Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Hadirnya jembatan apung kepala hiu di Pante Lhong, Peusangan, Bireuen kembali mengingatkan masyarakat pada sejarah lama penyeberangan sungai di kawasan tersebut.
Pada era 1970-an, warga setempat hanya mengandalkan sampan dan perahu kecil untuk menyeberang dari Pante Lhong menuju Pante Baro Kumbang, Peusangan Siblah Krueng.
Saat itu, belum ada jembatan gantung maupun jembatan rangka baja yang menghubungkan desa-desa di sekitar Peusangan.
Keuchik Pante Lhong, Murizal mengenang masa itu sebagai periode penuh tantangan, di mana akses antarwilayah sangat bergantung pada transportasi air sederhana.
Perkembangan infrastruktur kemudian menghadirkan jembatan gantung pada tahun 1979, yang menjadi penghubung penting antara Pante Lhong dan Kubu.
Selanjutnya pada 1997–1998, dibangun jembatan rangka baja Lhong.
Baca juga: VIDEO - Jembatan Apung Kepala Hiu Peusangan Resmi Beroperasi
Setelah pemekaran wilayah Aceh Utara dan Bireuen pada 1999, jembatan tersebut resmi beroperasi dan menjadi jalur vital masyarakat.
Namun, akhir tahun 2025, jembatan rangka baja Pante Lhong rusak parah akibat banjir bandang. Kehancuran itu membuat warga kembali kesulitan menyeberang.
Hingga akhirnya jembatan apung kepala hiu hadir sebagai solusi modern yang menyesuaikan dengan kondisi alam.
Jembatan apung ini dirancang fleksibel.
Saat arus sungai deras, jembatan dilepas sehingga bergeser ke pinggir, lalu ditarik kembali menggunakan mobil dengan kopling dan seling ketika air tenang.
Mekanisme ini memungkinkan jembatan tetap aman meski sungai membawa sampah atau kayu besar.
Menurut Murizal, keberadaan jembatan apung bukan sekadar sarana penyeberangan, tetapi juga simbol kebangkitan masyarakat dalam menghadapi tantangan alam.
Kehadirannya mengulang sejarah lama dengan versi berbeda--dari sampan tradisional menuju teknologi apung modern.
Baca juga: VIDEO - Satgas Gulbancal Kodim Aceh Tengah Bangun Jembatan Apung di Linge
Selain memudahkan mobilitas warga, jembatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya infrastruktur yang adaptif terhadap kondisi lingkungan.
Kehancuran jembatan rangka baja akibat banjir bandang menunjukkan bahwa pembangunan harus mempertimbangkan faktor alam secara serius.
Kini, dengan jembatan apung kepala hiu, masyarakat Pante Lhong dan sekitarnya kembali memiliki akses vital untuk aktivitas sehari-hari.
Sekaligus menghidupkan kembali kenangan masa lalu dalam bentuk yang lebih modern dan aman.(*)