TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Ada tempat-tempat yang tidak memerlukan baliho besar untuk dikenal banyak orang.
Tidak ada pengeras suara yang memanggil wisatawan datang. Tidak pula deretan kafe estetik atau wahana yang berlomba memancing adrenalin.
Tempat itu hanya menyediakan hutan, sungai, dan kesunyian. Sisanya, alam yang bekerja.
Di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, terdapat sebuah kawasan yang perlahan menjadi buah bibir para pencinta wisata alam. Namanya Desa Wisata Pinusan Separe (DWPS).
Baca juga: Pertumbuhan Bisnis dan Mobilitas Warga Dorong Pemanfaatan Videotron di Semarang
Baca juga: Jadi Korban Tabrak Lari, Pengendara Motor Tewas di Lokasi
Tribun Jateng mencoba menyusuri perjalanan menuju lokasi itu pada akhir pekan. Jalan cor yang membelah perbukitan menjadi awal petualangan kecil yang menyenangkan.
Meski berada di kawasan pegunungan, jalur menuju lokasi terbilang ramah. Pengguna sepeda motor matik tak perlu terlalu khawatir. Tanjakan dan tikungan masih bersahabat, sementara kendaraan roda empat juga dapat melintas dengan nyaman.
Sepanjang perjalanan, udara perlahan berubah. Semakin jauh meninggalkan keramaian kota, semakin terasa aroma tanah basah dan dedaunan yang terbawa angin.
Yang menarik, destinasi wisata ini tidak membebani pengunjung dengan tiket masuk mahal. Tak ada tarif pasti.
Pengunjung cukup memberikan biaya masuk secara sukarela. Konsep sederhana itu seolah menjadi penanda bahwa alam masih bisa dinikmati tanpa harus kehilangan esensinya.
Begitu tiba di kawasan wisata, hutan pinus yang tumbuh rapat langsung menyambut setiap tamu. Batang-batang pohon menjulang tinggi seperti pagar alami yang menjaga kesejukan kawasan tersebut.
Di sela-sela pepohonan, cahaya matahari jatuh dengan lembut. Suasananya teduh. Hening, namun tidak sepi.
Dari area utama, perjalanan menuju sungai hanya sekitar lima puluh meter. Jalurnya mudah dilalui, bahkan oleh anak-anak.
Semakin dekat, suara gemericik air mulai terdengar. Sungai itu mengalir jernih di antara bebatuan. Airnya dingin, mengalir pelan di bawah rindangnya vegetasi hutan yang masih lebat.
Sebagian pengunjung memilih bermain air. Sebagian lainnya cukup menggelar matras di tepi sungai, menikmati semilir angin sambil bercengkerama dengan keluarga.
Di salah satu sudut sungai, Andre, warga Kota Semarang, tampak menikmati dinginnya air yang mengalir di sela-sela batu.
Ia mengaku sengaja datang untuk mencari tempat yang bisa membuat pikirannya beristirahat sejenak dari rutinitas kota. Terlebih saat musim kemarau seperti sekarang.
"Kalau cuaca panas, bermain air di sini rasanya menyejukkan sekali. Tempatnya juga masih alami," katanya, Sabtu (6/6/2026) sore.
Andre mengaku sudah beberapa kali datang ke Pinusan Separe. Menurutnya, tempat seperti ini mulai sulit ditemukan.
Bukan karena fasilitasnya mewah, tetapi karena alamnya masih benar-benar terjaga.
Tak jauh dari lokasi Andre, aroma masakan rumahan menyeruak di bawah rindangnya pohon pinus.
Prima, warga Ngaliyan, Kota Semarang, datang bersama keluarganya dengan membawa perlengkapan berkemah lengkap.
Di atas tikar yang digelar sederhana, sebuah kompor portable menyala. Panci kecil mengepul. Anak-anak berlarian di sekitar hutan pinus, sementara anggota keluarga lain menikmati secangkir kopi.
Prima sengaja memilih membawa perlengkapan sendiri agar waktu berkumpul bersama keluarga terasa lebih lama.
"Bisa masak bersama sambil menikmati pemandangan seperti ini rasanya berbeda. Anak-anak juga lebih senang karena bisa bermain di alam," ujarnya.
Bagi Prima, liburan terbaik bukan yang paling mahal, melainkan yang mampu menghadirkan kebersamaan.
Dan Pinusan Separe memberinya ruang untuk itu.
Di tengah maraknya tempat wisata yang berlomba menawarkan spot swafoto dan dekorasi buatan, Desa Wisata Pinusan Separe justru tampil apa adanya.
Pesonanya lahir dari hutan pinus yang masih lebat, aliran sungai yang bening, udara pegunungan yang sejuk, serta bentang alam yang belum kehilangan wajah aslinya.
Mungkin itulah yang membuat banyak orang betah berlama-lama di sana.
Mereka datang membawa kesibukan, lalu pulang dengan kepala yang terasa lebih ringan.
Di lereng Gunung Ungaran itu, orang-orang ternyata tidak hanya mencari tempat wisata.
Mereka sedang mencari jeda. Dan di antara rimbunnya pinus serta jernihnya aliran sungai, mereka menemukannya. (bud)