BANGKAPOS.COM, BEKASI - Kompas TV berduka. Seorang karyawatinya bernama Nur Ainia Eka Rahmadhynna meninggal dunia dalam tragedi kecelakaan kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Awalnya, keluarga kesulitan menghubungi Nur Ainia karena kehilangan kontak sesaat setelah kecelakaan maut terjadi sekitar pukul 20.45 WIB.
Nur Ainia akhirnya berhasil ditemukan keluarganya setelah sempat melakukan pencarian ke rumah sakit.
Baca juga: Kisah Tragis Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi, Tak Bisa Keluar Gerbong Hingga Ada yang Terlempar
Jenazahnya berhasil diitentifikasi oleh pihak berwenang.
Identitas korban diungkap dalam konferensi pers oleh Rumah Sakit Polri Kramat Jati.
Baca juga: Pesan Nurlela, Guru SD ke Penjaga Sekolah Sebelum Jadi Korban Tewas Tabrakan Kereta di Bekasi
Jenazah Nur Ainia dievakuasi dan diterima pihak RS Polri Kramat Jati sejak Selasa (28/4/2026) dini hari.
Ada 10 jenazah dari total 15 korban meninggal yang sudah berhasil diidentifikasi.
“Jenazah dengan nomor PM 010 teridentifikasi dengan data primer sidik jari dan sekunder dari properti dengan nomor AM 008 sebagai Nur Ainia Eka Rahmadina, 32 tahun, dari Tambun Selatan Bekasi,” ujar Karo Dokpol Polri Brigjen Pol Nyoman Eddy Purnama Wirawan.
Kecelakaan tersebut melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan KRL Commuter Line tujuan Cikarang, yang terjadi pada Senin (27/4/2026) malam.
Peristiwa nahas yang menimpa Nur Ainia terjadi di kawasan Stasiun Bekasi Timur.
Saat kejadian, Nur Ainia diketahui mengenakan pakaian berwarna cerah, dipadukan dengan celana jins serta hijab putih.
Nur Ainia merupakan warga Bekasi yang tinggal di Griya Asri 2 Blok H 14 No. 17, Tambun Selatan.
Selama ini, Nur Ainia dikenal sebagai bagian penting dalam tim operasional di balik layar KompasTV, dengan jabatan News Production Support.
Momen Terakhir Nur Ainia
Adik Nur Ainia bernama Zhafa menceritakan momen terakhir sebelum kakaknya dinyatakan hilang kontak.
Sambil menahan kesedihan, Zhafa menyebut bahwa Nur Ainia sempat pulang kerja sekitar pukul 21.30 WIB dan menghubungi keluarga untuk dijemput.
"Kemudian, abang saya bilang di grup, 'Kak, angkat teleponnya'. Karena hpnya (Nur Ainia) tidak bisa dihubungi."
Namun setelah itu, Nur Ainia tak lagi memberikan kabar. Keluarga pun mulai merasa cemas.
"Saya kira karena memang hp nya tidak aktif. Tetapi, sekitar jam 1 pagi baru tahu kabarnya. Dari pelacakan hp terakhir, posisinya ada di Stasiun Bekasi."
"Dari Subuh, hp kakak masih bisa dihubungi dan Whatsapp nya masih berdering."
"Sekitar jam 7, saya coba hubungi lagi karena hp nya sudah nonaktif," terangnya dalam wawancara dengan BreakingNews TVOne, Selasa (28/4/2026).
Kabar kecelakaan maut KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL baru diketahui keluarga pada malam hari melalui grup percakapan.
"Saya tahu kabar dari Whatsapp grup. Setelah itu, sudah tidak ada kabar lagi dan hp tidak bisa dihubungi. Tidak ada informasi lagi."
Pihak keluarga terus mencari informasi terkait keberadaan Nur Ainia.
"Kakak dan ayah sudah cari di stasiun dan RSUD Kota Bekasi."
"Sehari-hari kakak bekerja di stasiun TV, kemudian karena mungkin dia kerjanya shift jadi pulang tidak tentu. Dia cuma kerja," kata Zhafa.
Kehilangan Sosok Berdedikasi
Pemimpin Redaksi (Pemred) Kompas TV, Yogi Arief Nugraha, menyebut keluarga besar redaksi Kompas TV kehilangan sosok luar biasa Nur Ainia Eka Rahmadhyna.
Nur Ainia merupakan salah satu dari 10 korban meninggal dunia yang berhasil teridentifikasi oleh Tim DVI RS Polri Kramat Jati pada Selasa sore.
"Innalillahi wa inna Ilaihi raji'un. Kami keluarga besar Kompas TV dan redaksi Kompas TV mengalami kehilangan yang luar biasa atas kepergian rekan kami," kata Yogi saat memberikan keterangan di RS Polri, Jakarta Timur, Selasa (28/4/2026).
Yogi mengenang Nur Ainia sebagai personel yang memiliki peranan vital di departemen production support.
Almarhumah bergabung dengan Kompas TV sejak November 2015.
Sepanjang 11 tahun masa baktinya, Nur Ainia dikenal sebagai sosok yang sangat diandalkan, terutama saat siaran langsung di studio.
"Catatan yang luar biasa, tidak pernah ada catatan buruk atas kinerja beliau. Almarhumah juga dikenal luas pergaulannya, dikenal banyak kawannya," ujar Yogi.
Berdasarkan catatan mesin absensi kantor, Nur Ainia meninggalkan gedung Kompas TV pada Senin pukul 19.31 WIB untuk menuju rumahnya di wilayah Tambun, Bekasi.
Namun, dalam perjalanan pulang tersebut, ia menjadi salah satu korban musibah kecelakaan perlintasan yang melibatkan KRL.
"Sekali lagi atas nama keluarga besar Kompas Gramedia, Kompas TV, dan redaksi Kompas TV kami mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya, kehilangan yang sedalam-dalamnya," ungkapnya.
Korban Meninggal Bertambah Menjadi 15 Orang
Korban meninggal dunia dalam tragedi kecelakaan kereta di Bekasi Timur bertambah satu orang menjadi 15 orang.
Sementara itu korban luka-luka tercatat 84 orang.
Rumah Sakit Polri Kramat Jati berhasil mengidentifikasi 10 dari 15 jenazah korban.
Proses identifikasi ini berdasarkan pengambilan data primer milik korban seperti sidik jari dan data sekunder yakni riwayat medis atau barang yang dimiliki.
"Jadi proses identifikasi berdasarkan penggunaan data primer seperti sidik jari atau data sekunder seperti medis dan properti," kata Karodokpol Pusdokkes Polri, Brigjen Nyoman Eddy Purnama Wirawan, dalam konferensi pers di RS Polri, Kramat Jati, Selasa (28/4/2026).
Pada kesempatan yang sama, Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Martinus Ginting, menuturkan bahwa lima jenazah lainnya telah diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan.
Dia mengatakan kelima jenazah tersebut sempat berada di beberapa rumah sakit di Bekasi.
"Kemarin ketika evakuasi kan ada yang dibawa di rumah sakit di sekitar Bekasi, ada yang meninggal yaitu di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Bekasi ada tiga orang (korban meninggal dunia), Rumah Sakit Bella satu orang, Rumah Sakit Mitra Bekasi Timur satu orang."
"Jenazah dari tiga rumah sakit itu kini sudah diserahkan ke pihak keluarga," katanya.
Adapun berikut daftar 10 korban meninggal dunia yang telah berhasil teridentifikasi.
1. Tutik Anitasari (perempuan, 31 tahun, warga Bekasi)
2. Harum Anjasari (perempuan, 27 tahun, warga Cipayung, Jakarta Timur)
3. Nur Alimantun Citra Lestari (perempuan, 19 tahun, warga Jambi)
4. Farida Utami (perempuan, 50 tahun, warga Cibitung, Bekasi)
5. Vica Acnia Pratiwi (perempuan, 23 tahun, warga Cikarang Barat)
6. Ida Nuraida (perempuan, 48 tahun, warga Cibitung, Bekasi)
7. Gita Septiawardani (perempuan, 20 tahun, warga Cibitung, Bekasi)
8. Fatmawati Rahmayani (perempuan, 29 tahun, warga Bekasi Selatan)
9. Arinjani Novitasari (perempuan, 25 tahun, warga Tambun Selatan, Bekasi)
10. Nur Ainia Eka Rahmadynna (perempuan, 32 tahun, warga Tambun Selatan, Bekasi)
Kronologi Kecelakaan
PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi (Daop) 7 Madiun sangat menyayangkan insiden kecelakaan yang melibatkan KA 408 (CL Dhoho) relasi Kertosono–Malang dengan sebuah truk.
Peristiwa tersebut terjadi di JPL 190 Km 120+448, sebuah perlintasan resmi yang terjaga di antara Stasiun Blitar dan Stasiun Garum, pada Selasa (28/4/2026) malam.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika pengemudi truk nekat melintas meski perangkat peringatan dini telah aktif.
"Pada saat sirene peringatan sudah berbunyi dan petugas bersiap menutup palang pintu, truk tersebut tetap melintas," ujar Tohari dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
Tohari memastikan bahwa dalam insiden ini, masinis dan asisten masinis KA Dhoho dilaporkan dalam kondisi selamat tanpa luka-luka. Namun, armada kereta mengalami kerusakan teknis yang cukup signifikan di bagian depan.
"Lokomotif KA 408 mengalami gangguan teknis berupa patahnya plug kran, sehingga kereta sempat tertahan di lokasi kejadian untuk perbaikan sementara," jelas Tohari.
Setelah perbaikan di lokasi selesai pada pukul 22.35 WIB, kereta diperbolehkan bergerak kembali ke Stasiun Blitar dengan kecepatan sangat terbatas, yakni 5 km/jam, dengan pengamanan ketat dari petugas lapangan.
(Kompas.com/Dian Erika Nugraheny, Rachmawati/Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)