TRIBUNMANADO.CO.ID - MANADO - Sepakbola telah jadi nafas hidup warga Kampung Argentina di Kelurahan Ternate Tanjung, Kecamatan Singkil, Kota Manado, Provinsi Sulut.
Hal ini nyata saat momen piala dunia.
Kampung tersebut dilanda demam bola tingkat tinggi.
Euforia bolanya benar-benar gila, ada yang mengatakan tak kalah dengan negara tuan rumah piala Dunia sekalipun.
Seisi kampung - dari lansia, orang dewasa, pemuda, remaja hingga anak anak tumpah ruah dalam nonton bareng yang digelar tiap hari selama piala dunia.
Apalagi jika Argentina bermain.
Kampung itu bisa berubah warna jadi biru dan putih oleh jersey maupun bendera besar dan kecil yang dikibarkan kibarkan.
Kampung Argentina terletak di tepi DAS Tondano.
Berjarak sekitar 8 kilometer dari Bandara Sam Ratulangi.
Dari lapangan Ketang Baru jaraknya hampir sekilo.
Tribunmanado mengunjungi kampung tersebut, Selasa (9/6/2026).
Bendera besar Argentina yang dipasang di sebuah rumah di ujung lorong menyambut kedatangan Tribunmanado.
Warna birunya bersanding dengan awan putih di langit yang agak mendung.
Dari situ tampak lorong lorong sempit dengan rumah yang berhimpitan.
Umumnya rumah berlantai dua karena itu wilayah rawan banjir.
Bendera negara peserta piala dunia berkibar di langit.
Ada Prancis, Brazil, Jerman, Portugal hingga Jepang.
"Itu hanya bendera hiasan saja, orang di sini hampir mayoritas penggemar Argentina," kata seorang warga.
Seorang wanita menyambut Tribunmanado.
Dia Swarni Poyo. Matanya langsung berbinar saat Tribun membeber maksud kedatangan untuk membedah sisi gila bola warga kampung itu. "Memang demikian," kata dia.
Swarni adalah salah satu warga tertua di kampung itu.
Sudah puluhan tahun ia bermukim di sana.
Setiap Piala Dunia ia merasakan momen yang hampir sama. Kemeriahan bak pesta.
"Di sini ramai sekali saat piala dunia, layar tancap selalu dipasang di depan rumah kami untuk noreng, yang nonton banyak sekali," katanya.
Nonton bareng itu sering mendatangkan suasana haru.
Saat tim kesayangannya menang, warga akan berteriak kegirangan, dan kadang meledek yang kalah.
Sebaliknya yang kalah akan terdiam, coba menyembunyikan pedih, walau kadang air mata tak bisa ditahan.
Sampai sampai ada suami istri yang tak akur lagi, gara gara beda tim piala dunia.
"Tapi itu hanya ekspresi sesaat, habis itu rukun kembali," katanya.
Swarni menyebut dirinya fans garis keras Argentina. Demikian pula sebagian warga.
"Kami di sini semua emak emak adalah pro Argentina, saya pecinta Messi, saya yakin Argentina kembali juara," katanya.
Saat Argentina juara empat tahun lalu adalah momen terindah baginya sebagai penggemar sepakbola.
Ia ingat kala itu mereka berpesta, merasa hidup ini sangat indah.
"Luar biasa suasana kala itu, benar benar pecah," katanya.
Dirinya bercerita kampung itu seingatnya disebut Argentina setelah pertandingan sepakbola melawan kampung Malvinas saat pertengahan tahun 80 an.
Saat itu dunia bola dikuasai oleh Diego Armando Maradona, sang dewa bola dari Argentina.
"Dari situ mulai disebut kampung Argentina," katanya.
Dia bercerita, kala itu hampir semua warga mengidolakan timnas Argentina.
Namun cinta terhadap Argentina ternyata tak bisa diwariskan sepenuhnya.
"Ada pula yang hobi Brazil, Portugal, Jerman, Spanyol dan lainnya," kata dia.
Noreng di kampung Argentina tak sekedar keriuhan.
Di sana ada nilai ekonomis. Banyaknya penonton jadi peluang bisnis.
"Ibu-ibu disini sering jualan, untungnya lumayan," katanya.
Saat Tribunmanado mewawancarai Swarni, datang Arif.
Arif adalah fans garis keras Brazil. Ledek ledekan terjadi, yang diakhiri saling tertawa akrab.
"Memang biasa begini, tapi kami selalu akur dan damai, ini hanya hiburan saja," kata Arif.
"Mungkin kalau Brazil juara diganti nama saja kampung ini," kata dia sambil tertawa.
Arif bercerita, meski tak ada darah atau turunan, Argentina sangat melekat pada identitas warga.
Tak hanya pada piala Dunia.
"Jika kita keluar main bola selalu kami katakan Argentina," katanya.
Ia menuturkan, cinta warga pada sepakbola membawa cinta pada kehidupan.
Sepakbola adalah alat kerukunan.
Kampung Argentina punya banyak keunikan.
Selain lekat dengan bola, kampung ini dekat dengan banjir.
Nama wilayah ini memiliki sejarah saat Timnas Argentina memenangkan piala dunia pada 1986.
Saat itu, demam Diego Armando Maradona yang berhasil membawa timnas Argentina menjuarai piala dunia 1986 membuat sejumlah warga Kelurahan Ternate Tanjung Lingkungan 1 sepakat mengganti nama kampung mereka menjadi Argentina.
Itulah awal mula kampung Argentina versi sejumlah warga kepada Tribun Manado.
Ironisnya, kampung ini terkenal oleh sesuatu yang jauh dari sepakbola, yakni banjir.
Kampung di pesisir DAS Tondano ini memang langganan banjir.
Setiap hujan pasti kebanjiran. Air naik hingga dada manusia dewasa.
Di beberapa tempat yang dekat sungai, air menjangkau atap.
Warga pun mengungsi di mesjid, rumah kerabat hingga ke tepi jalan.
Ada pula yang memilih tinggal di lantai dua rumah mereka.
Beberapa rumah dibuat berlantai dua gara - gara seringnya banjir melanda wilayah tersebut. (Art)
Baca juga: Mario Beli Kaos Inggris Untuk HUT Anaknya, Penjual di Pasar 45 Manado Panen Jelang Piala Dunia 2026