SURYA.CO.ID, BONDOWOSO - Polemik mencuat di SDN Kotakulon 1 Bondowoso setelah seorang guru dilaporkan ke polisi atas dugaan penganiayaan terhadap siswa. Di tengah proses hukum tersebut, puluhan wali murid lain justru menyuarakan keresahan terkait perilaku siswa yang menjadi pusat persoalan.
Guru yang dilaporkan diketahui bernama Rolis Julian Afandi. Laporan dibuat oleh wali murid siswa berinisial AZ, yakni Ahmad, terkait dugaan penganiayaan yang disebut terjadi pada Rabu (13/5/2026).
Menurut Ahmad, persoalan bermula saat anaknya terlibat perselisihan dengan teman sekolah ketika jam olahraga. Setelah itu, AZ dibawa ke ruang kepala sekolah yang saat itu kosong.
"Disitu katanya itu mulutnya ditarik, ngomong salah dikit ditarik lagi mulutnya itu," jelas Ahmad.
Ia mengaku semakin tidak terima karena anaknya disebut “bencong” oleh guru tersebut.
Baca juga: Pemkot Surabaya Bangun Peternakan Ayam, Target 30 Ribu Ekor per Panen
“Kamu bencong ya kalau tidak bencong, tidak akan nangisan. Anak saya kan memang nangisan," ujarnya.
Selain itu, Ahmad juga menyebut anaknya sempat tidak diperbolehkan membeli minuman saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) berlangsung.
“Kalau laporan penganiayaan itu,” katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Rolis Julian Afandi membantah tuduhan penganiayaan terhadap siswa tersebut.
Menurutnya, ia hanya membawa AZ kembali ke sekolah untuk ditenangkan setelah siswa itu menangis dan tantrum sejak pagi.
“Dia nangis (tantrum, red) sejak pukul 8 pagi sampai jam 11 siang,” katanya.
Rolis menjelaskan sejumlah guru telah berupaya menenangkan siswa tersebut, namun membutuhkan waktu cukup lama hingga akhirnya AZ kembali mengikuti pelajaran di kelas.
Namun tak lama kemudian, siswa itu kembali mengamuk di kelas 2 tempat adiknya belajar sehingga membuat murid lain berhamburan keluar kelas.
Situasi itu membuat AZ kembali dibawa ke ruang guru hingga jam pelajaran selesai.
Terkait tudingan soal MBG, Rolis mengatakan siswa tersebut tetap menerima makanan, namun justru membantingnya di kelas.
Kasus tersebut kemudian memicu reaksi dari wali murid lainnya. Sebanyak 39 orang tua siswa kelas 4A menandatangani petisi yang meminta sekolah mencari solusi terkait perilaku AZ.
Mereka mengaku aktivitas belajar mengajar terganggu dan khawatir terhadap keselamatan anak-anak di sekolah karena siswa tersebut dinilai sering berkata kasar dan bertindak agresif.
Ketua Komite SDN Kotakulon 1 Bondowoso, Eko Suprianto, menilai persoalan itu perlu disikapi secara menyeluruh agar tidak semakin meluas.
Menurutnya, komite kini berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk meredam situasi yang mulai berdampak pada lingkungan sekolah.
“Karena itu, kami akan menyikapinya lebih intens lagi. Apalagi sampai ada siswa-siswa yang tidak mau belajar gara-gara dampak persoalan ini,” tegasnya.
Ia mengatakan dampak polemik tersebut tidak hanya menjadi konflik internal, tetapi juga mulai memengaruhi psikologis siswa lain.
Beberapa siswa disebut enggan masuk sekolah maupun mengikuti pembelajaran karena suasana yang berkembang.
“Harapan kami, yang jelas kami ingin yang terbaik untuk semuanya. Terbaik versi komite adalah kami harus menjaga nama baik institusi sekolah,” tandasnya.