BANGKAPOS.COM, BANGKA - Reli harga timah dunia terus berlanjut sepanjang 2026.
Dalam perdagangan di London Metal Exchange (LME), harga timah pada 13 Mei 2026 tercatat mencapai 54.812 dolar AS per metrik ton, mendekati level tertinggi tahun ini.
Jika dikonversikan menggunakan kurs dolar AS terhadap rupiah yang menyentuh Rp17.503 per dolar AS, maka harga timah logam kini berada di kisaran Rp959.374.436 per metrik ton atau setara Rp959.374 per kilogram.
Kenaikan harga ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi sektor pertambangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang selama ini dikenal sebagai pusat ekspor timah dunia.
Tren penguatan harga sebenarnya telah berlangsung sejak 2025.
Pada awal Maret 2026, harga timah sempat menembus 57.425 dolar AS per metrik ton sebelum terkoreksi hingga mendekati 41 ribu dolar AS pada pertengahan Maret.
Namun harga kembali rebound dan terus bergerak naik hingga pertengahan Mei 2026.
Ekspor Timah Babel Melonjak
Kenaikan harga global berdampak langsung terhadap nilai ekspor timah Bangka Belitung.
Badan Pusat Statistik mencatat, nilai ekspor timah pada Januari–Maret 2026 mencapai 479,08 juta dolar AS, naik dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar 324,66 juta dolar AS.
Artinya terjadi lonjakan ekspor sebesar 154,42 juta dolar AS.
Jika dikonversikan menggunakan kurs rata-rata Januari–Maret 2026 sebesar Rp16.810 per dolar AS, maka kenaikan nilai ekspor tersebut setara sekitar Rp2,59 triliun.
Tiongkok masih menjadi pasar utama timah asal Bangka Belitung.
Pada Februari 2026, sekitar 61,38 persen ekspor timah dikirim ke negara tersebut dengan nilai mencapai 84,74 juta dolar AS.
Korea Selatan dan Singapura berada di posisi berikutnya dengan kontribusi masing-masing sebesar 12,85 persen dan 7,61 persen. Selanjutnya disusul Belanda dan Italia.
Secara keseluruhan, lima negara tujuan utama tersebut menyerap 91,20 persen total ekspor timah Bangka Belitung dengan total nilai mencapai 256,98 juta dolar AS pada Februari 2026.
Secara tahunan atau year on year (yoy), ekspor timah ke lima negara tujuan utama tumbuh 62,74 persen.
Pertumbuhan tertinggi terjadi ke Italia yang melonjak hingga 516,61 persen.
Sementara ekspor ke Tiongkok naik 97,59 persen dan Korea Selatan tumbuh 38,89 persen.
Di sisi lain, Singapura dan Belanda mengalami kontraksi masing-masing sebesar 23,84 persen dan 0,94 persen.
Harga Tinggi Dongkrak Kinerja PT Timah
Reli harga timah dunia juga menjadi katalis utama peningkatan kinerja PT Timah Tbk (TINS).
Perusahaan tambang timah milik negara itu membukukan laba bersih sebesar Rp1,5 triliun pada kuartal I 2026 atau melonjak 1.184 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp116,85 miliar.
Secara kuartalan, laba perseroan juga naik 90,08 persen dibanding kuartal IV 2025 sebesar Rp711,21 miliar.
Pendapatan perusahaan tercatat melonjak 160,5 persen menjadi Rp5,47 triliun dari sebelumnya Rp2,1 triliun. Lonjakan tersebut ditopang kenaikan produksi, peningkatan volume penjualan, serta harga timah global yang terus menguat.
Produksi timah olahan naik 82 persen menjadi 5.630 metrik ton, sedangkan volume penjualan meningkat 113 persen menjadi 6.009 ton.
Perseroan juga menikmati kenaikan harga jual rata-rata sebesar 51 persen menjadi 49.221 dolar AS per ton.
Ekspor masih mendominasi penjualan PT Timah dengan kontribusi mencapai 97 persen.
China menjadi pasar terbesar dengan porsi 48 persen, diikuti India 11 persen, Korea Selatan 10 persen, Italia 6 persen, Singapura 5 persen dan Belanda 4 persen.
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan pencapaian tersebut merupakan hasil strategi efisiensi dan optimalisasi operasional yang dijalankan perusahaan.
“Kinerja keuangan yang solid pada kuartal pertama didukung pencapaian operasional yang signifikan dan optimalisasi berkelanjutan di seluruh lini bisnis,” ujarnya.
(Bangkapos.com/Teddy Malaka)