TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Dokter Boyke Dian Nugraha mengurai penyebab terbesar terjadinya keguguran.
Diungkap dr Boyke, ibu hamil sering tak menyadari sederet penyebab keguguran yang rentan terjadi di usia kehamilan muda.
Bahkan keguguran tersebut bisa terjadi berulang jika tak segera diatasi penyebabnya.
Dalam penjelasannya, dr Boyke meminta kepada ibu hamil yang mengalami keguguran agar langsung berkonsultasi ke dokter.
Sebab jika tidak, keguguran dengan penyebab serupa akan terjadi berulang kali.
Diungkap dr Boyke, ada beberapa penyebab terjadinya keguguran.
Mulai dari infeksi hingga gangguan hormon pada wanita.
"Keguguran kita mesti cari sebabnya apa, apakah ada infeksi toksoplasma, apakah memang rahimnya terbalik sehingga mudah terjadi infeksi, atau ada gangguan hormonal, apakah ada kelainan pada rahim," ungkap dr Boyke.
Tapi diulas dr Boyke, penyebab terbesar terjadinya keguguran adalah karena infeksi.
Ya, infeksi pada ibu hamil dapat menyebabkan janin tak berkembang.
Karenanya guna mengatasi hal tersebut tak terjadi lagu, wanita yang mengalami keguguran harus segera diobati.
"70 persen penyebab keguguran adalah infeksi. Dan infeksi itu harus diobati supaya pada kehamilan berikutnya tidak terjadi lagi keguguran," imbuh dr Boyke.
Dijelaskan dr Boyke lagi, wanita yang mengalami keguguran tidak disarankan minum jamu atau ramuan.
Cara paling ampuh agar keguguran tak berulang adalah dengan berkonsultasi ke dokter kandungan.
"Katakan misalnya (penyebab keguguran) herpes atau tokso, kita periksa," kata dr Boyke.
Jadi salah satu penyebab keguguran, apa itu toksoplasma?
Toksoplasma adalah penyakit infeksi akibat parasit Toxoplasma gondii.
Biasanya parasit tersebut menular melalui kotoran kucing atau makanan.
Pada ibu hamil, parasit toksoplasma bisa menular ke janin melalui plasenta dan menyebabkan efek samping yang berat, bahkan bisa menyebabkan kematian janin.
Mekanismenya, setelah masuk ke tubuh seseorang, parasit penyebab toksoplasmosis tidak dapat menular ke orang lain.
Namun parasit toksoplasma sejatinya dapat menetap dalam kondisi tidak aktif di otot, paru-paru, maupun otak selama bertahun-tahun.