TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Rentetan kecelakaan maut yang terjadi hanya dalam hitungan hari di jalur nasional antara Desa Ciberung, Kecamatan Ajibarang, hingga Desa Cikawung, Kecamatan Pekuncen, Kabupaten Banyumas, memunculkan kegelisahan warga.
Korban berjatuhan di hari dan lokasi yang berdekatan.
Warga sampai menggelar doa bersama dan melakukan pengecoran jalan secara swadaya di titik yang dinilai rawan kecelakaan, pada Minggu (10/5/2026) malam.
Baca juga: BREAKING NEWS: Pasutri Lansia Tewas Tertabrak Mobil di Cilongok Banyumas
Desa Ciberung dan Cikawung adalah wilayah yang dilintasi Jalan Nasional Rute 6 yang menghubungkan Tegal di jalur Pantura dengan Cilacap di jalur selatan Jawa.
Kepala Desa Ciberung, Sigit Pramono, mengatakan kegiatan doa bersama digelar sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap rangkaian kecelakaan lalu lintas yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di wilayah Ciberung dan sekitarnya.
"Acara hari ini digelar oleh masyarakat sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap kecelakaan beruntun yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Warga berinisiatif mengadakan doa bersama," ujar Sigit kepada Tribunbanyumas.com, Senin (11/5/2026).
Ia menceritakan, rangkaian kecelakaan bermula dari insiden di wilayah Desa Cikawung pada malam Jumat minggu lalu.
Dalam kejadian itu, ada satu korban sempat dirawat di rumah sakit sebelumnya yang akhirnya meninggal dunia.
Tak lama berselang, kecelakaan kembali terjadi dan melibatkan warga Desa Ciberung.
Dalam satu malam, seorang warga mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia.
Keesokan harinya, dua kecelakaan kembali terjadi dalam satu hari di wilayah Desa Ciberung dan Cikawung.
"Kecelakaan pagi hari melibatkan dua ibu-ibu. Satu korban mengalami luka ringan, sedangkan satu lainnya mengalami patah tulang. Kemudian siangnya, ada anak sekolah yang meninggal dunia. Lokasinya hanya berjarak sekitar 150 meter dari lokasi kecelakaan sebelumnya," katanya.
Menurut Sigit, kecelakaan beruntun tersebut terjadi dalam rentang satu minggu terakhir.
"Kalau tidak salah mulai Minggu lalu. Intinya dalam minggu kemarin itu cukup sering terjadi kecelakaan," ujarnya.
Ia menyebut jalur tersebut memang sudah lama dikenal rawan kecelakaan, bahkan sejak kondisi jalan masih berupa aspal sebelum dilakukan pengecoran jalan nasional.
"Dulu juga sering terjadi kecelakaan, terutama saat awal musim hujan atau gerimis. Jalur ini memang termasuk jalur rawan kecelakaan," katanya.
Adapun titik yang kerap terjadi kecelakaan berada di sepanjang jalur dari kawasan Jembatan Timbang hingga wilayah Desa Cikawung, bahkan sampai arah perbatasan Brebes.
"Kalau untuk wilayah yang sering terjadi kecelakaan itu dari Jembatan Tonjong sampai Cikawung," jelasnya.
Meski dikenal rawan, Sigit menilai kondisi jalan nasional tersebut sebenarnya cukup baik.
Namun, tingginya volume kendaraan besar menjadi salah satu faktor yang diduga memicu kecelakaan.
"Jalannya sebenarnya bagus. Tapi memang jalur ini padat, menjadi penghubung selatan dan utara. Kendaraan besar, truk, dan bus menuju Jakarta atau Cirebon banyak melintas di sini, terutama sore menjelang magrib," ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kondisi perbedaan tinggi antara badan jalan utama dengan sisi jalan di pinggirnya yang dinilai berbahaya bagi pengendara motor.
"Biasanya pengendara motor, terutama anak sekolah, menyalip lewat kiri saat ada kendaraan besar. Ketika hendak naik lagi ke badan jalan utama, sering kali kehilangan kendali karena kondisi jalan tidak rata," jelasnya.
Menurut Sigit, pola kecelakaan seperti itu sudah terjadi setidaknya tiga kali di lokasi yang sama.
Dua kejadian di antaranya menyebabkan korban meninggal dunia.
Sebagai bentuk kepedulian, warga RW 3 Desa Ciberung akhirnya bergotong royong melakukan pengecoran sederhana di bagian jalan yang dinilai membahayakan pengendara.
"Masyarakat RW 3 Ciberung swadaya menyemen bagian jalan yang tidak rata itu karena khawatir kembali memakan korban," pungkasnya.
Di sisi lain, marak pula isu yang berkembang di media sosial terkait anggapan jalur tersebut "meminta tumbal".
Namun, Sigit menilai kabar itu hanya berkembang dari cerita warga yang menyebar dari mulut ke mulut.
"Ada yang cerita seperti itu, ada juga yang bilang ada yang menyebar uang atau bunga di lokasi kejadian.
Tapi saya sendiri tidak pernah melihat langsung. Kadang cerita seperti itu berkembang dan dilebih-lebihkan," katanya. (jti)
Baca juga: Cerita Saksi Lihat Mobil Pengangkut Oksigen "Ugal-ugalan" Sebelum Hajar 2 Pemotor di Banyumas