TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Kabupaten Klaten di Jawa Tengah memang terkenal sebagai “kota seribu umbul”.
Namun di antara deretan wisata air populer, masih ada satu destinasi tersembunyi yang belum banyak tersentuh wisata massal, yaitu Umbul Kroman.
Terletak di Desa Mranggen, Kecamatan Jatinom, Umbul Kroman menjadi salah satu hidden gem yang menawarkan suasana alami, tenang, dan jauh dari keramaian.
Baca juga: 5 Rekomendasi Kafe Estetik di Tawangmangu Karanganyar, Nongkrong dan Ngopi dengan View Alam Indah
Lokasinya berjarak 40 kilometer dari Pusat Kota Solo, bisa ditempuh kurang lebih 1 jam 16 menit kendaraan pribadi.
Umbul Kroman merupakan sumber mata air alami dengan air yang sangat jernih.
Dasar kolamnya berupa pasir dan bebatuan yang bisa terlihat jelas dari permukaan.
Sesekali gelembung air muncul dari dasar, menandakan sumber mata air masih aktif dan alami.
Kedalaman umbul berkisar antara 75–100 cm, sehingga aman untuk sekadar berendam atau berenang santai.
Suasana sejuk dan segar membuat banyak pengunjung merasa seperti memiliki kolam pribadi.
Keunikan Umbul Kroman tidak hanya pada airnya, tetapi juga lingkungannya.
Lokasinya tersembunyi di antara pepohonan hijau dan perkampungan warga.
Di samping umbul, terdapat aliran sungai kecil yang mengalir jernih dan menyatu dengan embung desa, menciptakan lanskap alami yang menenangkan.
Menariknya, aktivitas warga seperti mencuci di aliran air masih terlihat, menunjukkan bahwa Umbul Kroman tetap menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Alam di Sukoharjo : Waduk Mulur Spot Terbaik Nikmati Senja, Bisa Sambil Memancing
Berbeda dengan banyak wisata air lain di Klaten, Umbul Kroman hingga kini belum dikelola secara komersial besar-besaran.
Pengelolaannya berbasis ekowisata, sehingga keaslian alam tetap terjaga.
Pihak desa dan masyarakat setempat menekankan pentingnya menjaga kebersihan serta tidak merusak kondisi alami umbul.
Bahkan, struktur kolamnya masih berupa susunan batu tanpa semen, menjaga karakter asli sumber mata air.
Meski masih sederhana, Umbul Kroman sudah dilengkapi fasilitas dasar seperti:
Lokasinya juga berdekatan dengan Embung Mranggen, sehingga bisa dikunjungi sekaligus dalam satu perjalanan wisata.
Baca juga: 5 Rekomendasi Hotel Estetik di Solo Jateng : Suasana Nyaman dan Punya Spot Fotogenik
Umbul Kroman mendapat nama dari kata "umbul", yang berarti mata air, dan "Kroman", yang merujuk pada letaknya di Dukuh Kroman, Desa Mranggen.
Sumber mata air ini telah dimanfaatkan oleh warga sekitar sejak lama.
Pada masa lalu, terutama sebelum adanya sumur, air dari Umbul Kroman digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci.
Bahkan, pada tahun 1970-an, air dari umbul ini menjadi sumber air bersih utama bagi masyarakat Mranggen, terutama pada musim kemarau.
Saat ini, meski sudah ada sumur dan sistem air bersih lain, Umbul Kroman tetap digunakan oleh warga sekitar untuk berbagai aktivitas, termasuk mencuci dan sesirihan (berendam di air untuk tujuan spiritual).
Umbul Kroman bukan hanya dikenal karena keindahannya, tetapi juga karena berbagai mitos yang berkembang di masyarakat sekitar.
Salah satunya adalah kepercayaan bahwa perempuan yang berenang di umbul ini akan memancarkan aura kecantikan.
Bagi sebagian orang, mandi di Umbul Kroman dipercaya bisa memberikan aura positif yang menyegarkan, terutama bagi mereka yang baru menikah atau pendatang dari luar desa.
Namun, ada pantangan yang harus diperhatikan oleh para pengunjung.
Salah satunya adalah larangan bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk berenang di umbul.
Menurut kepercayaan setempat, jika pantangan ini dilanggar, akan muncul ular kecil di sela-sela bebatuan di dasar umbul, yang pernah dilihat warga sekitar pada 2018.
Meskipun mitos ini belum terbukti, namun warga setempat tetap menjaga kepercayaan dan tradisi tersebut.
Untuk menikmati pengalaman yang lebih nyaman di Umbul Kroman, disarankan untuk berkunjung pada pagi atau sore hari.
Pada pagi hari, udara masih sejuk dan suasana lebih tenang, cocok untuk memulai hari dengan semangat baru.
Sementara pada sore hari, cahaya matahari yang perlahan tenggelam menciptakan pemandangan indah yang menenangkan.
(*)