TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati mengatakan generasi Z mendominasi jumlah penduduk terbanyak di Jawa Barat.
Ari sapaan akrabnya mengatakan, berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 jumlah penduduk Jawa Barat sebanyak 50,94 juta jiwa.
Adapun rinciannya Gen Z sebanyak 12,84 juta orang (25,22 persen), milenial sebanyak 12,62 juta orang (24,76 persen), Gen X sebanyak 10,11 juta orang (19,85 persen), Post Gen Z sebanyak 9,82 juta orang (19,28 persen), dan Baby Boomer sebanyak 5,08 juta orang (9,97 persen).
“Sekitar 69,26 persen penduduk Jawa Barat merupakan Gen Z, Milenial dan Post-Gen Z,” kata Ari, di Kantor BPS Jawa Barat, Jalan PHH Mustofa No 43, Kota Bandung, Selasa (5/5/2026).
Ari menjelaskan, dibandingkan jumlah penduduk pada saat Sensus Penduduk 2020 yang sebanyak 48,27 juta jiwa atau naik 1,12 persen.
Di sisi lain, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Jawa Barat tahun 2025 yang mencapai angka 0,434, turun 0,024 poin dari tahun sebelumnya.
Dikatakannya, penurunan ini menunjukkan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan di dimensi kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja yang semakin mengecil.
“Angka IKG Provinsi Jabar sejak 2022 membaik secara signifikan. Namun demikian ketimpangan gender di Jawa Barat masih cukup lebar, namun semakin membaik.”, ujar Ari.
Ari merinci, terdapat 16 kabupaten/kota memiliki angka IKG dibawah provinsi dan 11 kabupaten/kota berada di atas angka provinsi.
“Kota Tasikmalaya menjadi daerah yang memiliki perbaikan ketimpangan terbesar dari 0,354 menjadi 0,203 atau turun sebesar 0,151 poin. Perbaikan ini didorong oleh dimensi pemberdayaan perempuan,” katanya.
Sedangkan Kabupaten Sumedang menjadi daerah yang mengalami kenaikan ketimpangan tertinggi dari 0,217 menjadi 0,391 poin.
Peningkatan IKG di Kabupaten Sumedang disebabkan oleh peningkatan indikator Melahirkan Hidup Tidak di Fasilitas Kesehatan (MTF) dan penurunan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan.
Ari menuturkan, komposisi penduduk Provinsi Jabar masih didominasi usia produktif.
“Kelompok umur 15–64 tahun mencapai 69,75 persen, sementara usia 0–14 tahun sebesar 23,05 persen, dan usia 65 tahun ke atas sebanyak 7,20 persen,” katanya.
Rasio ketergantungan Jawa Barat tercatat 43,38. Artinya, setiap 100 orang usia produktif harus menanggung sekitar 43 hingga 44 penduduk usia nonproduktif.
Jawa Barat, kata dia, kini mulai memasuki fase ageing population. Persentase penduduk lanjut usia (60 tahun ke atas) mencapai 11,51 persen dan terus meningkat di hampir seluruh kabupaten/kota.
Kabupaten Ciamis menjadi daerah dengan persentase lansia tertinggi, yakni 17,77 persen. Sementara itu, Kabupaten Bekasi mencatat angka terendah sebesar 8,06 persen.
Angka Kelahiran Total (TFR) Jawa Barat juga mengalami penurunan menjadi 2,05. Angka ini berada di bawah tingkat penggantian (replacement level) sebesar 2,10.
“Hal ini menunjukkan rata-rata perempuan usia 15–49 tahun melahirkan sekitar dua anak selama masa reproduksinya,” imbuhnya.
Penurunan ini terutama dipicu oleh turunnya angka kelahiran pada kelompok usia 15–19 tahun dan 20–24 tahun.
“Kota Bandung merupakan daerah dengan TFR terendah sebesar 1,82, sedangkan Kabupaten Garut tertinggi dengan 2,32. Disparitas ini mencerminkan perbedaan sosial, budaya, ekonomi, serta akses layanan kesehatan reproduksi,” ujar Ari.
Ari mengatakan, SUPAS 2025 juga mencatat angka kematian bayi (IMR) sebesar 12,84 per 1.000 kelahiran hidup.
Angka ini turun lebih dari setengah dibandingkan hasil SP2010.
Artinya, terdapat sekitar 12 hingga 13 kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup, yang menunjukkan peningkatan peluang hidup bayi pada tahun pertama.
“Angka Kematian Bayi (IMR), Angka Kematian Anak (CMR), dan Angka Kematian Balita (U5MR) terus menurun, meski masih menghadapi tantangan disparitas antarwilayah,” ujarnya.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong pemerataan kebijakan harus menjadi perhatian serius. (*)