TRIBUNBATAM.id - Tragedi berdarah melibatkan kakak beradik di Kampung Bedas Utara, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang pada Minggu (26/4/2026).
Muhammad Zul Husni (27), yang meninggal setelah ditusuk adik kandungnya sendiri, Azzidani (18).
Insiden tersebut membuat Azzidani harus menjalani hukuman sesuai dengan aturan.
Ayah korban sekaligus pelaku, Muhammad Aenanto (54) mengaku syok dengan tragedi berdarah yang menimpa kedua anaknya itu.
Kepedihan bahkan masih dirasakan Aenanto setelah tragedi maut tersebut.
“Masih, masih syok. Ini masih memikirkan yang saat ini, belum sampai ke depannya,” ungkap Aenanto kepada Tribunjateng.com, Minggu (26/4/2026).
Aenanto harus menerima kenyataan pahit kehilangan kedua anaknya.
“Korban itu anak saya dan yang pelaku juga anak saya,” kata dia.
Karena masih berduka, Aenanto belum mampu memikirkan langkah selanjutnya.
Keseiharian Aenanto setelah insiden masih berkutat pada duka serta pemulihan mental keluarga.
“Kalau untuk ke depan, jangka panjangnya belum bisa kami pikirkan. Sekarang ini masih masa berduka, masih memulihkan diri,” ungkap dia.
Aenanto lantas menjelaskan bahwa sebenarnya dia memiliki empat orang anak yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan.
Khusus untuk korban tewas merupakan putra pertama, sedangkan pelaku adalah anak ketiga.
Sementara itu, anak keduanya laki-laki dan anak bungsu perempuan yang masih duduk di bangku kelas enam sekolah dasar (SD).
Baca juga: Sakit Hati Anaknya Mau Ditiduri Korban, Pria di Surabaya Tikam Teman Tongkrongan hingga Tewas
Kepedihan Orang Tua
Meski kehilangan anak sulungnya, Aenanto tetap menunjukkan kasih seorang ayah kepada pelaku yang kini harus menjalani proses hukum.
Dia berharap hukuman terhadap anak ketiganya bisa diringankan, dengan pertimbangan usia dan agar menjadi pembelajaran ke depan.
“Harapan saya, anak saya yang sekarang ditahan itu, hukumannya bisa diringankan. Supaya ini jadi pembelajaran, supaya tidak mengulangi lagi,” harap dia.
Lebih dari itu, Aenanto berharap anaknya bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik, terutama dalam bersikap terhadap orang lain.
“Ke depan, saya ingin anak saya bisa berubah, bisa lebih menghargai orang lain, menghargai pendapat orang lain, dan bisa hidup lebih baik dengan keluarga dan lingkungan,” katanya.
Kronologi Kejadian
Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (25/4/2026) sekira pukul 00.03 di Jalan Kakap, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang.
Kasatreskrim Polrestabes Semarang, AKBP Andika Dharma Sena menjelaskan bahwa kejadian bermula saat korban dan pelaku sedang berkumpul bersama rekan-rekannya sambil mengonsumsi minuman keras (miras).
“Jadi mereka ini lagi kumpul-kumpul, minum, ada alkohol juga. Nah, ada omongan kakaknya yang membuat adiknya kurang berkenan,” kata AKBP Andika.
Ucapan yang memicu ketersinggungan itu kemudian berkembang menjadi cekcok.
Namun situasi tidak langsung mereda.
Berdasarkan keterangan saksi, pelaku sempat meninggalkan lokasi, pulang ke rumah, lalu kembali dengan membawa sebilah pisau kecil.
Setelah kembali, pelaku mencari korban yang masih berada di lokasi.
Saat bertemu, pelaku langsung mengejar kakaknya.
Korban sempat berusaha menghindar, namun pelaku menusukkan pisau ke bagian punggung korban.
Luka tusuk sedalam sekira 5,5 sentimeter itu menjadi fatal.
Korban terkapar di jalan sebelum akhirnya ditolong warga dan dilarikan ke RS Pantiwilasa dr Cipto Semarang. Namun nyawanya tak tertolong.
“Sempat dibawa ke rumah sakit, meninggal di rumah sakit,” kata Kasatreskrim.
Pelaku Ditangkap, Proses Hukum Berjalan
Polisi bergerak seusai kejadian. Beberapa jam kemudian, pelaku diamankan dan langsung ditetapkan sebagai tersangka.
Barang bukti berupa sebilah pisau yang digunakan dalam penusukan juga telah disita.
Saat ini, pelaku masih menjalani pemeriksaan intensif.
Kasus itu kini ditangani oleh Polrestabes Semarang bersama Polsek Semarang Utara untuk proses hukum lebih lanjut, termasuk pendalaman terkait konsumsi alkohol dan kondisi psikologis pelaku saat kejadian.
(TribunBatam.id)