TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Rencana pembangunan Jembatan Turan Mas mulai dipersiapkan sebagai jalur alternatif untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas yang selama ini bertumpu pada satu titik utama di wilayah perkotaan Kabupaten Malinau Kalimantan Utara.
Proyek infrastruktur ini dirancang sebagai solusi atas tingginya volume kendaraan yang melintasi jembatan baja di Kecamatan Malinau Kota menuju wilayah utara dan Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau.
Rencananya, Pemkab Malinau akan melengkapi seluruh dokumen pendukung, mulai dari kajian peruntukan kawasan hingga administrasi perizinan sebelum memasuki pengerjaan teknis dari penghubung yang nantinya bersumber dari APBD Malinau.
Sekretaris Daerah (Sekda) Malinau, Ernes Silvanus menjelaskan langkah pembukaan konektivitas baru ini bertujuan untuk memperpendek jarak tempuh masyarakat antar wilayah.
Baca juga: Dana Pembangunan Jembatan Krayan Baru Cair Rp50 Miliar, Gubernur Kaltara Tunggu Anggaran Kemenkeu
"Jembatan Turan Mas ini lagi persiapan. Sudah kita mempersiapkan dokumen. Nanti tim teknis secara teknis akan dikoordinasikan ke PU. Kita ada rencana membangun jembatan di Turan Mas sesuai arahan Pak Bupati untuk membuka akses baru," ujarnya.
Ernes Silvanus yang pernah jadi Camat Malinau Barat menyampaikan usulan tersebut telah disampaikan sejak bertahun-tahun sebelumnya, karena kekhawatiran beban Jembatan Malinau Kota sebagai satu-satunya penghubung ruas jalan nasional antarkabupaten.
Pembangunan jembatan ini diproyeksikan akan membuka akses dari Kecamatan Malinau Barat tepatnya berada di Desa Tanjung Lapang menuju ruas jalan nasional poros Malinau Utara-Nunukan.
Pemilihan kawasan Turan Mas sebagai lokasi pembangunan didasarkan pada pertimbangan teknis, salah satunya karena bentang sungai di titik tersebut cenderung lebih pendek.
“Kenapa di daerah Turan Mas? Karena jalurnya lebih pendek dan pinggirannya batu, jadi harapan kita lebih kokoh,” katanya.
Kondisi fondasi di lokasi rencana pembangunan memiliki struktur batuan yang stabil sehingga dinilai lebih aman untuk konstruksi bangunan jembatan permanen.
"Karena beban untuk jembatan Malinau Kota itu sudah terlalu tinggi untuk menangani semua wilayah utara dan Mentarang. Harapan kita nanti kalau ada jembatan di tengah antara kota dan Desa Singai Terang, itu bisa membagi beban dan memendekkan jarak tempuh," katanya.
Proyek strategis daerah ini dijadwalkan masuk dalam daftar program pembangunan tahun 2027 untuk memperkuat konektivitas dan mendukung pemerataan ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
(*)
Penulis : Mohammad Supri