TRIBUNBANTEN.COM - Kecelakaan maut KRL di Bekasi Timur menelan korban jiwa hingga 15 orang dan puluhan lainnya luka-luka.
Peristiwa nahas yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi pada Senin (27/4/2026) malam ini diduga berawal saat KRL berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur ketika sedang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang.
Penghentian ini disebabkan oleh adanya temperan mobil taksi listrik dengan rangkaian KRL lain dari arah berlawanan di area perlintasan dekat stasiun.
Saat sedang berhenti, KRL jurusan Cikarang ini tertabrak KA Argo Bromo Anggrek dari belakang.
Seluruh korban meninggal adalah penumpang KRL jurusan Cikarang.
Sementara itu, seluruh 240 penumpang KA Argo Bromo Anggrek dilaporkan selamat.
Salah satu penumpang KRL yang terlibat kecelakaan dengan KA Argo Bromo Anggrek yang selamat, Desi Budianti (50) memberikan kesaksiannya terkait kecelakaan yang terjadi.
Saat dijumpai di Stasiun Bekasi Timur, Desi masih terlihat sedikit terguncang atas kejadian yang baru saja dia alami.
Sambil duduk bersandar di kursi stasiun, Desi sesekali mengobrol dengan orang di kiri dan kanannya dan mengecek layar ponsel.
Malam saat peristiwa nahas terjadi, Desi hendak pulang ke rumahnya di Cikarang setelah dari Jakarta.
Menurut penuturan Desi, KRL merupakan transportasi andalannya untuk beraktivitas di Ibu Kota.
Desi menceritakan suasana di dalam rangkaian kereta yang ia tumpangi saat tertahan di Stasiun Bekasi Timur cukup lama.
Alasan tertahannya KRL yang ia tumpangi karena ada insiden kecelakaan mobil taksi tertemper rangkaian KRL dari arah Cikarang ke Jakarta di perlintasan Jalan Ampera.
"Ternyata kan kereta itu ada yang... ada kesrempet kereta apa ditabrak kereta, tapi di jalur lain, jalur sebelah sana," ucap Desi.
Penumpang di gerbong Desi duduk cukup ramai tetapi tidak padat, keresahan mulai menyelimuti lantaran KRL tertahan sudah cukup lama.
Desi mengungkapkan di tengah keresahan karena menunggu KRL yang tertahan, suasana tiba-tiba riuh setelah suara benturan keras terdengar dari gerbong belakang dari arah datangnya kereta.
"Kereta (KRL) kan berhenti lama, tiba-tiba 'brak' aja suaranya keras," ucap Desi.
Suara bentuan keras itu bahkan sampai membuat sejumlah penumpang KRL terpental, suasana langsung berubah seketika.
"Ya keras lah (suara benturan), orang pada mental semua! Itu bapak-bapak di depan Ibu juga semua mental," jelas dia.
Lampu KRL padam, Desi dan penumpang lain mulai mencari jalan keluar. Hanya satu pintu yang terbuka di gerbong lima.
Desi duduk di kursi prioritas, agak jauh dari pintu yang terbuka. Dia langsung lari menyelamatkan diri bersama penumpang lainnya.
"Kita orang langsung pada nyari keluar. Kan ada sebagian kan gerbong itu pintunya tertutup, di gerbong lima cuma satu doang yang terbuka" ucap dia.
Setelah berhasil keluar dari kereta, Desi dan penumpang lain baru mengetahui kondisi mengerikan terjadi di gerbong paling belakang.
KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong khusus wanita KRL Jakarta-Cikarang, bagian lokomotif kereta jarak jauh itu bahkan meringsek masuk ke dalam gerbong.
Puing dan pecahan kaca berserakan, Desi saat itu belum langsung beranjak pergi. Dia melihat ada sejumlah penumpang kesakitan.
Sebisanya, Desi berusaha menolong seorang wanita yang mengalami luka parah di bagian paha.
"Ibu nolongin dua doang, orang Ibu juga gemeteran gimana melihat cewek itu pahanya semua dagingnya kelupas semua," kata Desi.
Berdasarkan data terakhir yang dihimpun, Kecelakaan maut KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek mengakibatkan empat orang meninggal dunia serta 38 orang dilarikan ke rumah sakit.
Proses evakuasi korban berjalan cukup panjang, petugas gabungan dari SAR, BPBD, PMI dan instansi terkait berusaha mengeluarkan korban yang terjepit di dalam gerbong kereta.