Jaya di Lancok Ulim, kepada Serambinews.com, Rabu (22/4/2026), mengatakan usahanya sudah berjalan selama lima tahun.
Setiap hari usahanya melibatkan empat hingga lima pekerja, sementara menjelang Lebaran jumlah tenaga kerja meningkat hingga 15 orang karena tingginya permintaan.
Baca juga: Dorong Daya Saing UMKM, Kemenkum Aceh Perluas Akses Perlindungan Hukum dan Perseroan Perorangan
Lena Amni yang juga Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Gampong Nase Mee menambahkan, produk kue bhoi dan aneka kue lainnya tidak hanya dijual di lokasi pinggir jalan.
Tetapi juga memenuhi pesanan pelanggan.
“Pesanan kue datang dari pelanggan di Banda Aceh, Sabang, berbagai kabupaten/kota di Aceh, hingga Jakarta dan Malaysia,” ujarnya. Pemesanan dilakukan melalui WhatsApp maupun aplikasi lainnya.
Kue khas Aceh yang diproduksi langsung di kios dengan beberapa oven antara lain kue bhoi, keukarah, sepet, gring, dodol, kue loyang, kue bangkit, dan berbagai jenis lainnya.
Selain memproduksi sendiri, Lena Amni juga menampung kue buatan warga untuk dijual di kiosnya sehingga dapat membantu pemasaran produk masyarakat setempat.
Harga kue dijual bervariasi sesuai ukuran. Kue bhoi mini dijual Rp1.000 untuk empat buah, bhoi kecil Rp500 per buah, dan bhoi besar Rp1.000 per buah.
Baca juga: Pelaku UMKM di Banda Aceh Dapat Edukasi Standar Produksi Pangan Olahan
Camat Pandrah, Juanda Abdullah, yang sedang membeli kue di kawasan tersebut mengatakan dirinya sangat mendukung keberadaan pusat jajanan kue khas Aceh itu.
Menurutnya, lokasi tersebut menjadi tempat singgah para pelintas untuk membeli oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat.
“Usaha ini umumnya dijalankan kaum ibu PKK dari berbagai desa. Tempat jualannya juga menyebar, selain di Lancok Ulim ada juga di Keude Pandrah.
Di sini lumayan ramai dan banyak pelintas berhenti membeli kue,” ujarnya.
Ia mengingatkan para pedagang agar selalu menjaga kualitas produk, tidak menggunakan bahan pengawet, serta menutup kue dengan plastik agar tetap higienis dan terjaga mutunya.
Hal itu dinilai dapat meningkatkan minat masyarakat yang melintas untuk singgah membeli.
Baca juga: Road to FESyar 2026 BI Hadir di USK, Ada Kelas UMKM, Lomba hingga Wakaf Kopi,Siap Diserbu Pengunjung
Seorang pembeli, Asmawati (40), warga Gampong Blang Pandrah, mengatakan dirinya sudah sering membeli kue bhoi di lokasi tersebut untuk dikonsumsi di rumah maupun dijadikan oleh-oleh.
Asmawati yang juga Sekretaris TP-PKK Kecamatan Pandrah menambahkan, dalam kegiatan pelatihan membuat kue bagi ibu-ibu gampong, pihak PKK turut melibatkan pelaku usaha setempat sebagai pelatih.
Harapannya, warga dapat mandiri dan membuka usaha baru dengan produk lainnya.
Pembeli juga dapat melihat langsung proses pembuatan kue tradisional Aceh di kawasan tersebut karena hampir seluruh tempat usaha dilengkapi perlengkapan memasak seperti oven, cetakan kue, dan lainnya.
Pengunjung bahkan bisa menunggu kue yang baru keluar dari oven.
“Mau belajar mengaduk dan memasak kue bhoi boleh, kami ajari dan praktik langsung,” ujar Lena Amni.
Kue bhoi merupakan produk khas Pandrah yang telah lama dikenal masyarakat.
Para pelaku usaha ingin menghadirkan pengalaman berbeda dengan memperlihatkan langsung proses pembuatan kue tersebut kepada pembeli. (*)