TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA - Wahana flying fox di Embung Parong, Desa Ambawang, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, kini menjadi daya tarik baru wisata alam yang ramai dimintai masyarakat.
Wahana tali temali tersebut digagas oleh Sawali atau yang akrab disapa Bang Wali sebagai upaya menghadirkan pengalaman wisata menantang di kawasan yang sebelumnya dikenal sebagai wisata air itu.
Seorang pengunjung asal Pontianak, Dewi (34), mengaku penasaran mencoba wahana flying fox setelah melihat banyak unggahan viral di TikTok dan Instagram.
Rasa penasaran itu akhirnya membawanya datang langsung ke Embung Parong untuk merasakan sensasi meluncur di atas lembah kawasan wisata tersebut.
“Karena viral juga di TikTok dan Instagram, jadi penasaran pengen coba,” ujarnya kepada Tribunpontianak.co.id, pada Minggu 10 Mei 2026.
Meski sempat merasa pusing karena belum terbiasa dengan ketinggian dan cuaca panas, Dewi menilai pengalaman pertamanya bermain flying fox terasa seru dan memberikan kepuasan tersendiri.
Baca juga: TRAGEDI Pasar Malam Air Upas: Pengelola Tegaskan Telah Uji Coba Keamanan Wahana 3 Hari
“Seru, cuma karena nggak biasa tinggi jadinya agak mabuk. Ditambah cuacanya panas,” katanya.
Baginya, sensasi meluncur di ketinggian menjadi pengalaman baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Kayak ada kepuasan sendiri, oh ternyata begini rasanya. Seru karena ini sesuatu yang baru,” ungkapnya.
Dewi juga menilai sistem keamanan wahana cukup baik. Sebelum bermain, setiap pengunjung diberikan briefing serta arahan dari petugas mengenai teknik dan keselamatan selama bermain flying fox.
“Safety-nya aman. Sebelum mulai kami diajarin dulu, terus saat di atas juga tetap diarahkan petugas. Tinggal siapin mental sama diri sendiri aja,” katanya.
Menurut Dewi, wahana dengan tarif Rp150 ribu tersebut terasa cukup menantang bagi pemula yang belum pernah mencoba flying fox dengan ketinggian serupa.
“Kalau yang sudah sering mungkin biasa aja, tapi buat pemula kayak saya ini tinggi banget dan luar biasa,” ujarnya.
Namun ia menilai akses menuju Embung Parong masih cukup membingungkan bagi pengunjung baru.
Banyaknya persimpangan di kawasan perkebunan sawit membuat pengunjung yang belum familiar dengan daerah tersebut berpotensi salah jalan.
“Kalau yang belum pernah ke sini lumayan susah, karena jalannya banyak simpang di area sawit. Kalau nggak tahu bisa nyasar,” katanya.
Sementara itu, Sawali mengatakan ide menghadirkan wahana flying fox bermula dari tren aktivitas tali temali yang mulai berkembang di Indonesia sepanjang 2025 hingga 2026.
Menurutnya, tren tersebut awalnya populer di negara-negara Barat sebelum akhirnya diminati masyarakat Indonesia.
“Karena di Kubu Raya ini belum ada spot yang kayak gini. Selain itu juga karena hobi,” ujar Sawali.
Ia menjelaskan, wahana flying fox di Embung Parong mulai dibuka sejak Maret lalu dengan sistem operasional dua minggu sekali.
Selain flying fox, kawasan wisata tersebut juga menawarkan berbagai aktivitas lain seperti kano, wisata air terjun yang berada sekitar 10 meter dari lokasi, hingga pendakian menuju Bukit Wangkang dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.
Sawali menyebut Embung Parong sebelumnya hanya dikenal sebagai wisata air.
Inspirasi membangun flying fox muncul saat dirinya menggelar kegiatan sekolah dan aktivitas bermain air di kawasan tersebut.
Saat melihat panorama lembahan di sekitar embung, ia menilai lokasi itu cocok dijadikan wahana wisata alam yang menantang.
“Ternyata sampai sekarang masih menjadi tren,” katanya.
Dalam proses pembangunan, tantangan terbesar menurutnya berada pada pemasangan bentangan tali sepanjang 200 meter.
Wahana tersebut menggunakan tali karmantel dan diklaim menjadi yang pertama di Kubu Raya, Pontianak, bahkan Kalimantan Barat karena umumnya flying fox menggunakan sling baja.
“Kalau flying fox biasanya pakai sling baja, sedangkan ini menggunakan tali karmantel,” jelasnya.
Sejak pertama kali dibuka, sekitar 100 orang tercatat mengikuti wahana tersebut. Hingga kini jumlah pengunjung yang sudah mencoba diperkirakan mencapai 400 hingga 500 orang.
Baca juga: DUGAAN Penyebab Ambruknya Wahana Rainbow Slide Pasar Malam di Air Upas Ketapang 5 Korban Luka-luka
Dengan tarif Rp150 ribu per orang, pengunjung mendapatkan paket lengkap berupa wahana flying fox, tiket masuk area wisata, toilet, makan gratis, coffee break berupa kopi dan teh, hingga area parkir.
Ke depan, Sawali berharap keberadaan wahana flying fox dapat membantu mengangkat potensi wisata daerah di Kubu Raya agar semakin berkembang.
“Sejak adanya wahana ini, Embung Parong tidak pernah sepi pengunjung,” ungkapnya.
Bagi masyarakat yang ingin mencoba wahana tersebut, pendaftaran dilakukan secara online melalui TikTok maupun Instagram dengan menghubungi admin.
Tingginya minat masyarakat membuat kuota pendaftaran kerap penuh dalam satu hari setelah dibuka.
Dalam sekali operasional setiap hari sabtu-minggu, pengelola menargetkan sekitar 35 peserta dengan kapasitas maksimal 40 orang, khususnya saat akhir pekan.