TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Minggu pagi, 31 Mei 2026, Miyos Sarwono (43), berdiri di tepi liang makam ayahnya dengan perasaan yang campur aduk.

Sudah 26 tahun sejak ayahnya, Abu Zamroh, dimakamkan di Taman Makam Jugrug, Desa Candirejo, Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Hari itu, makam sang ayah bersama tujuh makam lainnya akan dipindahkan ke lokasi baru yang lebih aman.

Di satu sisi, Miyos datang untuk menjalankan kewajiban sebagai anak. Namun di sisi lain, ada satu pertanyaan yang terus berputar di benaknya.

Bagaimana kondisi jenazah ayahnya setelah lebih dari dua dekade berada di dalam tanah?.

"Awalnya seperti apa kondisinya, saya bertanya-tanya juga," ujar Miyos Sarwono (43), anak ketiga almarhum Abu Zamroh saat berkesempatan berbincang dengan Tribunpekanbaru.com, Selasa (2/6/2026).

Sejak pukul 07.30 WIB, sekitar seratus warga bergotong royong membongkar delapan makam yang berada di atas bukit, termasuk makam Abu Zamroh.

Lokasi pemakaman lama itu dipindahkan karena berada di lereng dengan kondisi tanah berpasir yang rawan longsor.

Satu per satu makam dibuka. Sebagian besar hanya menyisakan tulang-belulang yang kemudian dikumpulkan, dimasukkan ke dalam kotak, dibungkus kembali dengan kain kafan, lalu dipindahkan ke lokasi baru yang berjarak sekitar 30 meter dari titik semula.

Baca juga: Polres Siak Bongkar Makam Bocah 6 Tahun di Kerinci Kanan, Hasil Autopsi Ditunggu Sepekan

Baca juga: Ini Makam Datuk Tabano Pendekar Kampar Berusia Lebih Seabad yang Akan Diziarahi pada Hari Raya Enam

Namun ketika penggalian dilakukan di makam milik Abu Zamroh, para penggali mulai melihat sesuatu yang berbeda.

"Kami gali mendekati liang lahat, kelihatan kain kafan di bagian bahu agak menonjol. Setelah ditelusuri dari kepala sampai kaki, ternyata masih utuh," kenang Miyos.

Padahal keluarga disebutkannya, telah menyiapkan sebuah kotak berukuran sekitar satu meter kali 30 sentimeter untuk menampung tulang-belulang, sebagaimana yang ditemukan pada makam lain.

"Kotak yang kami sediakan ukuran satu meter kali 30 sentimeter. Karena yang lain itu masih ada tulang-tulang yang besar (yang bisa dikumpulkan)," ujarnya.

Semakin banyak tanah disingkirkan, semakin jelas bentuk tubuh yang masih terbungkus kain kafan.

Pemandangan ini sontak membuat masyarakat yang ada di lokasi takjub. Jenazah lalu diangkat dengan hati-hati untuk dikeluarkan.

Miyos mengaku sempat mencoba mengintip dari sela-sela kain yang membungkus jasad ayahnya. Namun yang terlihat hanya beberapa lapisan kafan yang masih menyelimuti tubuh tersebut.

"Saya coba-coba intip, tidak jumpa. Masih ada kain terus," katanya.

Dari bentuk tubuh yang masih terlihat jelas di balik balutan kafan itu, ia meyakini bagian tubuh ayahnya masih utuh.

"Masih terasa semua. Masih utuh, kepala, tangan, bahu, badan, siku, kaki," ujarnya.

Jenazah Abu Zamroh, warga Inhu, Riau yang masih utuh usai dimakamkan 26 tahun yang lalu. Makamnya dibongkar untuk dipindahkan ke lokasi yang lebih aman, Minggu (31/5/2026) (ISTIMEWA)

Perasaan haru langsung menyelimuti dirinya dan keluarga.

"Di satu sisi sedih, di satu sisi kami bahagia karena jenazah masih utuh. Alhamdulillah," katanya.

Abu Zamroh diketahui dimakamkan pada 30 September 2000 dalam usia 52 tahun. 

Ia lahir pada 5 Oktober 1948 dan menghabiskan sebagian besar hidupnya di kawasan yang saat itu masih jauh dari keramaian penduduk. Tak jauh dari lokasi pemakaman tersebut.

Miyos mengenang ayahnya sebagai sosok pekerja keras yang hidup sederhana.

"Bapak kerja serabutan," ujarnya.

Saat sang ayah meninggal dunia, Miyos baru saja menyelesaikan pendidikan SMP dan berusia sekitar 15 tahun.

Ia masih mengingat kondisi keluarga mereka saat itu yang hidup dalam kondisi susah.

Rumah sederhana milik keluarga mereka, menjadi saksi perjuangan Abu Zamroh membesarkan tujuh orang anak, terdiri dari dua laki-laki dan lima perempuan.

"Alhamdulillah sekarang kami tidak susah seperti dulu," katanya.

Dari sekian banyak kenangan tentang sang ayah, ada satu pesan yang paling membekas dalam ingatan Miyos.

"Yang saya ingat, bapak selalu berpesan supaya rukun dengan keluarga," ujarnya.

Menurut Miyos, tidak ada hal yang terasa janggal saat proses itu berlangsung.

"Pas diangkat tidak berat. Bahkan jenazah ayah saya tidak ada berbau," katanya.

Sejak peristiwa itu menjadi perbincangan masyarakat, Miyos mengaku banyak menerima pertanyaan dari teman-teman dan kerabat.

Pertanyaannya hampir selalu sama. Amalan apa yang dilakukan Abu Zamroh semasa hidup hingga jasadnya ditemukan masih berkafan utuh setelah 26 tahun dimakamkan.

Namun Miyos tidak pernah berani menjawabnya.

Baginya, hanya Allah yang mengetahui seluruh amal seseorang selama hidup.

"Sudah banyak pertanyaan dari sahabat-sahabat terkait amalan apa yang sudah beliau lakukan semasa hidupnya," katanya.

Ia lalu mencoba mengingat kembali sosok ayah yang dikenalnya sejak kecil.

Tidak ada jabatan penting. Tidak ada pula kehidupan yang serba berkecukupan.

Yang ia ingat hanyalah seorang ayah yang bekerja keras, hidup sederhana, dan penyabar.

"Seingat saya, beliau orang yang sederhana, sabar dan selalu mengalah. Kalau ada yang lain, itu hanya Allah yang tahu," ujar Miyos.

Kesaksian serupa disampaikan Aven Putranto, warga yang ikut dalam proses penggalian makam.

Menurut Aven, makam Abu Zamroh menjadi perhatian setelah para penggali melihat masih adanya kain kafan saat tanah mulai dibersihkan.

"Awalnya makam yang dibongkar hanya tinggal tulang-tulang yang dikumpulkan. Tapi ketika terlihat masih ada kain, penggalian dilakukan hati-hati, dicongkel sedikit demi sedikit pakai cangkul," ujarnya.

Saat jenazah berhasil diangkat dari liang makam, kondisi kafan masih terlihat jelas.

"Diangkat masih terselimut tanah. Kain kafan yang lama masih bagus, tali pengikat masih lengkap," kata Aven.

Setelah itu, jenazah kembali dibungkus menggunakan kain kafan baru sebelum dipindahkan ke makam yang baru.

"Ditambah kain baru, diangkat bertiga. Tidak ada aroma bau sama sekali," ujarnya.

Aven mengaku pernah mendengar cerita tentang sosok Abu Zamroh dari warga sekitar.

"Beliau orangnya tidak neko-neko," katanya.

Makam di Lokasi Tebing Rawan Longsor

Sekretaris Desa Candirejo, Ade Putra SE, mengatakan pemindahan makam dilakukan karena lokasi pemakaman lama berada di atas tebing yang rawan longsor.

Menurutnya, kawasan pemakaman tersebut sudah ada sejak tahun 1990-an dan berdiri di atas tanah hibah masyarakat yang diberikan sejak 1980-an.

"Dulu akses jalan belum ada, hanya akses di daerah bukit. Sekarang setelah jalan dibuka di bagian bawah, makam dirapikan. Nanti akan ada pemerataan lahan lagi," ujarnya.

Ade mengatakan total ada delapan makam yang dipindahkan dalam kegiatan gotong royong tersebut.

Ia juga ikut menyaksikan langsung proses pembongkaran makam Abu Zamroh yang merupakan makam keempat yang dibuka hari itu.

"Kebetulan saya ikut langsung menyaksikan. Pas sudah ketemu, kelihatan kain kafan," katanya.

Makam itu memiliki kedalaman sekitar dua meter.

Menurut Ade, kondisi makam Abu Zamroh berbeda dengan makam lainnya.

"Pas diangkat, kain kafan masih utuh. Tidak ada tulang yang lepas. Cuma kain yang menempel pada jenazah mulai tumbuh serabut, tetapi tali pengikatnya masih ada," ujarnya.

Sementara pada makam lain, yang tersisa hanya tulang-belulang.

"Makam yang lain jenazahnya sudah hancur, tinggal tulang-belulang. Kain kafannya juga sudah tidak ada," katanya.

Hal lain yang membuat warga takjub adalah tidak adanya aroma menyengat saat proses pemindahan berlangsung.

"Kalau berbau tidak. Tidak menyengat, tidak amis," kata Ade.

Suasana haru pun tak terhindarkan.

Beberapa anggota keluarga terlihat menangis. Sebagian warga terdiam menyaksikan proses tersebut.

"Ada yang nangis, terharu. Masyarakat juga takjub. Banyak yang mengatakan inilah keajaiban yang Allah tunjukkan kepada kita," ujarnya.

Tokoh masyarakat sekaligus konten kreator, Haji Harpen Arsadi, mengatakan pemindahan makam tersebut dihadiri perangkat desa, masyarakat, dan ahli waris keluarga.

Menurutnya, langkah pemindahan memang perlu dilakukan demi keselamatan.

"Pemindahan dilakukan ke lokasi yang lebih baik karena lokasi pertama berada di daerah lereng yang rawan longsor," katanya.

Mengenai sosok Abu Zamroh, Harpen mengaku tidak mengetahuinya secara pasti.

Namun ia melihat penghormatan yang diberikan keluarga dan masyarakat kepada almarhum.

"Bagaimana beliau semasa hidup saya kurang tahu, itu pihak keluarga yang tahu. Yang jelas beliau pasti orang baik," ujarnya.

Menjelang pukul 14.00 WIB, proses pemindahan delapan makam akhirnya selesai.

Warga mulai meninggalkan pemakaman di atas bukit itu. Tanah kembali dirapikan. Doa-doa dipanjatkan.

Namun bagi Miyos dan keluarganya, hari itu bukan sekadar pemindahan makam.

Hari itu menjadi momen ketika kenangan tentang seorang ayah kembali hadir begitu dekat.

Seorang ayah yang semasa hidup bekerja serabutan, membesarkan tujuh anak dalam kesederhanaan, dan mewariskan satu pesan yang masih diingat hingga hari ini: tetap rukun dalam keluarga.

Setelah 26 tahun kepergiannya, sosok Abu Zamroh kembali membuat banyak orang mengenangnya.

(Tribunpekanbaru.com/Rizky Armanda)

Baca Lebih Lanjut
Alasan Polisi Bongkar Makam Warga Sindon, Boyolali, Keluarga Curiga, Meninggal Setelah Makan Sate
Galuh Palupi
Jasad di Sungai Brantas Mojokerto Akhirnya Dimakamkan Tetap Sebagai Mr X
Dyan Rekohadi
Jenazah Latifah Oetama Istri Pendiri Kompas Jakob Oetama Dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jaksel
Irwan Wahyu Kintoko
5 Hari Hilang, Anton Ismail Warga Botu Gorontalo Ditemukan Tak Bernyawa
Fadri Kidjab
Kasus Kematian Misterius Nenek di Sindon Boyolali, Polisi Periksa 8 Saksi
Ryantono Puji Santoso
Kondisi Jenazah Perempuan yang Tewas usai Makan Sate di Boyolali, Tangan Korban Mengepal
Ryantono Puji Santoso
Teka-teki Kematian Nenek di Boyolali usai Makan Sate Kiriman Seseo, Makam Dibongkar untuk Diusut
Arie Setyaga Handika
Jenazah Mantan Polisi Tembak Mati Warga Dibawa ke Bondowoso, Anton Titip Pesan
M.Risman Noor
Mengeluh Pusing Saat Mengobrol, Kakek Asal Gadu Meninggal di Kamar Warga
Daniel Ari Purnomo
Identitas Mayat Pria di Jurang Pagar Alam, Disebut Sering Tinggalkan Rumah
Weni Wahyuny