TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Soni Sopian (24) masih sulit melupakan detik-detik tragis tenggelamnya tiga bocah SD di Pantai Piwang, Ranai, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Kamis (14/5/2026).
Hingga kini, bayangan anak-anak yang awalnya tertawa dan bermain air di pesisir pantai itu masih terus teringat di benaknya.
Padahal siang itu, suasana Pantai Piwang terlihat biasa saja.
Cuaca memang mendung, namun enam bocah yang berenang di pesisir pantai tampak menikmati hari libur nasional mereka.
Saat itu dirinya berada tidak terlalu jauh dari lokasi para korban berenang.
Soni bersama pacarnya menjadi orang pertama yang mengetahui pristiwa tragis itu dan mengevakuasi dua korban ke daratan.
“Yang saya sesali itu sebelum teman-temannya datang minta tolong, memang tidak ada suara apa pun. Tidak ada teriakan minta tolong sama sekali,” ujar Soni kepada TribunBatam.id, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, kondisi Pantai Piwang siang itu sebenarnya terlihat normal, meski cuaca sedikit berangin dan mendung.
Mereka berenang di kawasan pesisir yang sekilas terlihat dangkal dan aman.
Suasana itu bahkan sempat ia tangkap dengan kamera ponselnya, yang juga memperlihatkan sejumlah bocah tengah sibuk berenang dan bermain air.
"Niatnya saya foto-foto pemandangan saja. Pas pulang ke rumah baru saya sadar kalau di foto itu kelihatan mereka sedang berenang," ungkapnya.
Namun tanpa disadari, kawasan tersebut ternyata memiliki kontur dasar laut yang berbahaya.
“Kalau dari bibir pantai sampai sekitar 20 meter itu masih aman dan datar. Tapi setelah itu ada bagian yang turun mendadak dan arusnya cukup kuat,” katanya.
Soni menduga tiga korban terseret ke bagian yang lebih dalam akibat kondisi dasar laut yang tidak rata.
Apalagi saat itu kondisi air beranjak ingin surut dan angin cukup kencang.
Ia memperkirakan jarak lokasi korban tenggelam dari bibir pantai mencapai sekitar 70 meter.
"Kalau kedalaman airnya setinggi dada saya," katanya.
Yang membuatnya semakin terpukul, kata Soni, tragedi itu terjadi hanya dalam hitungan menit.
Awalnya ia masih melihat anak-anak tersebut tertawa dan bermain air bersama.
Namun beberapa saat kemudian, tiga anak sudah berlari ke darat meminta pertolongan.
“Makanya saya sampai sekarang masih tak habis pikir. Cepat sekali kejadiannya,” katanya tak percaya.
Soni mengatakan tragedi itu menjadi pengalaman yang sangat membekas dalam hidupnya.
Terlebih, itu merupakan kali pertama dirinya terjun langsung menyelamatkan korban tenggelam seorang diri.
Meski berhasil mengevakuasi dua korban sebelum tim SAR datang, ia mengaku tetap menyimpan rasa sedih dan penyesalan.
“Saya sempat berpikir, kenapa saya tidak tahu lebih cepat. Kalau ada tanda-tanda dari awal mungkin hasilnya bisa berbeda. Dan anak sekecil itu harus meninggal dengan cara seperti ini. Sampai sekarang masih terbayang di pikiran saya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap aktivitas anak-anak di kawasan pantai.
Menurutnya, tragedi serupa di Pantai Piwang itu bukanlah kali pertama.
"Sepengetahuan saya sekitar dua tahun lalu juga pernah ada kejadian anak tenggelam di Pantai Piwang. Memang cukup sering ada kejadian seperti itu di sana," katanya.
Diketahui sebelumnya, tragedi tenggelam di Pantai Piwang terjadi pada Kamis (14/5/2026) siang.
Enam bocah siswa SDN 004 Sual datang ke pantai untuk bermain dan berenang saat hari libur nasional.
Namun nahas, tiga anak sempat tenggelam setelah diduga terseret arus ke bagian laut yang lebih dalam.
Dua anak, yakni Rayyan Akbar (9) dan Muhammad Okta Ferdinan (8), meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.
Sementara satu korban lainnya, Radit (9), berhasil selamat meski sempat dalam kondisi lemah. (TribunBatam.id/Birri Fikrudin)