Laporan Wartawan TribunSolo.com, Andreas Chris Febrianto
TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Cerita menarik datang dari Anastasia, seorang perempuan lansia yang tinggal di Jalan Pangeran Wijil, Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Solo.
Ia masih menyimpan lebih dari 50 jersey atau seragam tim sepak bola hasil desainnya sendiri, yang menjadi saksi perjalanan panjang usaha toko jersey Bolamania.
Dari usaha rumahan sederhana, Bolamania pernah menjadi salah satu pionir penjualan dan produksi jersey sepak bola di Solo, bahkan dipercaya oleh sejumlah tim lokal hingga klub Liga Indonesia.
Kecintaan Anastasia terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak lama.
Ia bahkan pernah menjadi wartawan peliput laga Timnas Indonesia vs Timnas Argentina pada 1978 yang saat itu diperkuat Mario Kempes.
Sejak momen itu, ia tak pernah lepas dari dunia sepak bola, baik nasional maupun internasional.
Namun, setelah menikah, ia sempat meninggalkan dunia jurnalistik dan kembali ke Solo.
Kehidupan rumah tangga yang tidak mulus membuatnya kembali bertemu dengan sesama pecinta sepak bola yang kemudian menjadi suami keduanya.
Dari situlah, pada medio 1997, Anastasia bersama mendiang suami memberanikan diri membuka usaha toko jersey bernama Bolamania dari rumah mereka.
“Bukanya tahun 1997, di tahun itu saya ingat betul saya sendiri menggambar Batistuta (eks penyerang timnas Argentina) untuk dipajang di depan toko. Jadi di tahun itu kita benerin rumah untuk jual kaos sepak bola,” ungkap Anastasia saat ditemui TribunSolo.com, Jumat (5/6/2026) sore, lalu.
Di masa awal usaha, Anastasia hanya menjual jersey replika hasil kerja sama dengan penjahit lokal.
Model desain pun didapat dari majalah dan poster tim-tim Eropa yang saat itu tengah populer, terutama klub-klub Italia.
“Dulu kita nyari model kaos dari majalah. Zaman itu tim-tim Italia masih terkenal. Jadi kota cari terus kita bikin dan jual akhirnya laris,” jelasnya.
Meski sudah ada beberapa toko jersey di Solo, kehadiran Bolamania mendapat tempat tersendiri karena kedekatan suaminya dengan dunia sepak bola, termasuk pernah terlibat di kepengurusan Persis Solo.
Cerita menarik terjadi saat penjualan pertama Bolamania justru bukan dari klub besar Italia, melainkan jersey Manchester City.
“Itu, Manchester City Rp 15 ribu. Itu bikinan sendiri,” sebut Anastasia.
Baca juga: Tergerus Persaingan, Toko Jersey Legendaris Bolamania Solo Tutup Setelah Puluhan Tahun Beroperasi
Seiring waktu, usaha Bolamania semakin berkembang.
Anastasia mulai mendapatkan akses ke supplier jersey berkualitas dan menjualnya dengan harga lebih tinggi.
“Modal Rp 9 ribu dan saya jual Rp 25 ribu langsung laku keras. Yang paling laku itu Bayern Munchen,” ujarnya.
Bolamania kemudian dikenal luas dan bahkan merambah produksi konveksi sendiri.
Sejumlah tim lokal hingga klub Liga Indonesia pernah menjadi pelanggan, termasuk Persiba Bantul, PSS, Persis Solo, hingga Persipura Jayapura.
Bahkan, tim nasional Timor Leste pernah datang langsung ke Solo dan meminta dibuatkan sekitar 60 pasang jersey dalam waktu hanya 24 jam.
“Minta tolong jadi sore kayak gini datang, besok sore minta harus jadi. Itu sekitar 60 pasang jersey,” katanya.
Baca juga: Mengenang Toko Jersey Bolamania Tipes Solo, Dulu Jadi Jujugan Pecinta Bola Kini Tinggal Nama
Masa kejayaan Bolamania terjadi pada era awal 2000-an hingga 2010-an.
Puncaknya saat momen kejayaan Timnas Indonesia di AFF 2010 yang diperkuat Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim.
“Waktu Indonesia diperkuat Gonzales dan Irfan Bachdim itu omzet saya per hari bisa sampai Rp 20 juta,” ungkapnya.
Penjualan jersey Timnas kala itu bahkan ludes hanya dalam hitungan jam karena tingginya permintaan dari masyarakat.
Sayangnya, kejayaan tersebut mulai meredup setelah suami Anastasia meninggal dunia pada 2016.
Sejak saat itu, semangatnya untuk melanjutkan usaha ikut menurun.
Masalah internal usaha juga turut memperberat kondisi hingga akhirnya Bolamania resmi ditutup pada 2019, meski masih ada pesanan yang masuk.
“Itu ketika suami meninggal tahun 2016, ngelanjutin sudah kayak lemas gitu,” ujarnya.
(*)