TRIBUNJATENG.COM- Fenomena alam unik ada di , Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Di Dukuh Wotawati Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo tidak tersinari matahari seperti daerah lain di Indonesia.  

Sinar matahari yang menyinari dukuh ini hanya selama 7 jam. Matahari terbit terlambat namun tenggelam lebih cepat. 

Perkampungan ini hanya disinari matahari selama 7 jam setiap hari. Kondisi ini membuat warganya merasakan malam tiba lebih cepat sedangkan pagi datang lebih lamban.

 Dusun Wotawati berjarak sekitar 75 km dari pusat Kota Yogyakarta, sehingga membutuhkan waktu perjalanan sekitar 2,5-3 jam. 

Perjalanan ke lokasi pun cukup menantang, karena beberapa jalan masih berupa turunan curam, melewati jalur yang berupa hutan jati. 

Namun, saat memasuki dusun tersebut,  suasana hangat dan asri langsung terasa. Rumah-rumah penduduk tertata dengan rapi dikelilingi  perbukitan yang indah.

Warganya pun sangat ramah.

Lurah Kalurahan Pucung Estu Driyono menceritakan fenomena alam unik yang dialami dusun tersebut.

 Dia menyebut matahari di dusun ini baru muncul saat pukul 08.00 WIB. Pada sore hari, sekitar pukul 15.00 WIB sinar matahari sudah tak dapat dilihat lagi.

"Jadi, setiap harinya hanya sekitar 7 jam saja warga di sini bisa menikmati sinar matahari. Itupun dengan catatan kondisi cuaca cerah. Kalau mendung atau musim hujan seperti ini lebih singkat lagi bisa merasakan sinar matahari," ujarnya saat ditemui di lokasi, pada Sabtu (9/11/2024).

Terhalang perbukitan

Fenomena alam unik ini, kata Estu, terjadi karena lokasi Padukuhan Wotawati berada di lembah aliran Sungai Bengawan Solo Purba yang tersembunyi di balik perbukitan tinggi. 

Posisi ini membuat sinar matahari sulit menembus dusun tersebut dan matahari terbenam lebih cepat dari desa lain karena terhalang oleh perbukitan.

 "Dulunya di sini aliran Bengawan Solo, Sungai terpanjang di Jawa. Sebelum adanya pengangkatan tektonik beberapa jutaan tahun silam, Sungai ini bermuara di Pantai Sadeng, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul. Sedangkan, saat ini sungai  berhulu di Wonogiri dan bermuara di Gresik, Jawa Timur," papar dia.

Dia menjelaskan bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba akibat pengangkatan tektonik tersebutlah yang  dimanfaatkan sebagai tempat tinggal bagi  masyarakat di Padukuhan Wotawati.

"Kalau di wilayah lain sebagian besar bekas aliran sungai ini dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, namun Ini satu-satunya  bekas sungai Bengawan Solo Purba yang dimanfaatkan sebagai tempat tinggal," ucapnya.

Penduduk 450 jiwa 

 Dia menerangkan saat ini ada sekitar 450 jiwa warga yang mendiami Dusun Wotawati yang tersebar di 4 RT. Sebagian besar warga di sini bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

"Mayoritas di sini petani, karena wilayah ini cukup subur, karena itu tadi bekas aliran Sungai Bengawan Solo Purba. Kemudian, ada juga yang bermata pencaharian sebagai nelayan,"tutur dia.

Dia mengatakan untuk warga yang tinggal di Dusun Wotawati mayoritas sudah turun-temurun. Sehingga, hubungan antara warga sangat erat dan menjunjung semangat kekeluargaan.

Salah satunya, Mbah Katimin (70), Warga Dusun Wotawati RT 2 yang mengaku sudah turun temurun sejak kakek buyutnya tinggal di Dusun unik tersebut.

"Jadi, tinggal di sini sudah turun-temurun dari kakek buyut. Saya pun  lahir di sini, kemudian menikah dengan istri saya dan punya dua anak. Jadi, bisa dibilang saya tinggal di sini sudah selama 70 tahun ," ujarnya.

Mbah Katimin mengatakan warga di dusun tersebut sudah terbiasa dengan fenomena unik yang dialami dusunnya itu.

Dia pun mengaku bersyukur dengan hal tersebut.

"Kalau warga di sini sudah biasa. Kalau sudah masuk pukul 15.00 WIB, itu kan mulai gelap, warga sudah pada  pulang ke rumah, tak ada lagi yang beraktivitas di luar seperti di ladang, jadi warga gak perlu jam sudah tahu waktunya. Kami di sini bersyukur dengan kondisi ini, karena tidak semua tempat punya hal seperti ini, ,"tuturnya.

Menurutnya, kondisi alam yang terlambat mendapatkan sinar matahari menjadi berkah tersendiri bagi warga. 

 "Ya, jadi berkah karena banyak yang penasaran sama dusun kami ini, sehingga banyak yang datang berkunjung," tandasnya.

 

Baca Lebih Lanjut
10 Negara dengan Durasi Sekolah Terlama di Dunia, Ada yang 10 Jam per Hari
Detik
Truk terbalik dekat Flyover Pesing sebabkan macet selama 1 jam lebih
Antaranews
Mbah Paimo Nangis Motornya Diisikan Bensin sampai Penuh usai Dorong 13 Km, Jual Sarung Belum Laku
Mujib Anwar
Berlari Nonstop 31 Jam, Rahmat Septiyanto Jawara BTS100 Ultra 170 Km
Timesindonesia
Perhatian, Tolong Dong Jangan Ngamen Online di Titik Nol KM Jogja
Detik
Gempa Bumi Guncang Labuha Maluku Utara di Kedalaman 10 Km, Lihat Pusat Gempa dan Magnitudo dari BMKG
Sumarsono
Prakiraan Cuaca Cilacap Kamis 7 November 2024, Akan Cerah Sepanjang Hari
Catur waskito Edy
Detik-detik Bus PO Tjipto GM dan Pajero Kecelakaan di KM 328 Tol Pekalongan, 17 Penumpang Luka-luka
Muh radlis
8 Hotel Termahal di Indonesia, Ada yang Harganya Ratusan Juta Semalam
Detik
Perjuangan Para Guru di Jombang, Tempuh Jalur Maut Hingga Mengajar 16 Siswa di Daerah Pedalaman
Samsul Arifin