BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Melimpahnya kelapa muda di kabupaten Kotabaru kini tak perlu lagi dirisaukan para petani.
Di Desa Sarang Tiung, RT 1, Kecamatan Pulau Laut Sigam, terdapat rumah produksi olahan kelapa muda dengan nama Degan Jelly Royan.
Usaha yang digeluti Ahmad Jailani ini telah berjalan sekitar setahun terakhir, dengan memanfaatkan kreativitas dengan bahan dasar kelapa muda.
Penuturan Jailani, Degan Jelly Royan berawal dari tantangan pihak PT Arutmin NPLCT yang menggerakkan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan.
Yakni bisa berinovasi apa dengan ketersediaan potensi alam sekitar, lalu diberikan modal dan program pembinaan.
"Dulunya menjalankan usaha angkringan, kemudian tawaran dari Arutmin itu datang. Maka mencoba menawarkan olahan kelapa muda," ujar ayah satu anak ini.
Tidak sekedar menyuarakan, dirinya juga mencoba mencari informasi yang ada di YouTube, terkait olahan berbahan utama kelapa muda.
Akhirnya ditemukan beberapa konten dari Thailand yang bisa direalisasikan, yakni degan jelly.
Sejak itulah dirinya mencoba dengan membuat sepuluh buah degan jelly yang kemudian diserahkan kepada pihak PT Arutmin.
Sejumlah usaha pun dilakukan Jailani untuk memformulasikan racikan hingga degan jelly miliknya layak dipasarkan dengan harga yang sesuai.
Termasuk di antaranya belajar dengan perantauan asal Banyuwangi dan bertolak ke Solo untuk memantapkan resep agar tahan lebih lama tanpa pengawet.
Disambut baik meskipun masih perlu pengembangan, olahan daging kelapa muda dan bubuk jeli, serta tampilan yang menarik ini pun terus berkembang.
Rasa unik perpaduan jelly dengan kelapa muda memang memiliki sensasi kesegaran tersendiri saat dicicipi.
Rasa manis yang tidak begitu tajam dan esensi dari air dan daging kelapa tetap terasa. Sehingga sangat cocok diseruput untuk membasahi tenggorokan.
Per porsi, Degan Jelly Royan dijual Rp25.000 di setiap outlet penjualannya, namun jika di minimarket modern atau pihak lain yang turut menjual masing-masing di harga
Rp30.000.
"Untuk harga produk kita di kawasan Kotabaru, khususnya yang menjual dibatasi hanya Rp.30.000. Tidak boleh lebih atau kurang. Untuk menjaga eksistensinya," beber Jailani.
Dalam per bulan, dirinya rata-rata bisa memproduksi 500 hingga 700 biji kelapa yang bisa dipasarkan.
Setidaknya, hingga saat ini dirinya sudah memiliki 11 outlet penjualan, belum termasuk sejumlah minimarket yang juga turut memasarkan olahan asal Desa Sarang Tiung ini.
(Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri)