Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM - Di sebuah ruangan berukuran 3x5 meter, Ririn (47) dan Yuni (53) tenggelam dalam kesibukan. 

Keduanya telaten menyusun dan menggunting pola bahan pembuatan tas etnik di Workshop Mamnich, Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Pekerjaan ini bukan hal baru. Bertahun-tahun pengalaman telah menempa Ririn dan Yuni menjadi perajin terampil. Mereka mengolah kain menjadi produk fesyen yang sarat nilai budaya tradisional dan kearifan lokal.

Ririn mengenang kembali titik balik hidupnya pada 2019. Saat itu, ia terpaksa meninggalkan pekerjaannya sebagai penyablon di sebuah pabrik plastik. Tempatnya bekerja gulung tikar setelah sang pemilik meninggal.

Berstatus sebagai orang tua tunggal, Ririn tak punya banyak pilihan. Ia harus segera bangkit dan mencari penghidupan baru demi keluarganya. 

Di tengah situasi sulit itulah, datang uluran tangan dari pasangan suami istri pemilik Mamnich, Adi Budiarto dan Fransiska.

“Sudah ikut bekerja dengan Pak Adi sekitar tujuh tahun. Saya karyawan pertama beliau. Saya bersyukur punya bos yang bijak, jadi saluran berkat untuk orang lain,” ujar Ririn.

Kisah serupa juga dialami Yuni. Di usianya yang tak lagi muda, ia senang masih diberi kesempatan untuk bekerja. Umur kepala lima sering kali menjadi penghalang untuk diterima di dunia kerja formal.

“Awalnya saya cuma ibu rumah tangga. Alhamdulillah usia segini masih dipakek,” kata Yuni tersenyum.

TAS ETNIK - Ririn (47) dan Yuni (53), ibu-ibu yang diberdayakan dalam pembuatan tas etnik di Mamnich, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pembuatan tas etnik di Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
TAS ETNIK - Ririn (47) dan Yuni (53), ibu-ibu yang diberdayakan dalam pembuatan tas etnik di Mamnich, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pembuatan tas etnik di Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Jalan Berliku Mamnich

Adi mengisahkan perjalanan membangun usaha bersama sang istri didorong harapan meraih kehidupan yang lebih baik. Keduanya sempat bekerja di Jepang. Adi sebagai teknisi listrik, sementara Fransiska berprofesi sebagai perawat.

Pada 2015, mereka memutuskan kembali ke Indonesia dan merintis usaha warung internet (warnet). Namun, sayangnya usaha tersebut harus gulung tikar.

Tidak menyerah, Adi kemudian mendirikan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Bahasa Jepang. Meski sempat membuahkan hasil, lagi-lagi bisnis Adi menemui jalan berliku.

Harapan kemudian datang di 2020. Berbekal keahlian crafting yang dimiliki Fransiska, Adi memutuskan membuka usaha pembuatan bantal print, cikal bakal Mamnich–diambil dari Mama Nicholas sapaan akrab Fransiska di sekolah anaknya.

“Bikin usaha Mamnich enggak langsung berhasil. Prosesnya lama kita gonta-ganti usaha,” kata Adi, Senin (2/2/2026).

Baru beberapa bulan merintis, pandemi COVID-19 melanda. Beruntung, Adi malah kebanjiran order belasan ribu masker. Demi bisa memenuhi pesanan, tetangga-tetangga sekitar korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ikut dilibatkan.

Dari masker, produk Mamnich terus berkembang hingga sekarang jadi puluhan produk bernuansa etnik. Misi utamanya melestarikan kain tradisional Nusantara agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.

“Indonesia kaya wastra. Siapa yang akan melestarikan kalau bukan kita? Kita ambil bagian melestarikan budaya lewat padu padan tas. Jadi unsur tas Mamnich ada lurik, batik sama tenun,” urai Adi.

Sentuhan Kreatif dan Doa Kaum Perempuan

TAS ETNIK - Sekarang Mamnich memiliki 10 orang pekerja perempuan yang sanggup membuat 1.000–2.000 produk setiap bulannya.
TAS ETNIK - Sekarang Mamnich memiliki 10 orang pekerja perempuan yang sanggup membuat 1.000–2.000 produk setiap bulannya. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Adi mengakui bisnis Mamnich tidak lepas peran penting kaum perempuan di sekitar rumahnya. Ibu-ibu yang mayoritas orang tua tunggal itu harus kehilangan pekerjaan di pabrik garmen karena ekonomi terguncang akibat badai pandemi COVID-19. 

Oleh karena itu, Adi membuka lapangan pekerjaan bukan semata-mata untuk mencari uang. Tapi, juga ada nilai pemberdayaan.

“Kita di Mamnich tidak hanya kerja untuk duit, di situ ada doa budhe-budhe (sapaan akrab Adi ke karyawannya). Dari tangan-tangan kreatif mereka lahir berbagai produk berkualitas,” ungkapnya.

Sekarang Mamnich memiliki 10 orang pekerja perempuan yang sanggup membuat 1.000–2.000 produk setiap bulannya. 

Mulai tas, perlengkapan seminar dan souvenir, hingga cinderamata. Harga termurahnya Rp20.000 berupa pouch, sedangkan termahalnya tas tenun dibanderol Rp650.000.

Adapun cara Adi menjaga kepercayaan konsumen, yakni dengan menggunakan bahan-bahan berkualitas. 

Contohnya kain tenun khusus didatangkan langsung dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Untuk bahan lurik maupun batik, Adi bekerja sama dengan perajin lokal.

Hal ini juga membuktikan bisnis Mamnich tidak hanya berdampak ke ibu-ibu warga sekitar. Efek ekonomi turut dirasakan langsung di luar daerah.

"Ketika saya membeli tenun, misalnya, itu juga berdampak ke desa-desa di NTT yang sangat bergantung pada kita. Semakin banyak tenun yang dibeli, semakin banyak pula ekonomi di sana yang tumbuh dan berkembang,” kata Adi.

Sejak berdiri, pesanan Mamnich sudah berdatangan dari berbagai kementerian, instansi lokal maupun nasional, dan perseorangan.

“Untuk omzet fluktuatif naik turun. Enggak bisa ngomong berapa juta. Jadi kalau memang lagi ramai ya lumayan. Kalau lagi sepi kita nyetok barang saja,” sambung Adi.

Sementara untuk pemasaran, Mamnich juga sudah go digital memanfaatkan marketplace dan website. Berbagai macam pameran juga diikuti dengan harapan produk etnik semakin dikenal luas.

Tumbuh Bersama BRI

TAS ETNIK - Deretam produk Mamnich yang mengaplikasikan kain etnik tenun, lurik, dan batik ke tas. Semua diproduksi di Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
TAS ETNIK - Deretam produk Mamnich yang mengaplikasikan kain etnik tenun, lurik, dan batik ke tas. Semua diproduksi di Jalan Merbabu Raya, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Pada tahun 2022, Adi pernah mendaftar mengikuti UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Program tahunan terbesar dari Bank BRI ini bertujuan memberdayakan UMKM Indonesia melalui pameran produk unggulan, pendampingan intensif, serta perluasan akses pasar terutama untuk menembus pasar ekspor.  Sayangnya, saat itu Mamnich belum berhasil lolos.

Tiga tahun berlalu, Adi kembali mencoba peruntungan di seleksi BRI UMKM EXPO(RT) 2025. 

Dari total 3.006 UMKM yang mendaftar, hanya sekitar sepertiganya yang berhasil melewati tahap kurasi. Dan kali ini, Mamnich termasuk salah satunya.

Adi lalu membawa produk-produk terbaiknya untuk dipamerkan di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten, pada 30 Januari–2 Februari 2025 lalu.

Pengalaman luar biasa bagi Adi bisa mengikuti acara tersebut. Selain semua biaya akomodasi sepenuhnya ditanggung oleh pihak BRI, peserta UMKM juga ditempatkan di lokasi pameran yang megah, serta didatangkan para calon pembeli dari dalam dan luar negeri.

“Efeknya luar biasa dari event itu. Saya pulang dapat banyak orderan dan pemasukan,” terangnya.

Adi turut menjadikan BRI UMKM EXPO(RT) sebagai ajang naik kelas. Di sana, dirinya mendapatkan ilmu dan masukan dari berbagai pihak.

“Pulang saya bisa evaluasi, menata ulang produk-produk untuk event selanjutnya. Intinya, saya harus punya sesuatu yang benar-benar membedakan Mamnich dari yang lain,” kata dia.

Di akhir wawancara, Adi mengapresiasi program-program BRI yang peduli dengan perkembangan UMKM lokal Indonesia.

“Saya sangat berterima kasih buat BRI. Banyak ilmu yang saya dapatkan, banyak hal-hal positif yang saya bisa kembangkan, dan banyak relasi yang saya dapatkan,” tandasnya.

Tak Mudah Tembus BRI UMKM EXPO(RT)

TAS ETNIK - Produk Mamnich yang mengaplikasikan kain etnik tenun, lurik, dan batik ke tas. Pembuatan tas melibatkan pemberdayaan kaum perempuan.
TAS ETNIK - Produk Mamnich yang mengaplikasikan kain etnik tenun, lurik, dan batik ke tas. Pembuatan tas melibatkan pemberdayaan kaum perempuan. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini menjelaskan, ajang tahunan UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR pertama kali digelar pada 2019.

Ia mengakui tidak mudah bagi pelaku UMKM untuk lolos. Mereka harus menjalani kurasi ketat dari level lokal se-kabupaten atau kota.

Di tingkat lokal, ada program kurasi bernama BRIncubator yang dijalankan oleh Rumah BUMN, salah satunya di Kota Solo.

"Jadi BRIncubator ini kami mengkurasi UMKM-UMKM untuk cari yang unggul. Mereka memperebutkan kuota UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR," kata Condro saat ditemui di kantornya.

BRIncubator sendiri merupakan program inkubasi intensif dan pendampingan terstruktur dari Rumah BUMN yang dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas UMKM.

Materi yang diberikan antara lain mindset usaha, keterampilan negosiasi, strategi komunikasi, legalitas usaha, manajemen keuangan, rantai pasok, hingga pembuatan pitch deck bisnis.

Di akhir sesi, para peserta BRIncubator berlomba mempresentasikan perkembangan produk mereka usai mengikuti pelatihan.

Setelah dinyatakan unggulan di tingkat lokal, UMKM kemudian akan dikurasi di tingkat nasional dengan cara melakukan pendaftaran terlebih dahulu.

"Kurasi dilakukan BRI dengan melibatkan pihak ketiga. Nanti dinilai omzetnya berapa, sudah sejauh mana pemasarannya, sampai legalitas yang sudah dikantongi," kata Condro.

Setiap tahun, ada ribuan UMKM mengikuti seleksi, mereka berlomba agar lolos UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR.

Produk UMKM yang terpilih akan diikutkan pameran dan dipertemukan dengan buyer luar negeri.

"Dan goals akhirnya lebih dikenal banyak orang lagi hingga go global," tandasnya. (*)

Baca Lebih Lanjut
Tips Mix and Match Outfit Monokrom dengan Sentuhan Batik, Simpel tapi Tetap Stylish
Ananda Putri
Kalla Institute Ajari IRT Kassi-Kassi Makassar Bikin Tas Belanja dari Limbah Kain
Hasriyani Latif
Banda Aceh Terima Kunjungan Studi Banding Dekranasda Bireuen di Tenun Kuta Raja
Eddy Fitriadi
Grab Dorong UMKM Perempuan Pekanbaru Lebih Melek Bisnis Digital Lewat Program SERABI 2026
M Iqbal
Astra Dorong Kepemimpinan Perempuan dan Lingkungan Kerja Inklusif Lewat Astra Women Network 2026
Rifatun Nadhiroh
Pencuri Pecah Kaca Mobil Toyota Fortuner Banyuwangi Terekam CCTV, Curi Tas Berisi Uang Ratusan Juta
Dyan Rekohadi
Aksi Pecah Kaca Mobil Terekam CCTV di Banyuwangi, Tas Berisi Uang Ratusan Juta Rupiah Dicuri
Eko Darmoko
Seusai Salat Subuh, Warga Banyuwangi Lihat Tas Digantung, Ternyata Isinya Jenazah Bayi dan Surat 
Januar
Lewat Smart Lab 2.0, ParagonCorp Hadirkan Riset Kosmetik yang Lebih Adaptif dan Presisi
Content Writer
DLH Mataram ambil tas plastik warga belanja di CFD, diganti "eco bag"
Antaranews