Laporan Wartawan TribunSolo.com, Mardon Widiyanto
TRIBUNSOLO.COM, KARANGANYAR - Kisah pedagang bekicot goreng di Alun-alun Karanganyar ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan ketekunan dapat membuahkan hasil.
Wijiyanto (44), warga Kampung Kerten RT 4/RW 8, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, sempat hampir menyerah saat merintis usaha berjualan bekicot goreng.
Namun, demi menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya, ia memilih bertahan hingga kini mampu meraup omzet ratusan ribu rupiah setiap hari.
Setiap sore, Wijiyanto menyiapkan dagangannya bersama keluarga di rumah.
Ia tinggal bersama istri, dua anak, dan ibunya yang turut membantu proses produksi hingga pengemasan bekicot goreng.
Istri dan ibunya membantu membungkus bekicot goreng yang telah matang.
Sementara anak pertamanya yang sudah beranjak remaja ikut membantu mengemas hidangan tersebut ke dalam bungkus kertas yang dilapisi kertas minyak.
Setelah seluruh pesanan siap, bungkusan bekicot goreng dimasukkan ke dalam wadah plastik besar bersama dagangan titipan lainnya, seperti keong dan intip.
Selanjutnya, Wijiyanto membawa dagangan itu menggunakan sepeda motor menuju Alun-alun Karanganyar.
Selama perjalanan hingga tiba di lokasi berjualan, Wijiyanto memiliki cara unik untuk menarik perhatian pembeli.
Dengan mengenakan kaus, celana panjang, dan sandal, ia berkeliling sambil meneriakkan kalimat khas yang sudah dikenal masyarakat.
"beki cotte ho'o, keong iyo yo, intip deso"
Teriakan tersebut kerap mengundang perhatian pengunjung Alun-alun Karanganyar.
Tidak jarang masyarakat merespons dengan candaan.
Namun, hal itu tidak membuat semangatnya surut.
Bagi Wijiyanto, berjualan bekicot goreng merupakan sumber penghidupan utama bagi keluarganya. Karena itu, ia tetap percaya diri menawarkan dagangannya setiap hari.
Perjalanan usaha yang dijalani Wijiyanto tidak selalu mudah.
Ia mengaku sempat mengalami masa-masa sulit saat pertama kali berjualan di Alun-alun Karanganyar.
Saat ditemui TribunSolo.com, Wijiyanto mengungkapkan bahwa tiga bulan pertama menjadi periode yang paling berat baginya.
"Saya di sini selama 3 bulan pertama di Alun-alun Karanganyar hampir putus asa, namun demi sekolah anak dan penghidupan sekarang, saya tetap semangat berjualan, hingga sekarang," kata Wijiyanto, Rabu (3/6/2026).
Semangat untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anaknya membuat ia terus bertahan.
Perlahan, usahanya mulai dikenal dan memiliki pelanggan tetap.
Baca juga: Kisah Penjual Bekicot Goreng di Alun-alun Karanganyar : Dulu Diejek, Kini Bisa Renovasi Rumah
Kini, perjuangan Wijiyanto mulai membuahkan hasil. Bekicot goreng yang dijualnya hampir selalu habis terjual sebelum pukul 21.00 WIB.
Tingginya minat pembeli bahkan membuat sebagian pelanggan rela mencari stok hingga ke rumahnya.
Ada pula yang menghubungi istri maupun anaknya untuk memastikan ketersediaan dagangan.
"Kalau habis langsung pulang, kalau gak langsung pulang banyak yang tanya ke saya terus, bahkan ada yang cari sampai ke rumah, atau nggak kontak istri dan anak untuk membeli Bekicot Goreng itu," kata dia.
Berkat ketekunan yang dijalani selama bertahun-tahun, Wijiyanto kini mampu memperoleh omzet kotor sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari dari penjualan bekicot goreng.
Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, membiayai pendidikan dua anaknya, serta memperbaiki rumah secara bertahap.
"Hasilnya Alhamdulillah, bisa untuk sekolah anak, memperbaiki rumah sedikit-sedikit. Di sini saya tinggal bersama istri dua anak dan ibu saya," ungkap dia.
(*)