BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi (Stamet) Syamsudin Noor menjelaskan terkait fenomena awan berwarna pelangi yang sempat terlihat di langit kawasan Banjarmasin belum lama tadi. 

Kepala Stamet Syamsudin Noor, Ota Welly Jenny Thalo, fenomena yang terjadi itu disebut cloud iridescence atau yang dikenal sebagai awan iridescent atau awan berwarna pelangi. 

Kepala Stamet Syamsudin Noor juga memastikan bahwa fenomena ini tidak berbahaya dan murni merupakan proses optik alami di atmosfer. 

Lanjut Ota, fenomena ini terjadi ketika sinar matahari mengenai awan yang terdiri dari tetesan air atau kristal es berukuran sangat kecil dan relatif seragam. 

Baca juga: Distribusi MBG di Kantor Kelurahan Rantau Kiwa Tapin, 91 Penerima Manfaat Rasakan Dampaknya

Proses ini menyebabkan panjang gelombang cahaya terpisah dan menghasilkan spektrum warna seperti pelangi yang tampak pada bagian tepi awan.

“Fenomena ini umumnya muncul pada jenis awan tipis seperti altocumulus atau cirrocumulus, terutama ketika posisi matahari berada di belakang atau sedikit tertutup oleh awan tersebut. Oleh karena itu, cloud iridescence sering terlihat pada waktu pagi atau sore hari, ketika sudut datang cahaya matahari lebih rendah dan kondisi atmosfer memungkinkan terjadinya difraksi secara optimal,” jelasnya.

Sebelumnya, viral di media sosial kemunculan fenomena awan pelangi atau iridesensi awan di langit Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kemunculan fenomena iridesensi awan ini pun menimbulkan kekaguman lantaran kecantikan warnanya yang menyerupai pelangi.l pada Senin (4/5/2026) pada waktu sore hari.

Dalam unggahan video terlihat kemunculan awan yang berwarna warni diantaranya merah muda, hijau, kuning, hingga ungu yang saling bercampur bak pelangi.

Serupa di Bogor

Kejadian serupa terjadi di Bogor. Warga di kawasan Sentul City, Jonggol, hingga Cileungsi dibuat takjub sekaligus bertanya-tanya pada Jumat (1/5/2026) siang.

Fenomena langit dengan gradasi warna merah muda, hijau, hingga ungu muncul menghiasi gumpalan awan, menciptakan pemandangan layaknya 'awan pelangi'.

Peristiwa ini terpantau sekitar pukul 14.00 WIB, saat kondisi langit awalnya cerah sebelum kemudian muncul lapisan awan tipis dengan spektrum warna lembut. Keindahan tak biasa ini berlangsung sekitar 30 menit sebelum akhirnya hujan turun di beberapa titik.

Ryan Herlambang (21), warga Bogor, mengaku terkejut saat melihat pelangi samar muncul di balik awan tebal. Ia menyebut banyak orang spontan menengadah ke langit setelah menyadari keindahan tersebut.

AWAN BERWARNA - Awan berwarna-warni terpantau di langit kawasan Jonggol, Bogor, pada Jumat (1/5/2026).
AWAN BERWARNA - Awan berwarna-warni terpantau di langit kawasan Jonggol, Bogor, pada Jumat (1/5/2026). (Tribunnews.com/Tribunnewsbogor.com)

Lantas, apakah ini pertanda akan datangnya badai besar?

Bukan Mistis, Ini Penjelasan Ilmiah "Cloud Iridescence"

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bergerak cepat menenangkan masyarakat. Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menegaskan bahwa fenomena ini murni peristiwa optik atmosfer dan bukan pertanda bencana.

“Ini bukan tanda badai atau kejadian berbahaya. Fenomena tersebut berkaitan dengan proses pembiasan cahaya Matahari oleh butiran air di atmosfer,” jelas Ida dalam keterangan tertulis, Sabtu (2/5/2026).

Secara ilmiah, fenomena ini disebut sebagai Awan Iridesensi. Berbeda dengan pelangi yang berbentuk busur, iridesensi tampak seperti warna-warni yang 'tumpah' mengikuti bentuk awan.

Secara ilmiah, fenomena ini dikenal sebagai awan iridesensi (cloud iridescence). Berbeda dengan pelangi biasa yang membentuk busur sempurna, warna pada iridesensi cenderung menyebar mengikuti bentuk awan dan tampak lebih lembut.

BMKG juga menjelaskan bahwa kemunculan awan iridesensi justru sering berkaitan dengan pertumbuhan awan konvektif yang dapat memicu hujan lokal.

Hal ini sejalan dengan kondisi di lapangan, di mana sebagian wilayah Sentul masih cerah sementara daerah sekitarnya telah mengalami peningkatan kelembapan atau hujan ringan.

BMKG menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemunculan awan berwarna-warni tersebut.

Namun, warga diimbau untuk tidak menatap langsung ke arah Matahari saat mengamati fenomena, guna menghindari risiko kerusakan pada mata akibat paparan cahaya yang kuat.

Bagi warga Bogor, kemunculan awan pelangi ini menjadi pengalaman langka yang memperlihatkan bagaimana proses fisika sederhana di atmosfer mampu menghadirkan keindahan alam yang memukau.

(Banjarmasinpost.co.id/Rizki Fadillah)

 

Baca Lebih Lanjut
Viral Awan Pelangi Muncul di Langit Jonggol Bogor, BMKG: Bukan Tanda Bahaya
Detik
Jonggol Jadi Pusat Perhatian Setelah Muncul Awan Pelangi
Detik
Ramai Awan Warna-warni di Bogor, BMKG sebut Bukan Pertanda Bencana, Ini Awal Mula Terbentuknya
Amalia Husnul A
Suhu Udara di Indonesia pada Akhir Pekan Capai 37,1 °C, Hampir Seluruh Wilayah Merah
Desy Selviany
Daftar Wilayah Indonesia yang Mulai Masuk Musim Kemarau Mei 2026 Versi BMKG
Arie Noer Rachmawati
Fenomena Langka, Gumpalan Awan Turun ke Permukaan Tanah di Pidie
Mufti
Benarkah Mei Paling Panas 2026? Ini Penjelasan BMKG soal Suhu Ekstrem
Heriani AM
Sampai Kapan Puncak Suhu Panas? ini Penjelasan BMKG
Arie Noer Rachmawati
Waspada Cuaca Ekstrem Meningkat, Peringatan Dini BMKG Potensi Awan Cumulonimbus hingga 5 Mei 2026
Rizky Zulham
Makassar Masih Kerap Diguyur Hujan di Tengah Kemarau, Ini Penjelasan BMKG
Ari Maryadi