Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Kabar bahwa Pusat Grosir Solo (PGS) dijual tengah menjadi sorotan di kalangan pedagang.
Isu ini mencuat setelah para pelaku usaha di dalam pusat perbelanjaan tersebut mengaku sudah mendapat informasi terkait rencana pergantian pengelola dalam waktu dekat.
Kondisi ini juga dibarengi dengan persoalan lain, yakni lonjakan harga sewa kios yang dinilai semakin memberatkan pedagang.
Salah satu pedagang batik di PGS, Hendra Fendi, mengatakan bahwa kabar PGS akan berpindah kepemilikan sudah ia dengar sejak beberapa minggu terakhir.
Menurutnya, informasi tersebut juga telah disampaikan kepada para pedagang lainnya.
“Dalam 1-2 bulan ini mungkin. Ada komunikasi. Dari owner lama tidak meneruskan. Masa sewanya sudah habis,” ungkapnya.
Di tengah ketidakpastian tersebut, para pedagang berharap investor baru yang akan mengambil alih pengelolaan PGS dapat menetapkan kebijakan yang lebih berpihak kepada pelaku usaha kecil.
Hendra menegaskan bahwa harga sewa yang ideal harus mempertimbangkan kondisi pasar saat ini.
“Kita berharapnya investor baru bisa lebih bijak pengelolaannya. Terjangkau sesuai dengan kondisi. Yang relevan yang masuk akal,” terangnya.
Salah satu persoalan utama yang dikeluhkan pedagang adalah kenaikan harga sewa kios yang dinilai tidak wajar.
Banyak pedagang akhirnya terpaksa tidak memperpanjang kontrak karena tidak sanggup menanggung biaya yang tinggi, terlebih dengan kondisi jumlah pengunjung yang menurun.
“Semua pedagang PGS tidak ada yang mau pindah. Cuma kan terpaksa pindah harga yang ditawarkan nggak masuk akal. Bisa 2-3 kali lipat dari harga normal. Satu stand bisa sampai Rp 70-100 juta untuk satu tahunnya. Apalagi kondisi yang tambah menurun,” terangnya.
Kondisi ini membuat sebagian pedagang memilih pindah ke lokasi lain meski dengan konsekuensi menghadapi pasar yang juga belum stabil.
Baca juga: Nasib Pedagang PGS di Solo: Terseok-seok Gegara e-Commerce, Satu Kios Cuma Raih Omzet Rp4 Juta/Bulan
Untuk merespons situasi tersebut, pihak manajemen sebelumnya menawarkan opsi sewa jangka pendek.
Skema ini dinilai lebih fleksibel dan masih dapat dijangkau oleh sebagian pedagang.
“Waktu itu sempat kontrak 20 tahun sudah habis. Sebagian pertama kali harganya tinggi pedagang banyak yang melanjutkan. Ternyata disewakan lagi dengan jangka waktu lebih pendek jadi lebih terjangkau. Sampai saat ini sudah berjalan seperti biasa. Saya perpanjang sampai 6 bulan, sampai Juli. Sampai mencari investor baru,” tuturnya.
Opsi ini menjadi solusi sementara sambil menunggu kepastian investor baru yang akan mengelola PGS ke depan.
Baca juga: Kesaksian Pedagang Batik PGS soal Lesunya Pasar Tradisional Solo : Satu Rombongan Cuma Beli 1 Daster
Menariknya, sebagian pedagang yang sudah pindah ke pusat perdagangan lain seperti Beteng Trade Center (BTC) dan Pasar Klewer disebut masih ingin kembali ke PGS.
Alasannya, kondisi penjualan di lokasi tersebut juga dinilai lesu.
“Banyak yang pengen balik. Tempat lain pun sepi juga seperti BTC, Klewer. Sepinya juga minta ampun. Masih lebih baik kondisi PGS. Pengunjungnya masih ada dan niat beli. Berharapnya investor yang baru bisa meneruskan konsep yang sudah ada,” jelasnya.
(*)