TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Satreskrim Polres Tulungagung masih menyelidiki kematian Sukati (64), di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Rabu (15/4/2026) silam.
Hingga saat ini polisi belum bisa menyimpulkan, apakah perempuan yang bekerja sebagai penjual sayur di Pasar Tamanan ini mengakhiri hidupnya sendiri, atau dihabisi orang lain.
Kasat Reskrim Polres Tulungagung, Iptu Andi Wiranata Tamba, mengaku sudah 3 kali melakukan gelar perkara namun belum bisa mengambil kesimpulan.
“Tiga kali gelar perkara belum bisa memastikan apakah dibunuh atau bunuh diri. Mohon doanya agar cepat bisa disimpulkan,” ujarnya.
Baca juga: Persik Kediri Takluk 0-1 di Kandang, Pelatih Marcos Reina Soroti Ketimpangan Keputusan Wasit
Sebelumnya Satreskrim berulang kali mendatangi lokasi kejadian untuk mengumpulkan data, atau mencocokkan temuan terbaru.
Andi mengaku masih butuh waktu untuk melakukan pendalaman lebih lanjut.
Pihaknya juga sudah mendapatkan hasil autopsi jenazah Sukati dari dokter forensik RSUD dr Iskak.
“Hasil autopsi sudah keluar, namun kami butuh pendapat dokter spesialis dan dokter umum untuk melakukan analisa. Dokter nantinya yang akan menyimpulkan, apakah dibunuh atau bunuh diri,” tegasnya.
Saat ini sudah ada 6 orang saksi yang dimintai keterangan penyidik Satreskrim Polres Tulungagung.
Empat orang dari unsur keluarga, yaitu kedua anak korban dan dua menantunya.
Satu saksi adalah tetangga korban dan satu lainnya adalah teman korban sesama pedagang di Pasar Tamanan.
“Kami mendalami, mungkin selama bekerja di pasar korban ini ada konflik dengan pedagang lain,” sambung Andi.
Sejauh ini polisi tidak menemukan indikasi konflik yang serius dalam keluarga.
Polisi hanya mendapati perbedaan pendapat yang bersifat umum ditemukan dalam keluarga.
Sedangkan saksi yang secara spesifik ada di lokasi saat kejadian masih belum ditemukan penyidik.
“Kami juga sudah memeriksa CCTV di sekitar lokasi, keluar masuknya orang. Semua wajar saja,” ungkapnya.
Lebih jauh Andi mengakui ada sejumlah kejanggalan dalam kematian korban, namun tidak menjelaskan kejanggalan itu.
Ia hanya mengaku masih butuh waktu untuk membuktikan kejanggalan itu.
Kematian Sukati menjadi isu liar di tengah masyarakat.
Bahkan hingga penjual sayur keliling pun ikut membahasnya.
Masyarakat awam ini khawatir Sukati menjadi korban pembunuhan.
“Lima sayatan di leher aneh kalau dilakukan korban sendiri. Kalau niatnya bunuh diri, masa dengan cara menyayat leher sendiri?” ujar seorang penjual sayur.
Sementara tetangga korban ada yang khawatir jika Sukati meninggal karena dibunuh.
Mereka khawatir jika kasus ini tidak diungkap, pelakunya akan membahayakan orang lain.
Sebelumnya Sukati ditemukan meninggal bersimbah darah di balai-balai tempat tidurnya yang ada di dapur rumahnya.
Polisi menemukan pisau dapur tidak jauh dari tempat tidurnya.
Hasil autopsi mendapati lima sayatan benda tajam di leher sebelah kiri.
Sayatan itu memutus nadi leher sebelah kiri yang menyebabkan Sukati kehabisan darah.
Sementara pada pergelangan tangan kiri ditemukan tanda bekas gigitan manusia.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)