TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Pagi itu, Pekalongan tak sekadar menjadi tujuan perjalanan. Ia menjelma ruang waktu yang terbuka, menghadirkan kembali kisah-kisah lama yang tersimpan di balik bangunan tua, jejak industri, hingga cerita tentang seorang taipan yang pernah berjaya.
Langkah kaki rombongan Jalan Pagi Sejarah (Japas) asal Bogor perlahan menelusuri sudut-sudut kota dan kabupaten Pekalongan, Minggu (20/4).
Sebanyak 35 orang, sebagian besar berusia lanjut, menyusuri jejak sejarah dengan semangat yang tak lekang oleh usia. Bagi mereka, perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan upaya merawat ingatan kolektif.
Dipimpin Johnny Pinot, rombongan menjadikan Pekalongan sebagai salah satu titik penting dalam rangkaian perjalanan sejarah mereka, setelah sebelumnya singgah di Semarang dan Ambarawa.
Perjalanan dimulai dari Museum Batik Pekalongan.
Di tempat ini, ragam motif batik bukan hanya dipajang sebagai karya seni, tetapi juga sebagai penanda perjalanan budaya yang panjang.
Setiap corak menyimpan cerita tentang identitas, perdagangan, hingga akulturasi yang membentuk Pekalongan sebagai Kota Batik.
Langkah kemudian berlanjut ke Pabrik Limun Oriental Pekalongan, saksi bisu geliat industri minuman bersoda sejak 1920.
Jauh sebelum produk global dikenal luas, pabrik ini telah lebih dulu menghadirkan sensasi minuman berkarbonasi bagi masyarakat lokal.
Jejak kolonial terasa kuat, saat rombongan singgah di Benteng Belanda Pekalongan yang kini difungsikan sebagai rumah tahanan.
Dahulu, bangunan ini menjadi pusat pengawasan perdagangan oleh VOC sekaligus pengendali jalur strategis Sungai Loji. Dari sini, denyut ekonomi dan kekuasaan pernah diatur.
Didampingi kreator konten sejarah lokal, Isman Habibilah, perjalanan berlanjut ke Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.
Di wilayah ini, rombongan menemukan jejak kejayaan seorang tokoh yang namanya masih dikenang masyarakat setempat, yakni Hoo Tjien Siong atau Bah Zing Zong.
Mausoleum atau makam miliknya berdiri megah, memadukan arsitektur Eropa dan Tionghoa.
Dinding, lantai, hingga langit-langitnya dilapisi marmer, mencerminkan kemakmuran yang pernah diraih sang konglomerat pada masanya.
Keheningan di sekitar makam seakan menyimpan kisah panjang tentang kejayaan, kerja keras, dan perjalanan hidup seorang pengusaha besar di Pekalongan.
Tak jauh dari lokasi tersebut, rombongan juga menyambangi kawasan pasar dan terminal Doro.
Warga setempat menuturkan, area itu dulunya merupakan lahan milik Bah Zing Zong yang difungsikan sebagai pabrik es batu.
Jejaknya masih tersisa berupa sumur umbul, yang hingga kini tetap mengalir jernih dan dimanfaatkan masyarakat.
"Dulu waktu saya kecil masih melihat pabrik beroperasi. Kami sering memunguti es batu yang jatuh saat diangkut ke truk," kenang seorang warga.
Bagi Japas, Pekalongan bukan sekadar kota batik atau kota santri.
Wilayah ini menyimpan lapisan sejarah yang kaya, mulai dari perkembangan industri, pengaruh kolonial, hingga kisah tokoh lokal yang memberi warna dalam perjalanan daerah.
Menurut Pinot, potensi sejarah tersebut layak mendapat perhatian lebih serius. Dengan pengelolaan yang tepat, Pekalongan berpeluang menjadi destinasi wisata edukasi berbasis sejarah yang kuat dan berdaya saing.
"Sepertinya harus ada perjalanan khusus ke Pekalongan. Karena satu hari belum cukup untuk mengupas semuanya," ujarnya.
Ia menegaskan, sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cermin untuk memahami masa kini dan menata masa depan. Dari Pekalongan, rombongan Japas belajar bahwa setiap sudut daerah menyimpan cerita, tinggal bagaimana manusia mau mendengar dan merawatnya. (Indra Dwi Purnomo)