TRIBUNNEWS.COM - Hantavirus kini menjadi sorotan setelah adanya wabah di kapal pesiar internasional yang menewaskan 3 orang penumpang, dan terkonfirmasi melibatkan strain yang dapat menular antar manusia, sesuatu yang sangat jarang terjadi. 

Perbandingan antara Hantavirus dan COVID-19 pun semakin banyak dibicarakan.

Baik Hantavirus maupun coronavirus merupakan virus RNA yang mampu menyebabkan penyakit serius.

Namun, keduanya memiliki perbedaan signifikan dalam hal penularan, tingkat keparahan, dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.

Bagaimana Virus Ini Menyebar?

Mengutip Times Now, Rabu (6/5/206), menurut Dr. Mala Kaneria, Konsultan Penyakit Menular di Rumah Sakit dan Pusat Penelitian Jaslok India, perbedaan utama kedua virus terletak pada cara penularannya.

Hantavirus terutama menyebar melalui hewan pengerat.

Penularan antarmanusia sangat jarang terjadi.

Sementara itu, COVID-19 menyebar dengan cepat antarmanusia melalui tetesan pernapasan dan aerosol.

Kontak dekat, keramaian, serta pembawa tanpa gejala membuat virus ini sangat menular dan mampu memicu wabah global.

“Hantavirus dan coronavirus sama-sama merupakan virus RNA berselubung yang mampu menyebabkan penyakit signifikan pada manusia, terutama memengaruhi sistem pernapasan. Namun, keduanya memiliki perbedaan penting dalam cara penyebaran, asal-usul, dampak terhadap kesehatan masyarakat, dan tingkat kematian,” kata Kaneria.

HANTAVIRUS - Foto ilustrasi tikus yang diambil dari situs bebas royalti Pexels. Tiga penumpang kapal pesiar meninggal dunia akibat dugaan wabah hantavirus di Samudra Atlantik. (Pexels)

Baca juga: Afsel Identifikasi 2 Kasus Hantavirus Menular Antarmanusia, Terkait Klaster Hondius

Gejala dan Perbedaan Klinis

Kedua infeksi ini pada awalnya dapat menimbulkan gejala mirip flu, seperti demam, kelelahan, dan nyeri otot. Namun, perkembangan penyakit dan komplikasinya berbeda.

Sindrom Paru Hantavirus dapat berkembang cepat hingga menyebabkan gangguan pernapasan berat dan penumpukan cairan di paru-paru.

Beberapa strain juga dapat menyebabkan Demam Hemoragik dengan Sindrom Ginjal yang memengaruhi fungsi ginjal serta memicu komplikasi seperti penurunan jumlah trombosit.

Sementara itu, COVID-19 memiliki spektrum klinis yang lebih luas, mulai dari kasus ringan atau tanpa gejala hingga pneumonia berat, sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS), dan komplikasi multi-organ.

Tingkat keparahannya sering bergantung pada usia, penyakit penyerta, dan kondisi sistem imun pasien.

Virus Mana yang Lebih Mematikan?

Para ahli menilai Hantavirus umumnya lebih mematikan jika dilihat per kasus.

Tingkat kematian Sindrom Paru Hantavirus dapat mencapai 30–40 persen sehingga tergolong kondisi medis yang sangat serius.

Di sisi lain, COVID-19 memiliki tingkat kematian keseluruhan yang lebih rendah, yakni sekitar 0,5 hingga 2 persen.

Meski demikian, COVID-19 telah menyebabkan jauh lebih banyak kematian secara global karena penyebarannya sangat cepat dan memiliki potensi pandemi.

“Coronavirus memiliki dampak global yang jauh lebih besar karena tingkat penularannya tinggi, sementara hantavirus tetap jarang tetapi parah,” ujar Dr. AK Shukla, Konsultan Dokter Senior di Rumah Sakit Kailash.

Potensi Pandemi

Salah satu perbedaan terbesar kedua virus terletak pada potensi pandeminya.

COVID-19 menunjukkan bagaimana virus dapat menyebar ke seluruh dunia dengan cepat melalui penularan antarmanusia, mobilitas global, dan keberadaan kasus tanpa gejala.

Sebaliknya, penyebaran Hantavirus lebih terbatas karena bergantung pada kondisi lingkungan tertentu yang melibatkan hewan pengerat sebagai inang.

Hal itu membuat kemungkinan wabah berskala luas menjadi lebih kecil.

Bagaimana Hantavirus Bisa Menyebar di Kapal Pesiar MV Hondius

Dugaan wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Samudra Atlantik memunculkan pertanyaan mengenai bagaimana penyakit langka tersebut dapat menyebar di antara penumpang dan awak kapal.

Sekitar 150 orang dilaporkan masih berada di kapal setelah tiga penumpang meninggal dunia.

Meski umumnya menular melalui kontak dengan kotoran tikus yang terkontaminasi, pejabat kesehatan menyebut penularan antarmanusia tetap mungkin terjadi, meskipun sangat terbatas.

Hal itu kemungkinan menjadi salah satu penjelasan dalam kasus ini, menurut Maria Van Kerkhove, Direktur Kesiapsiagaan dan Pencegahan Epidemi serta Pandemi World Health Organization.

“Kami percaya mungkin ada penularan antarmanusia di antara kontak sangat dekat, seperti suami dan istri atau orang-orang yang berbagi kabin,” kata Van Kerkhove dalam konferensi pers Selasa (5/5/2026), dikutip CBS News.

Pernyataan itu merujuk pada pasangan suami istri yang meninggal akibat dugaan Hantavirus setelah berada di MV Hondius.

WHO menyebut investigasi, protokol karantina, dan pelacakan kontak masih berlangsung untuk mengetahui asal wabah serta mencegah penyebaran lebih lanjut.

Dalam konferensi pers tersebut, Van Kerkhove mengatakan pasangan itu kemungkinan tertular virus saat menjelajahi satwa liar di Argentina sebelum mengikuti pelayaran.

Ia menambahkan WHO masih berasumsi bahwa sumber virus berasal dari luar kapal.

“Pelayaran itu berhenti di banyak pulau di sepanjang pantai Afrika dan terdapat berbagai satwa liar di pulau-pulau tersebut. Beberapa pulau memiliki banyak hewan pengerat, sementara yang lain tidak,” ujar Van Kerkhove.

“Jadi, mungkin ada beberapa sumber infeksi lain di pulau-pulau tersebut untuk kasus-kasus dugaan lainnya.”

Pasien yang Meninggal dan Jatuh Sakit

RUTE PELAYARAN - Tangkap layar BBC memperlihatkan rute pelayaran dan kronologi pasien MV Hondius yang meninggal dan jatuh sakit.
RUTE PELAYARAN - Tangkap layar BBC memperlihatkan rute pelayaran dan kronologi pasien MV Hondius yang meninggal dan jatuh sakit. (tangkapan layar)

Mengutip Sky News, terdapat delapan kasus dugaan atau terkonfirmasi Hantavirus setelah seorang pria dinyatakan positif di Swiss.

Dari jumlah tersebut, tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami gejala penyakit.

Dilansir BBC.com, berikut kronologi penyebaran virus:

1 April 2026: Kapal MV Hondius berangkat dari Ushuaia, Argentina.

11 April: Penumpang pertama, pria Belanda berusia 69 tahun, meninggal dunia.

24 April: Jenazah penumpang pertama dan istrinya dievakuasi dari St Helena ke Johannesburg, Afrika Selatan.

26 April: Sang istri meninggal dunia di Johannesburg.

27 April: Penumpang lain jatuh sakit dan diterbangkan ke rumah sakit di Johannesburg.

2 Mei: Penumpang lain meninggal dunia di kapal.

3 Mei: Kapal tiba di Cape Verde.

6 Mei: Seorang pria Swiss dinyatakan positif Hantavirus.

Mengutip WRAL News, otoritas Swiss pada Rabu (6/5/2026) menyatakan seorang pria yang baru kembali dari Amerika Selatan dan sempat berada di kapal pesiar tersebut positif terinfeksi Hantavirus dan sedang menjalani perawatan.

Namun, otoritas Swiss tidak menjelaskan secara rinci kapan pria tersebut berada di atas kapal MV Hondius yang kini berlabuh di lepas pantai Cape Verde.

Kantor Kesehatan Masyarakat Federal Swiss menyebut pria itu kembali ke negaranya setelah melakukan perjalanan dengan kapal pesiar yang memiliki sejumlah kasus Hantavirus.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

Baca Lebih Lanjut
Lebih dari 100 Orang Terdampar di Kapal Pesiar akibat Wabah Hantavirus, Seorang Penumpang Buka Suara
Endra Kurniawan
Apa Itu Hantavirus, Infeksi yang Menewaskan 3 Orang di Kapal Pesiar?
Endra Kurniawan
Apa itu hantavirus yang mewabah di sebuah kapal pesiar?
Tribunnews
Wabah Hantavirus Tewaskan Tiga Orang di Kapal Pesiar, Ancaman Pandemi Baru?
Glery Lazuardi
Ditakutkan Bisa Seperti Covid-19? Virus Hanta Bukan Penyakit Baru
Desy Selviany
WHO konfirmasi adanya kematian akibat hantavirus di kapal pesiar
Antaranews
IDAI sebut imunisasi rutin bisa cegah KLB penyakit menular
Antaranews
Respons WHO pasca Hantavirus Muncul di Kapal Pesiar Atlantik: Risiko Penularan Antar Manusia Rendah
Anita K Wardhani
Fakta Kasus Virus Hanta di Kapal Pesiar Tewaskan 3 Orang, WHO Sebut Risiko Rendah
Amirullah
Banjir satu meter lebih rendam Kebon Pala, Jaktim
Antaranews