SURYA.CO.ID, SURABAYA - Sukarsipah (59) duduk melihat anak dan beberapa warga yang tengah membuat lumpia di teras samping rumahnya, Jalan Ngaglik, Gang Kuburan, Surabaya.

Di ujung teras, tiga perempuan termasuk menantunya sibuk mengisi tumpukan kulit lumpia.

Sementara anak Sukarsipah terlihat menggoreng dibantu pekerja lainnya.

Ada juga lelaki yang membuat kulit di atas tungku dengan beberapa baskom berisi adonan di sampingnya.

Produksi tidak hanya terpusat di rumah keluarga Mak Ipah, panggilan akrabnya, melainkan di beberapa rumah yang juga bekerja sebagai pembuat kulit lumpia.

Sukarsipah menuturkan, usaha keluarga ini dimulai saat sang suami, Kasno (64), berjualan sosis tempura di dekat Stadion Tambaksari, sekarang Stadion Gelora 10 November.

Tahun 2020 itu, Kasno kemudian mengajak Mak Ipah untuk mencoba peruntungan jualan lumpia.

GORENG LUMPIA - Proses penggorengan lumpia di rumah Sukarsipah, Jalan Ngaglik, Gang Kuburan, Surabaya, Senin (3/2/2025). Usaha keluarga ini dimulai saat sang suami, Kasno berjualan sosis tempura di dekat Stadion Tambaksari, sekarang Stadion Gelora 10 November.
GORENG LUMPIA - Proses penggorengan lumpia di rumah Sukarsipah, Jalan Ngaglik, Gang Kuburan, Surabaya, Senin (3/2/2025). Usaha keluarga ini dimulai saat sang suami, Kasno berjualan sosis tempura di dekat Stadion Tambaksari, sekarang Stadion Gelora 10 November. (Tribun Jatim/Nurika Anisa)

Meski sempat ragu, ia pun menuruti dan mencoba beberapa kali membuat resep adonan.

Sukarsipah yang saat itu sebagai buruh cuci, lantas mengajari anak-anaknya cara membuat gorengan tersebut.

“Awalnya jualan sosis, coba bikin lumpia ternyata bisa. Pak Kasno yang jualan di dekat stadion, saya keliling di kampung-kampung. Anak-anak yang buat di rumah,” ujarnya ditemui di rumahnya, Senin (3/1/2025).

Semula usaha ini hanya dijalankan Kasno dibantu anak-anak dan beberapa tetangga.

Usaha tersebut berkembang hingga melibatkan banyak keluarga lain yang bekerja membuat kulit lumpia.

Setidaknya ada puluhan pekerja yang dibagi untuk membuat kulit, mengisi dan menggoreng lumpia maupun risoles.

“Saya pikir dulu juga saya sengsara, kasihan mereka yang dirumahkan, jauh dari orang tua, rumah ngekos jadi apa yang sekiranya bisa saya bantu ya saya bantu. Jadi belajar, lama-lama ikut kerja di sini,” ujarnya.

Kesibukan membuat lumpia dimulai sekitar pukul 03.00 WIB hingga siang hari. 

Pesanan di akhir pekan maupun hari libur nasional disebut lebih banyak dibanding hari biasa, sehingga produksi lebih awal.

Usaha ini dulunya hanya memproduksi ratusan lumpia yang dijual di stadion maupun keliling kampung.

Ipah tak menyangka dari stadion bisa mengembangkan usahanya hingga ke berbagai kota.

Dari gang kecil di rumahnya, keluarga tersebut menggagas Kampung Lumpia di Surabaya.

“Dulu di kampung-kampung jualan, kalau ada (pertandingan) bola jualan di stadion. Bikin lebih banyak habis,” ujarnya.

Meski kandang klub bola Persebaya sudah berpindah di Stadion Gelora Bung Tomo, lumpia ala Kampung Lumpia tetap ramai pembeli.

Rata-rata 7.000 hingga 15 ribu lumpia diproduksi dari dapur rumah Sukarsipah. Satu biji lumpia dijual Rp1.500 jika belum digoreng, dan Rp1.800 yang siap santap.

Yang awalnya hanya diambil oleh pedagang di sekitar stadion dan Pecindilan Surabaya, kini dikirim ke beberapa kota seperti Sidoarjo, Gresik, Yogyakarta, Solo, hingga dibawa ke Malaysia.

“Saya selalu bilang ke anak-anak, lihat ke bawah. Jangan sombong, lihatlah dulu bagaimana kita dulu. Yang sederhana saja, saya kasih amanat seperti itu,” tutupnya.

Baca Lebih Lanjut
Kasus Dugaan Pengasuh Panti Asuhan Lecehkan Anak Asuh di Surabaya, Korban Bisa Lebih dari Satu
Dyan Rekohadi
RAPOR MERAH Persebaya Surabaya di Bulan Januari 2025, Tanpa Kemenangan di Empat Pertandingan Liga 1
Abdullah Faqih
Hasil Skor Persebaya Surabaya vs Persita Tangerang: Bajul Ijo Terhindar dari Lima Kekalahan Beruntun
Abdullah Faqih
Motif Suami Cor Ayuni Sang Istri di Kebun Kopi Bener Meriah, Sakit Hati usai Adu Mulut
Weni Wahyuny
Striker Bidikan Persebaya Surabaya Paruh Musim Lalu Kini Tanpa Klub, Bisa Jadi Opsi Musim Depan?
Abdullah Faqih
Bullying Siswa SMP di Surabaya Penuhi Unsur Pidana, Sudah 2 Bulan Polisi Belum Tetapkan Tersangka
Deddy Humana
UMKM Indonesia Mendunia, Ribuan Pengunjung Mancanegara Hadiri BRI UMKM EXPORT 2025!
Content Writer
Komunitas Ibu Semangat Indonesia Kuat Bikin Ecoprint Limbah Kain di The Southern Hotel Surabaya
Irwan sy
Tenant UMKM BRI UMKM EXPO(RT) 2025 Siap Pamerkan Produk di ICE BSD
Sindonews
Fakta Kasus Suami Cor Istri di Hidup-hidup di Aceh: Sosok, Motif dan Pekerjaan Pelaku Terkuak
Mariana