TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Keterbatasan fisik tak membuat pasangan suami istri difabel asal Kabupaten Kediri menyerah pada keadaan. Di usia yang tak lagi muda, Sujinah (61) dan suaminya, Sugito tetap produktif menjalankan usaha kerajinan kain perca dari rumah sederhana mereka.
Usaha yang diberi nama “Trimo Luwung Collection” atau dikenal sebagai KKP (Kerajinan Kain Perca) itu telah mereka tekuni selama lebih dari 10 tahun terakhir. Dari tangan keduanya, limbah kain yang semula dianggap tak bernilai disulap menjadi berbagai produk rumah tangga hingga aksesoris.
Beragam hasil kerajinan mereka mulai dari keset, dompet, tas, celemek, pengait tali masker, tatakan gelas dan teko, bantal leher hingga scrunchie (ikat rambut) berhasil dipasarkan sampai luar kota.
"Ini produksinya juga apron sama topi, terus ada kemoceng rajut juga," ujar kata Sujinah saat menunjukkan hasil karyanya di rumah, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Polres Kediri Kota Siap Kawal Musim Giling 2026, Distribusi Tebu Diprediksi Padat
Siapa sangka, usaha itu lahir dari titik terberat dalam hidup Sujinah. Pada 2015 lalu, ia mengalami kecelakaan saat menghadiri acara keluarga di Jawa Tengah.
Saat itu, usai salat subuh di masjid, Sujinah terpeleset hingga membuat tangan dan kakinya tak lagi bisa digerakkan secara normal.
"Saat di masjid itu terpeleset, jadi tangan dan kaki saya itu enggak bisa digerakkan," kenangnya.
Sejak kejadian tersebut, aktivitas Sujinah berubah total. Ia yang sebelumnya masih bisa bepergian menggunakan sepeda motor dan sepeda, walaupun dengan alat bantu tongkat untuk berjalan, kini harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas sehari-hari.
"Kata petugas medisnya disarankan lebih aman pakai kursi roda gitu loh. Jadi saya enggak malu ke mana-mana pakai kursi roda," katanya.
Kondisi itu sempat membuat pesanan jahitannya menurun drastis. Padahal, sejak muda Sujinah sudah berkecimpung di dunia jahit dan rajut.
Ia mengaku mulai belajar menjahit sejak SMP dan semakin menekuninya saat SMA. Bahkan sebelumnya ia sempat menerima pesanan seragam sekolah dan menjadi instruktur jahit di sebuah lembaga pelatihan kerja.
Namun di tengah keterbatasan fisik, Sujinah memilih mencari jalan lain agar tetap produktif. Ia mulai memanfaatkan kain-kain sisa untuk dijadikan kerajinan bernilai jual.
"Karena saya enggak bisa jalan ke mana-mana naik kursi roda terus saya cari jalan pintas (aktivitas - red) yang ringan," ucapnya.
Di sisi lain, sang suami Sujinah juga menyandang difabel dengan salah satu kakinya harus dibantu menggunakan tongkat untuk alat jalan. Meski begitu keduanya tetap semangat dalam menjalani hidup dan tak pernah putus asa.
Bahan baku kain perca didapat dari sejumlah wilayah seperti Plemahan, Wates dan Pagu. Tak jarang teman-temannya juga ikut membantu dengan memberikan sumbangan kain maupun bahan jilbab yang tak terpakai.
Dalam proses produksi, Sujinah dibantu sang suami. Ia menjadi sosok yang merancang ide dan model produk, sedangkan Sugito membantu proses menjahit hingga finishing.
"Yang bikin inspirasi saya, terus bapak yang eksekusi jahitnya," ujarnya sambil tersenyum.
Usaha mereka kini perlahan berkembang. Produk hasil kerajinan kain perca itu bahkan sudah dipasarkan hingga luar daerah seperti Jombang, Malang bahkan pernah dibawa keluar Pulau Jawa.
"Alhamdulillah sampai luar kota," katanya.
Harga produk yang dijual pun cukup terjangkau. Mulai dari jampel seharga Rp 5 ribu, tatakan mangkok dan teko Rp 10 ribu, hingga tas dengan harga Rp 25 ribu sampai Rp 45 ribu tergantung model.
Tak hanya itu, Sujinah juga pernah menerima pesanan dalam jumlah besar. Salah satunya saat mendapat order 150 tas dari Dinas Sosial.
"Dua minggu selesai pengerjaan," katanya.
Baca juga: Alami Cedera Punggung, Siswi SMK Sore Dievakuasi Damkarmat Tulungagung dari Lantai Dua
Dari hasil usaha tersebut, Sujinah dan Sugito mampu membantu kebutuhan keluarga hingga membiayai pendidikan anak mereka sampai kuliah.
"Alhamdulillah motivasi ini saya mengurus, membiayai anak sekolah sampai sekarang kuliah ini alhamdulillah enggak ada kendala," ungkapnya.
Di tengah segala keterbatasan, Sujinah tetap menyimpan semangat besar untuk terus berkarya dan menginspirasi orang lain agar tidak mudah menyerah pada keadaan.
"Walaupun keadaan disabilitas terbatas, tapi usahanya tidak boleh terbatas, semangat," pesannya.
Kini, pasangan difabel itu terus bermimpi mengembangkan usahanya. Sujinah ingin menciptakan model-model tas kain perca yang lebih modern dan mengikuti perkembangan tren pasar agar usahanya terus bertahan dan berkembang.
"Yang penting semua berkah dan halal," ucap Sugito.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)