SURYA.co.id - Tragedi arung jeram di Sungai Brantas, Kota Batu, Jawa Timur, kembali menjadi sorotan publik setelah kisahnya diangkat dalam video Nadia Omara pada April 2026. Peristiwa 2014 itu membuka kembali luka keluarga korban.
Insiden nahas terjadi pada 28 Februari 2014 ketika rombongan berjumlah 18 orang mengikuti kegiatan rafting di aliran Sungai Brantas, Kota Batu. Mereka menggunakan lima perahu yang berangkat dari Torongrejo.
Situasi berubah drastis saat rombongan hampir mencapai titik istirahat.
Salah satu perahu terbalik akibat arus sungai mendadak menguat setelah hujan deras mengguyur daerah hulu.
Kondisi yang tidak terkendali itu berujung fatal. Empat peserta dinyatakan meninggal dunia, menjadikannya salah satu tragedi rafting paling diingat di wilayah tersebut.
Kisah ini kembali mencuat setelah Nadia Omara mengunggah video berisi pengalaman seorang followers bernama samaran Ara.
Baca juga: Imbas Tragedi Rafting di Batu 2014 Diviralkan Lagi Nadia Omara, Beredar Pengakuan Ibu Korban: Persis
Cerita tersebut menyebar luas dan memicu berbagai reaksi netizen.
Ara menceritakan bahwa ia bersama tujuh temannya berencana bermain arung jeram.
Salah satu pasangan, Ilyas dan Karin, ikut serta karena ingin melakukan sesi foto prewedding.
Namun liburan yang seharusnya membahagiakan berubah menjadi tragedi. Hujan deras membuat Sungai Brantas meluap, menyebabkan perahu terbalik dan empat orang meninggal dunia, termasuk Ilyas dan Karin.
Video Nadia Omara kemudian memicu simpati publik. Banyak netizen mendoakan para korban dan menyampaikan rasa belasungkawa atas tragedi tersebut.
Keluarga korban turut memberikan tanggapan atas viralnya kembali kisah ini.
Seorang orang tua korban, dalam akun tiktok Bunda Tegar, yang kemudian mengaku sebagai Ibunda dari Karin mengaku kesedihan kembali terasa saat mengenang peristiwa tersebut.
Baca juga: Nadia Omara Itu Siapa? Youtuber yang Ungkap Lagi Detik-detik Tragedi Rafting di Batu Tahun 2014
Meski luka lama terbuka, ia menyampaikan apresiasi atas pengangkatan kisah itu.
Menurutnya, cerita yang disampaikan Nadia Omara sama persis dengan pengalaman yang dialami anaknya, hanya nama yang disamarkan.
“Dari tempat kejadian, tanggal, hingga peristiwa sama persis dengan yang dialami anak saya. Hanya namanya saja yang berbeda karena disamarkan,” ungkapnya.
Ibunda Karin menegaskan bahwa meski berat, ia tidak keberatan dengan video tersebut.
Ia melihat sisi positif dari perhatian publik terhadap tragedi yang menimpa keluarganya.
Ia juga berterima kasih kepada netizen yang mendoakan anak dan tunangan anaknya.
Dukungan moral itu dianggap sebagai bentuk empati yang membantu keluarga menghadapi kenangan pahit.
Respon keluarga korban menunjukkan bahwa tragedi lama masih meninggalkan jejak mendalam.
Namun, perhatian publik juga memberi ruang bagi keluarga untuk merasakan dukungan sosial.