Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Ahmad Faisol
TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN – Selain potensial sebagai kawasan industri kemaritiman, pesisir laut barat Kota Bangkalan juga menjadi spot favorit bagi para pehobi mancing.
Keragaman jenis ikan laut mulai ikan baramundi, kerapu, tompel, laosan atau ikan lajeng dalam Bahasa Madura, hingga kakap merah cukup menarik perhatian para pemancing nasional hingga Asia.
Di antara barisan perahu-perahu milik warga nelayan Kelurahan Pangeranan, terparkir sebanyak empat buah perahu motor khusus yang biasa disewa para pehobi mancing.
Salah satunya perahu motor milik Ahmad Rahman (43), memiliki ukuran panjang sekitar 10 x 2 meter. Perahu bermesin diesel itu bisa membawa maksimal 5 hingga 6 angler, sebutan bagi pehobi mancing.
“Daya tarik di perairan laut tepi barat Kota Bangkalan adalah konsepnya, ada pulau Karang Jamuang yang membuat para pehobi mancing kerasan. Total ada 14 spot dengan bermacam jenis ikan laut, namun kakap merah tetap menjadi ikon meski keberadaannya tidak seramai dulu,” ungkap Rahman saat membersihkan perahu usai mengantar empat orang pemancing, Kamis (23/5/2024).
Selama dua tahun atau sejak tahun 2020 menggeluti usaha carter perahu khusus mancing, Rahman setidaknya telah melayani para pemancing asal Bangkalan. Namun juga para pehobi mancing dari Surabaya, Malang, Bandung, hingga warga Korea dan Jepang.
Selain belasan spot mancing yang menarik, Rahman juga memanjakan pelanggannya dengan memberikan layanan memasak ikan hasil tangkapan di atas perahu.
Menyantap ikan segar hasil tangkapan di tengah laut lepas menjadi pelengkap sensasi para pehobi mancing selain strike atau momen umpan disambar dengan kail menancap di mulut ikan.
“Saya membawa kompor portable serta perlengkapan perlengkapan dapur untuk kebutuhan pemancing. Biasanya para angler yang berangkat di malam hari, seperti warga asal Bandung beberapa waktu lalu, memasak mi instan dan kopi. Hasil tangkapan dieksekusi langsung, dimasak di tengah laut untuk sarapan dan makan siang,” jelas bapak dengan empat anak itu.
Rahman awalnya enggan menyewakan perahu miliknya karena memancing menjadi salah satu hobinya. Namun berkat dorongan dari beberapa temannya, ia memantapkan diri sebagai penyedia perahu khusus memancing.
Selama dua tahun menggeluti, Rahman sudah melahap 14 spot mancing favorit di perairan laut sisi barat Kota Bangkalan.
Spot terdekat yakni berjarak tempuh 30 menit dan spot terjauh memakan waktu tempuh hingga dua jam atau sekitar 15 mil dari bibir pantai Kelurahan Pangeranan.
“Biaya untuk sekali jalan tergantung spot yang dipilih, rata-rata para angler membutuhkan waktu memancing hingga 8 jam,” terangnya.
Selaku pelaku usaha jasa pengantar para pehobi mancing, Rahman bersama beberapa rekan seprofesinya tidak lantas berdiam diri.
Ia membangun rumpon-rumpon di tengah laut sebagai rumah berkembang biak ikan sekaligus menjaga kelestarian ekosistem ikan.
“Kami tidak luput dari tanggung jawab, kami buatkan rumpon berbahan pelepah pohon kelapa dan kayu. Kami tempatkan di jalur yang jauh dari jangkauan jaring nelayan, termasuk jauh dari garis lalu lalang kapal-kapal laut,” pungkasnya