TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK- Udara di dalam greenhouse terasa hangat. Deretan tanaman melon tumbuh rapi, buah-buahnya menggantung menggunakan tali supaya tidak menyentuh tanah, ada yang kuning, hijau dan ada yang agak putih. 

Di sela lorong tanaman, Siswanto berjalan perlahan sambil memeriksa daun dan batang satu per satu. Ia tampak bahagia, memancarkan air muka yang tenang. 

Sulit membayangkan, beberapa tahun lalu pria asal Kampung Buantan Besar, Kecamatan Siak, ini menghabiskan hari-harinya sebagai karyawan perusahaan pestisida. Kini, rutinitasnya berubah. Baju  kerja kantoran berganti dengan pakaian biasa sehari-hari pekebun, ruang kantor berganti hamparan tanaman melon premium.

Keputusan itu lahir dari pertimbangan panjang. Selama empat tahun bekerja di perusahaan pestisida, Siswanto banyak belajar tentang dunia pertanian. Ia berinteraksi dengan petani, memahami karakter tanaman, sekaligus membaca kebutuhan pasar.

Namun, saat menjalani pekerjaan itu, kurangnya waktu bersama keluarga selalu mengusik pikirannya. 

“Karena banyak tekanan kerja dan waktu untuk keluarga juga tersita, akhirnya saya memutuskan berusaha sendiri,” ujar Siswanto, Minggu (14/6/2026).

Meninggalkan pekerjaan tetap tentu bukan keputusan ringan. Saat itu, penghasilannya berkisar Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan. Cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi ia merasa perlu mencari peluang yang lebih menjanjikan.

Langkah awalnya dimulai secara sederhana. Siswanto menanam sayuran dan cabai. Pengalaman kerja serta jaringan yang telah dibangun selama bertahun-tahun menjadi modal penting untuk memulai usaha mandiri.

“Saya terinspirasi dari teman-teman dan petani binaan dulu. Karena saya kerja di perusahaan, saya punya banyak petani binaan,” katanya.

Dari pengalaman itulah, Siswanto melihat peluang budidaya melon dengan sistem greenhouse. Menurutnya, metode ini membuat tanaman lebih mudah dikendalikan, mulai dari nutrisi, pengairan, hingga perlindungan terhadap hama dan cuaca.

Usahanya berkembang sedikit demi sedikit. Greenhouse pertama berdiri, lalu bertambah menjadi dua, tiga, hingga kini empat unit yang berdiri berdekatan di lahan miliknya.

“Alhamdulillah, kini telah berkembang menjadi empat unit greenhouse yang berdiri berdekatan,” ujarnya.

Di dalam greenhouse tersebut, Siswanto membudidayakan beberapa varietas melon premium seperti Skidrow, Honey Globe dan Golden Apollo. Ketiga jenis melon ini dikenal memiliki rasa manis, tekstur renyah, serta penampilan menarik yang banyak diminati konsumen.

Setiap greenhouse mampu menghasilkan sekitar 1 hingga 1,5 ton melon dalam sekali panen. Dengan masa tanam hingga panen sekitar 62 hari, total produksi dari empat greenhouse miliknya dapat mencapai 4 hingga 6 ton melon setiap siklus panen.

Melon-melon itu dijual dengan harga sekitar Rp35.000 per kilogram. Jika dihitung, nilai ekonomi dari setiap masa panen cukup besar.

“Kalau dulu di perusahaan gaji sekitar Rp3 juta sampai Rp4 juta. Sekarang satu greenhouse bisa menghasilkan sekitar Rp10 juta. Kalau punya empat greenhouse, berarti bisa lebih Rp40 juta,” ungkapnya.

Meski demikian, Siswanto memahami bahwa pertanian tetap memiliki tantangan. Serangan hama, perubahan cuaca, hingga fluktuasi harga pasar menjadi bagian dari risiko yang harus dihadapi.

Namun baginya, hasil usaha tidak hanya diukur dari pendapatan. Ada kebahagiaan lain yang kini dirasakannya yaitu kebebasan mengatur waktu dan lebih dekat dengan keluarga.

“Lebih enak berusaha sendiri. Apalagi kalau sudah punya peluang dan mitra bisnis, insyaallah usaha bisa berjalan,” tuturnya.

Usaha melon milik Siswanto juga telah menjangkau pasar yang lebih luas. Selain melayani konsumen umum, hasil panennya memasok sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Distribusi melon bahkan telah menjangkau Pangkalan Kerinci, Pekanbaru, hingga Sumatera Barat.

Menariknya, usaha ini dijalankan secara sederhana dan berbasis keluarga. Sehari-hari, Siswanto mengelola kebun bersama anggota keluarganya, mulai dari merawat tanaman hingga memanen buah.

Pengunjung pun dapat merasakan pengalaman berbeda. Mereka dipersilakan datang langsung ke greenhouse untuk memilih dan memetik sendiri melon yang diinginkan.

“Pelanggan boleh datang langsung ke lokasi untuk memetik sendiri melon yang diinginkan,” katanya. 

Untuk mencapai greenhouse budidaya melon milik Siswanto, dari kota Siak berkendaralah ke jalan lintas Siak -Bungaraya. Pada kampung terakhir kecamatan Siak, kampung Buantan Besar namanya, ada spanduk green house agro Siak farm di sebelah kiri. Singgahlah ke situ, untuk memetik melon premium yang dibudidayakan Siswanto.(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)

 

Baca Lebih Lanjut
Panen Melon di STPL Bekasi, Wamensos: Sentra Harus Jadi Pusat Pemberdayaan
Mochamad Dipa Anggara
Melimpah, Produksi Padi Kabupaten Bandung Diproyeksikan Tembus 520 Ribu Ton Tahun Ini
Seli Andina Miranti
Panen Raya dan Kapasitas Terbatas Jadi Penyebab Antrean Truk Sawit di PT Toscano Mengular
Abd Rahman
Embun Upas Mulai Turun di Dieng, Petani Kentang Was-was Tanaman Mati 
Rival al manaf
TPST Tahura Denpasar Bali Sudah Olah 150 Ton Sampah Per Hari, Saat Ini Rakit Mesin Kapasitas 100 Ton
Putu Dewi Adi Damayanthi
Harga Cabai Hiyung Tembus Rp 90 Ribu per Kg, Petani Tapin Senang Hasil Panen Langsung Ludes
Ratino Taufik
BBRMP Maluku monitoring produksi benih padi sawah di Seram Barat
Antaranews
Gantikan Tyo Nugros saat Dewa 19 Konser di Malaysia, Al Ghazali Panen Pujian: Teruskan dan Seriusin
Yurika NendriNovianingsih
Pedagang di Banyuasin Keluhkan Kelangkaan Stok Beras Curah dan SPHP Bulog
Yandi Triansyah
Kecelakaan di Jombang, Truk Terguling Usai Tabrak Median Jalan Dini Hari
Dwi Prastika