TRIBUNMANADO.CO.ID - Sorotan publik kini tertuju pada Daycare Little Aresha di Yogyakarta setelah muncul dugaan puluhan anak mengalami kekerasan.
Day care atau daycare adalah layanan penitipan anak yang biasanya beroperasi selama jam kantor atau waktu-waktu tertentu dalam sehari.
Fasilitas ini menyediakan lingkungan yang aman dan terstruktur untuk anak-anak, dengan pengawasan dari staf terlatih.
Perhatian tidak hanya tertuju pada kasusnya, tetapi juga pada sosok pemilik atau pengelola daycare tersebut yang hingga kini masih menjadi tanda tanya.
Identitas pemilik Daycare Little Aresha ramai diperbincangkan masyarakat, bahkan sejumlah nama mulai beredar di media sosial.
Salah satu yang mencuat adalah nama Diyah Kusumastuti, yang oleh beberapa akun anonim disebut sebagai pemilik atau ketua yayasan.
Namun hingga saat ini, belum ada bukti kuat yang dapat memastikan keterkaitan nama tersebut dengan kasus yang sedang diselidiki.
Pihak kepolisian, dalam hal ini Polresta Yogyakarta, juga belum mengumumkan identitas resmi siapa pun, baik tersangka maupun pemilik atau pengelola daycare tersebut.
Dengan demikian, informasi yang beredar mengenai nama tertentu masih sebatas spekulasi di media sosial dan belum dapat dipastikan kebenarannya.
Termasuk klaim bahwa sosok tersebut menjabat sebagai ketua yayasan atau telah diamankan, semuanya belum memiliki konfirmasi resmi dari aparat penegak hukum.
Little Aresha dikenal sebagai lembaga penitipan anak yang beroperasi di wilayah Yogyakarta.
Informasi mengenai lembaga ini salah satunya tercantum di situs lowongan kerja Jobnas.com.
Daycare ini menawarkan layanan pendidikan anak usia dini, meliputi program Playgroup (PG), Taman Kanak-Kanak (TK), hingga Daycare Program Plus yang diklaim menggunakan pendekatan kurikulum inovatif dan menyeluruh.
Tujuan dari program tersebut adalah menciptakan lingkungan belajar yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Para pengasuh di tempat ini disebut memiliki pengalaman serta pendekatan yang ramah terhadap anak.
Selain itu, fasilitas yang ditawarkan juga diklaim cukup lengkap untuk menunjang proses belajar dan stimulasi anak usia dini.
Little Aresha beroperasi enam hari dalam seminggu, yakni Senin hingga Sabtu, dengan jam layanan yang fleksibel mulai sekitar pukul 06.30 hingga 18.00 WIB.
Lokasinya berada di Jalan Pakel Baru Utara, kawasan Sorosutan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Daycare ini menerima anak mulai usia dua bulan hingga sekitar delapan tahun.
Fasilitas yang tersedia meliputi area bermain indoor dan outdoor, ruang tidur ber-AC, serta ruang kelas untuk kegiatan belajar.
Selain itu, tersedia pula layanan konsultasi tumbuh kembang dan kunjungan tenaga medis secara berkala.
Program pembelajaran yang diberikan disesuaikan dengan usia anak, dengan tujuan mengembangkan kemampuan kognitif dan karakter secara menyeluruh.
Sistem layanan juga dirancang fleksibel untuk kebutuhan orang tua, termasuk pilihan waktu penjemputan, program harian, serta penggunaan tiga bahasa dalam pembelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jawa.
Dari informasi sejumlah orang tua, biaya penitipan anak di tempat ini berkisar antara Rp 900 ribu hingga lebih dari Rp 1 juta per bulan.
Fakta mengejutkan kembali terungkap dalam kasus dugaan kekerasan di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Polresta Yogyakarta mencatat jumlah total korban mencapai 103 anak, dengan puluhan di antaranya terkonfirmasi mengalami kekerasan fisik.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian, menjelaskan bahwa ratusan anak tersebut berada dalam rentang usia yang sangat rentan, yakni mulai dari bayi berusia 0 hingga balita.
Berdasarkan data yang dihimpun penyidik, tindakan kekerasan terdeteksi dialami oleh lebih dari separuh total anak yang dititipkan.
“Kalau jumlah semua kita lihat itu 103 anak. Tapi kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya, itu sekitar 53 orang. By data, ya,” ujar Adrian saat ditemui di Mapolresta Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).
Penyelidikan kepolisian mengungkap bahwa daycare Little Aresha setidaknya telah beroperasi selama lebih dari satu tahun.
Sebagian besar pengasuh yang bekerja di tempat tersebut juga diketahui sudah memiliki masa kerja yang cukup lama.
Adrian menyebut jumlah korban ini masih sangat mungkin bertambah seiring dengan pengembangan kasus dan pemeriksaan saksi-saksi tambahan.
Meski demikian, pihak kepolisian belum membeberkan secara rinci motif di balik tindakan keji para pengasuh tersebut.
Tarif yang relatif terjangkau menjadi salah satu alasan utama banyak orang tua tertarik menggunakan jasa penitipan di tempat tersebut.
Saat pertama kali datang, para orang tua juga mendapatkan kesan positif karena disambut dengan sikap ramah dan sopan dari para pengasuh.
Kesan awal itu membuat mereka semakin yakin untuk mempercayakan anak-anaknya di daycare tersebut.
Namun kenyataannya justru berbanding terbalik.
Anak-anak yang dititipkan diduga mengalami perlakuan kekerasan, mulai dari tangan dan kaki yang diikat hingga mulut yang dibungkam.
Salah satu orang tua, Aldewa, mengungkap alasan dirinya memilih menitipkan anaknya di Daycare Little Aresha yang berlokasi di Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DIY.
Daycare ini kini menjadi perhatian luas setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan pada Jumat (24/2/2026).
Penggerebekan tersebut dilakukan menyusul adanya laporan dugaan penganiayaan terhadap anak-anak oleh pihak pengasuh.
Untuk layanan penitipan, ia menyebut dikenakan biaya sekitar Rp 1 juta per bulan.
Anaknya yang kini berusia tiga tahun telah dititipkan di tempat itu selama kurang lebih satu setengah tahun.
Ia menilai tarif tersebut cukup murah jika dibandingkan dengan standar Upah Minimum Kota (UMK) Yogyakarta.
Selain faktor biaya dan ulasan, kepercayaan Aldewa semakin kuat karena sikap pengelola dan para pengasuh yang dinilainya santun dan lembut saat proses pendaftaran.
Ia menyebut ketua yayasan dan para pengasuh memberikan kesan baik dengan cara berkomunikasi yang halus dan ramah.
Selain itu, ia semakin percaya untuk menitipkan anaknya karena sikap dari ketua yayasan dan para pengasuh yang sopan dan lemah lembut saat bertemu dengannya.
"Ditambah Miss D (ketua yayasan) yang menyambut kami dan Miss lain (pengasuh) ketika mendaftar begitu sopan, halus, dan lemah lembut," tuturnya.
Tempat penitipan anak atau daycare Little Aresha di Umbulharjo, Kota Yogyakarta tengah viral.
Pasalnya anak-anak di tempat penitipan itu disebut-sebut menerima penganiayaan dari pengasuhnya.
Foto-foto kaki terikat viral di media sosial.
Parahnya lagi ada anak yang luka hingga tangannya melepuh.
Polisi bahkan menyebut tindakan para pengasuh tak manusiawi.
Hal ini dibongkar oleh seorang korban berinisial A.
A bercerita soal kekerasan yang diterimanya selama dititipkan di daycare Little Aresha kepada ibunya.
Ibu korban kemudian merekam pengakuan tersebut dan mengunggahnya ke media social, TikTok pada Sabtu (25/4/2026).
Di awal video, ibu A bertanya kepada balita perempuan tersebut terkait perlakuan pengasuh yang dipanggil dengan sebutan miss di daycare Little Aresha.
Mengejutkan, A mengaku kaki dan badannya diikat oleh pengasuh.
Tak cuma itu, mulut A juga ditutup agar tangisnnya tak terdengar.
"Waktu di sekolah diapain sama miss-nya?" tanya ibu korban.
"Ditaliin, kaki, badan, terus mulutnya ditutupin," jawab A.
"Biar apa ditutupin mulutnya?" tanya ibu korban.
"Biar gak nangis, biar mama enggak dengar aku nangis," kata A.
Pengakuan A sejalan dengan pernyataan Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizky Adrian.
Rizky Adrian, mengungkapkan saat menggerebek daycare Little Aresha, ia menyaksikan langsung perlakuan tidak manusiawi yang dilakukan pengasuh terhadap anak-anak di lokasi tersebut.
“Petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi. Ada yang kakinya diikat, tangannya diikat, dan sebagainya,” tegas Adrian saat ditemui di Mapolresta Yogyakarta, Sabtu (25/4/2026).
Polisi yang menerima laporan telah melakukan penggerebekan daycare tersebut, lalu menutup operasional dengan memasang police line untuk keperluan penyelidikan.
Salah satu wali murid berinisial HF, tak menyangka bahwa para pengasuh daycare tersebut bertindak keji kepada anak-anak.
Dia sempat menitipkan keponakannya yang berusia 3,5 tahun.
Sejak awal HF telah menaruh curiga bahwa ada hal yang tidak biasa muncul pada diri keponakannya.
Anak tersebut menunjukkan gelagat ketakutan setiap mau berangkat.
"Baru masuk satu hari, di hari kedua anak sudah ketakutan. Setiap mau berangkat selalu bilang tidak mau, enggak mau. Intinya dia takut sekali untuk masuk ke sana," jelasnya, saat ditemui Jumat malam (24/4/2026).
Karena anak merasa ketakutan, kemudian pihak keluarga sampai harus melakukan berbagai cara untuk membujuknya termasuk membelikannya mainan atau makanan kesukaan supaya bersedia dititipkan.
Meski sudah diajak berkeliling dan dibelikan mainan, HF menyebut keponakannya tetap tidak mau dititipkan ke daycare tersebut.
Belakangan diketahui bahwa alasan keponakannya ketakutan lantaran beberapa oknum pengasuhnya galak dan menjurus pada dugaan tindakan kriminal.
"Katanya miss-nya (guru) galak-galak. Awalnya kami pikir karena belum penyesuaian saja, tapi ketakutannya tidak wajar," tambahnya.
Kecurigaan keluarga semakin memuncak setelah mendengar kabar yang beredar mengenai adanya kekerasan fisik yang dialami oleh anak-anak lain di tempat tersebut.
HF menyebut, dirinya mendapatkan informasi bahwa ada anak yang diduga sempat diikat tangannya oleh oknum di penitipan anak tersebut.
"Saya langsung konfirmasi ke kakak saya yang di Jayapura, ternyata memang ada kabar medsos seperti itu. Pantas saja dulu keponakan saya traumanya luar biasa," lanjutnya.
Meski pada keponakannya sendiri tidak ditemukan luka lebam secara fisik, namun HF menyebut jika secara psikis anak tersebut mengalami trauma mendalam.
Alasan keamanan dan kemudahan pantauan keluarga akhirnya membuat pihak keluarga memindahkan sang keponakan ke sekolah lain di daerah Rejowinangun.
*/tribun-medan.com/Tribunnews.com