SURYA.co.id - Kisah Uti Nilam Sari menjadi Medical illustrasor di Indonesia memang cukup menginspirasi.
Pasalnya, kesuksesan tersbeut ternyata berawal dari kesulitan yang luar biasa.
Uti awalnya sempat stres karena dipaksa orangtuanya untuk kuliah di Kedokteran.
Namun, Uti tak menyerah dan akhirnya menemukan tempat untuk menyalurkan passion menggambarnya.
Alasan berakhirnya Uti di bidang medical illustrator ini lantaran dirinya mempunyai hobi menggambar dan membuat desain.
Bahkan, masuk FK UI pun ia akui karena permintaan dan dorongan dari orang tua.
Selama berkuliah, Uti sempat merasa stres karena beban mahasiswa kedokteran cukup tinggi dibandingkan jurusan lain.
Namun, berkat hobinya membuat desain, rasa stres Uti menjadi tersalurkan.
"Tapi alhamdulillah ketemu caranya. Karena aku itu sangat passionate di design and technology, ketika menjalani kuliah, aku suka kayak mengerjakan design itu secara for free sebenarnya, untuk menjaga kewarasan lah kira-kira seperti itu.
If you know the application, 'Photoshop' tuh udah jadi kayak jalan ninja ku gitu lah kira-kira", katanya, dikutip dari laman LPDP.
Saat awal berkarier sebagai dokter, Uti merasa energinya cukup terkuras.
Pasalnya ia adalah perasa sehingga setiap kali melihat pasien keluar masuk rumah sakit Uti tak hentinya menitikkan air mata.
Keresahan lain yang Uti rasakan selama kuliah adalah soal bahan belajar. Uti melihat hanya sedikit buku-buku kedokteran yang mempunyai ilustrasi bagus.
"Sungguh miris melihat buku-buku waktu aku kuliah di kedokteran, dengan ilustrasi seadanya ataupun mencatut dari luar dan dengan kualitas yang sangat terbatas.
Dan aku tahu sebenarnya secara visual itu kita dapat memberikan informasi yang lebih daripada hanya teks," kenangnya.
Suatu ketika, Uti menemukan buku berjudul "Atlas of Human Anatomy" dari Frank H Netter.
Buku tersebut kemudian menginspirasi Uti untuk kemudian membuat ilustrasi khusus bertema medis.
Akhirnya Uti memutuskan untuk mengambil S2 di bidang ilustrasi. Ia lalu mencoba peruntungannya dengan mendaftar beasiswa LPDP dan lolos.
Uti diterima di program Medical Visualisation and Human Anatomy yang merupakan hasil kolaborasi University of Glasgow dan The Glasgow School of Art.
Beruntungnya Uti, ia bisa menempuh studi S2 di Skotlandia bersama sang suami.
Suaminya, Mohamad Sani pun diterima S2 Mobile Design and Engineering di kampus sama.
Namun, perjalanan mereka tak semulus yang dikira.
Sani didiagnosis mengidap kanker sehingga Uti harus menemani sang suami menjalani pengobatan, operasi, hingga kemoterapi di samping harus merampungkan tesis.
"Dengan begitu aku harus bolak-balik, jadi aku begadang di lab untuk menyelesaikan tesis.
Kemudian pindah lagi nanti menginap lagi di rumah sakit, untuk ngurusin dan mendampingi suamiku. Alhamdulillah LPDP juga support," kenangnya.
Meski lulus dari kampus top di Skotlandia, Uti sempat kesulitan mencari lowongan pekerjaan sebagai ilustrator medis. Ia harus memperkenalkan dirinya sebagai freelance illustrator.
"Waktu itu responnya almost nihil Mas, tapi aku berpikir bahwasanya tetap harus dimulai, sehingga aku selanjutnya memperkenalkan diri sebagai freelance illustrator medis di samping pekerjaan utamaku," tuturnya.
Sehingga, ia berinisiatif mendirikan Medical Media (Medimedi). Medimedi adalah perusahaan yang memiliki layanan pembuatan visual media untuk kesehatan.
"Kita harus (membuat) 'medically approved' dan harus 'visually attracting'. Dokter yang paham juga tentang teknologi dan art, dan anak-anak art dan tech yang mau dengerin dari sisi medisnya, nah itu jadi tektokan aja kerjanya di antara mereka," sambungnya.
Sejak tahun 2018, Medimedi bergerak sebagai bisnis. Bahkan, kini sudah berkembang ke arah teknologi Extended Reality (XR), Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), dan Virtual Reality (VR).
Uti berpesan kepada anak muda untuk tidak menyepelekan pendidikan. Jika terkendala biaya untuk melanjutkan studi S2, Uti menyarankan untuk mencoba beasiswa LPDP meski tak sekali lolos.
"Ya, education is expensive, we know that, tapi stupidity is more expensive. Education is expensive, tapi ignorance is more expensive, di sinilah LPDP berada," tegas Uti.
Di kisah lain, Royal Eden More Silaban, berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Jakarta (UPNVJ).
Bukan perkara mudah untuk Royal Eden bisa menyelesaikan studinya.
Pasalnya, ia terlahir dari keluarga sangat sederhana.
Sebelum kuliah, ia harus mencari beasiswa untuk mendanai studinya selama beberapa tahun.
Ia juga harus mencari uang tambahan dengan menjadi guru les privat dan asisten dosen di Departemen Patologi Anatomi FK-UPNVJ.
“Saya lahir dari keluarga petani sayur kecil-kecilan di Riau. Kami 6 bersaudara."
"Meski keadaan serba sulit, saya tetap percaya bahwa tangan Tuhan selalu bekerja untuk saya."
"Sebab saya punya keluarga dan saudara serta teman atau relasi yang selalu berusaha membantu saya di setiap kesulitan-kesulitan ini,” ungkap Royal Eden, dikutip dari laman UPNVJ.
“Hal lain yang menguatkan saya adalah motivasi dan arahan dari dosen, pimpinan, civitas UPNVJ, dan FK-UPNVJ,” sambungnya.
Saat ini, Royal Eden melanjutkan Pendidikan Profesi (kepaniteraan klinik) di kampus yang sama.
Ia menegaskan, akan terus berjuang hingga mendapat gelar dokter (dr.).
"Terima kasih kepada UPNVJ dan FK-UPNVJ yang sudah memberikan gelar wisudawan Mahardika kepada saya,” sebut Royal Eden.
“Saya masih merasa kurang pantas mendapatkan ini, karena saya yakin teman-teman wisudawan lainnya juga hebat dengan jalan dan caranya masing-masing,” lanjutnya.
“Buat saya, ini adalah suatu penghargaan yang sangat luar biasa atas apa yang sudah saya dan kita bersama-sama perjuangkan selama saya menempuh pendidikan sarjana kedokteran di UPNVJ,” pungkas Royal Eden.
Selama menempuh kuliah, Royal Eden aktif mengikuti berbagai perlombaan, bahkan menang di 37 kompetisi yang terdiri dari tingkat wilayah, nasional dan juga internasional.
Bahkan, ia menjadi salah satu penerima Penghargaan Bintang Mahardika di Wisuda ke-73 UPNVJ tahun ini.
Penghargaan ini berkat prestasinya yang berhasil memenangkan 37 kompetisi.
Sebanyak 33 di antaranya merupakan kompetisi ilmiah tingkat nasional.
Untuk tingkat internasional, Royal Eden berhasil meraih satu kemenangan di lingkungan rumpun kedokteran/kesehatan maupun multidisiplin ilmu.
“Saya juga pernah memenangkan kempetisi kontes ketampanan/kecantikan dengan advokasi bidang kesehatan sebanyak satu kali pada tingkat nasional dan meriah Juara 2 Putera,” ujar Royal Eden.
Selain itu, ia juga terpilih sebagai pemenang Mahasiswa Berprestasi LL-DIKTI Wilayah 3 (Jakarta Raya) di antara 260 lebih perguruan tinggi negeri mau pun swasta di wilayah Jakarta Raya pada tahun 2022 dan menjadi perwakilan UPNVJ dan LL-DIKTI wilayah 3 di tingkat nasional.
Tahun lalu, Royal Eden meraih juara 1 mahasiswa berprestasi kedokteran se-ISMKI Wilayah 2 yang meliputi seluruh fakultas kedokteran, baik di perguruan tinggi negeri maupun swasta di seluruh wilayah Banten, Jawa Barat, Jakarta, dan Kalimantan Barat.
“Meski terbilang aktif di kompetisi, saya berusaha menyeimbangkan dengan tetap mempertahankan IPK lebih dari 3,5 dan pernah menjabat menjadi ketua organisasi/UKM universitas,” tutur Royal Eden.
Kompetisi paling paling berkesan bagi Royal Eden adalah saat dirinya mengikuti kompetisi ilmiah tingkat nasional di kedokteran USU pada lomba SRF (Scripta Research Festival) di bulan Januari 2023.
Pada serangkaian kegiatan kompetisi ini juga dilakukan workshop, simposium dan tur ke Danau Toba dan Pulau Samosir.