TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan terkait pengelolaan akses di lingkungan Keraton Surakarta Hadiningrat kembali mencuat setelah adanya pergantian gembok di salah satu pintu penting keraton.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), Eddy Wirabhumi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah kembali menggembok Pintu Magangan dengan kunci baru.
Langkah tersebut dilakukan setelah sebelumnya gembok di pintu yang sama diganti oleh kubu Pakubuwono XIV Purboyo.
Situasi ini membuat Pintu Magangan kini dalam kondisi terkunci ganda dengan dua gembok berbeda.
Menurut Eddy, tindakan tersebut bukan sekadar respons spontan, melainkan bagian dari upaya menegakkan aturan yang telah lama berlaku di lingkungan keraton.
Ia menegaskan bahwa seluruh sentono dalem wajib mematuhi ketentuan yang sudah ditetapkan terkait akses keluar masuk.
“Prinsip kita menegakkan aturan. Bahwa pemegang kendali untuk keamanan adalah petugas keamanan. Sudah diganti. Sudah kemarin. Begitu dia ganti, kita ganti lagi,” ungkapnya saat ditemui di kantornya, Rabu (29/4/2026).
Eddy menjelaskan bahwa sistem pengamanan tersebut sebenarnya sudah berjalan sejak lama dan bukan hal baru.
Dalam aturan tersebut, pintu-pintu keraton, termasuk Pintu Magangan, memiliki jadwal operasional yang ketat.
Pintu biasanya ditutup total pada pukul 01.00 hingga 05.00 dini hari, kecuali dalam kondisi tertentu yang memerlukan akses khusus.
“Pintu itu digembok bukan hanya empat hari kemarin. Tapi selama ini memang digembok. Sebetulnya itu pintu belakang. Siapa yang boleh keluar dan masuk ada aturannya. Ada aturannya juga kapan pintu total ditutup, kapan bisa dibuka-tutup. Bahkan pintu depan pun di atas jam 01.00 tutup. Nanti jam 05.00 sudah buka,” jelasnya.
Baca juga: Tak Naik Kereta Kencana, Raja Keraton Solo Malah Naik Mobil Pajero Saat Kirab, Sebut Fungsi Sama
Ia juga menyinggung perubahan kebiasaan terkait parkir kendaraan milik sejumlah sentono dalem dari kubu Sinuhun Purboyo.
Sebelumnya, kendaraan-kendaraan tersebut diparkir di kawasan Talang Paten dekat Sasana Putra.
Namun, dalam beberapa hari terakhir, kendaraan tersebut justru masuk melalui Pintu Magangan yang seharusnya memiliki aturan akses ketat.
“Aturan ini orang keraton sudah tahu semua. Kalau kemudian dikaitkan dengan posisi kendaraan masuk, beberapa bulan tidak di situ. Di Talang Paten dekat Sasana Putra. Ada proses yang terus terang saya nggak tahu, sudah dibuka dan kendaraan masuk.
Gembok diganti, penjaga dikasih kunci. Itu yang sebenarnya nggak benar,” tuturnya.
Baca juga: Keraton Solo Gelar Malam Selikuran Peringati Lailatul Qadr, Bagikan 1000 Tumpeng Gratis
Meski demikian, Eddy menegaskan bahwa pihaknya tidak menutup akses bagi siapa pun selama prosedur yang berlaku tetap dipatuhi.
Menurutnya, setiap individu yang memiliki kepentingan tetap dapat keluar masuk keraton dengan mekanisme yang jelas.
Petugas keamanan memiliki peran penting dalam memastikan setiap akses sesuai dengan standar operasional yang telah ditetapkan.
“Keleluasaan atau izin keluar dan masuk sejauh ikut aturannya tidak ada masalah. Tinggal ngomong sama petugas. Walaupun petugas minta konfirmasi ke petugas yang lain. Di SOP penjagaan ada aturan. Ada pengawasan melekat supaya penjaga tidak semau-maunya. Dia harus melaporkan ke pusat komando penjagaan itu mau buka. Kalau orang keraton sudah tahu kapan boleh keluar atau kapan boleh masuk lagi,” jelasnya.
Dengan penegasan tersebut, pihak LDA berharap seluruh pihak dapat kembali disiplin mengikuti aturan demi menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan keraton.
Sebelumnya, Pengageng Sasana Wilapa PB XIV Purboyo, GKRP Timoer Rumbay Kusuma Dewayani, mengaku mobilnya tak bisa keluar akibat Pintu Magangan digembok dan ia tak mendapat duplikat kuncinya.
Ia juga berujar mobil milik pengageng kubu Pakubuwono XIV Purboyo lainnya juga terjebak di dalam, di antaranya Pangageng Kebudayaan dan Pariwisata GKR Anom Sekar Jati serta Pengageng Pasiten GKR Sekar Kirono.
GKRP Timoer pun mengaku terpaksa harus mengganti gembok agar kendaraannya bisa keluar. Ia pun tetap ingin beritikad baik memberikan duplikat kunci agar pihak LDA bisa ikut mengakses. Namun, berkali-kali gembok kembali diganti dan ia tak mendapat duplikat kunci gembok yang baru.
“Maksudnya kalau saya kan, saya ganti gembok kemudian satu kunci saya berikan mereka supaya mereka juga tetap bisa mengakses.
Nah, kalau mereka nggak seperti itu. Mereka ganti gembok tapi saya nggak dikasih kunci,” ungkapnya saat dihubungi Selasa (28/4/2026).
(Tribunnewsmaker.com/ TribunSolo)