SURYA.CO.ID, BLITAR - Ipong Wahyudiyanto (28), pemuda asal Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar, Jawa Timur (Jatim) ini sukses menekuni usaha produksi rempeyek koin.
Dari produksi rempeyek koin ini, lulusan Sarjana Tata Boga Universitas Negeri Malang UM) ini, rata-rata bisa mendapatkan omzet minimal sekitar Rp 15 juta per bulan.
Ipong mulai menekuni usaha produksi rempeyek koin pada awal 2020, atau ketika awal terjadi pandemi Covid-19. Ketika itu, dia masih kuliah.
"Waktu terjadi pandemi, kuliah juga menerapkan pembelajaran dari rumah. Saya kepikiran buat usaha, akhirnya buat peyek (rempeyek) koin sampai sekarang," kata Ipong saat ditemui di rumahnya, Senin (3/3/2025).
Ipong terlihat sedang sibuk mengemas rempeyek koin di ruang belakang rumah. Di atas meja, tampak berjajar stoples berisi rempeyek koin yang sudah siap dikirim.
Ipong juga dibantu empat pekerja untuk memproduksi rempeyek uceng. Dua pekerja laki-laki, terlihat mencetak rempeyek koin di ruang samping rumah.
Mereka mencetak rempeyek koin menggunakan cetakan kue bikang mini, atau cetakan jajanan makaroni telur.
Dua pekerja tampak telaten menuangkan adonan rempeyek ke alat cetakan kue bikang mini.
"Ramadhan ini pesanan meningkat. Saya menambah pekerja. Biasanya hanya dua orang, sekarang empat orang. Karena, selain peyek, juga ada pesenan kue nastar," ujar Ipong.
Ipong kemudian menceritakan awal mula merintis usaha rempeyek koin.
Ipong sempat uji coba sebanyak tujuh kali, untuk mendapatkan bentuk dan resep yang tepat rempeyek koin.
"Awal produksi banyak tantangan, saya uji coba pembuatan peyek dan resep sampai tujuh kali, baru menemukan resep yang pas seperti sekarang," katanya.
Tak hanya itu, proses pemasaran juga butuh telaten dan ulet. Di awal-awal, ia hanya mampu produksi 1 kilogram rempeyek koin per hari.
Sekarang, ia mampu produksi minimal 15 kilogram rempeyek koin per hari.
"Dulu, penjualan awal-awal masih 1 kilogram kirim ke Batu dan ke Surabaya. Sekarang sehari bisa produksi 15 kilogram," ujarnya.
Ipong memasarkan rempeyek koin produksinya secara online lewat media sosial. Dengan pemasaran online, pelanggannya banyak dari luar pulau, bahkan luar negeri.
Dia sudah pernah kirim rempeyek koin ke Papua, Aceh, Lampung, Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.
Dia juga rutin mengirim rempeyek koin ke pelanggan luar negeri dua kali seminggu, yaitu ke Taiwan tiap hari Rabu dan ke Hongkong tiap hari Kamis.
"Kebetulan saya juga suka ngonten. Biasanya proses produksi peyek saya buat konten, saya unggah di akun medsos saya. Dari situ saya dapat pelanggan dari TKW Indonesia yang kerja di Taiwan dan Hongkong," katanya.
Dikatakan Ipong, produksi rempeyek koin sebenarnya sudah ada di wilayah Kabupaten Tulungagung, tapi model rempeyek koin yang sudah ada di pasaran agak tipis.
Ipong mencoba membuat rempeyek koin agak tebal, tapi tetap dengan tekstur renyah dan empuk.
"Produk yang beredar di pasaran, biasanya kacangnya dipotong-potong, kalau produksi saya, kacang tetap utuh. Ini sama dengan peyek biasa, hanya bentuknya saja bulat kecil mirip uang koin," ujarnya.
Ipong memproduksi dua varian rempeyek koin, yaitu original dan manis pedas.
Untuk harga rempeyek koin dijual Rp 97.000 per kilogram.
"Kalau harga setengah kilonya Rp 50.000," katanya.
Menurutnya, awal Ramadhan ini, pesanan rempeyek koin untuk kebutuhan Lebaran mulai meningkat.
Dua hari Ramadan ini, ia sudah mendapat orderan 15 kilogram rempeyek koin.
Pengalaman Ramadhan tahun lalu, ujar Ipong, dalam sebulan ia mendapat pesanan rempeyek koin khusus untuk persiapan Lebaran mencapai 150 kilogram.
Momen Ramadan tahun lalu, ia bisa mendapat omzet dari produksi rempeyek koin mencapai Rp 65 juta dalam sebulan.
"Kalau omzet hari-hari biasa rata-rata sekitar Rp 15 juta per bulan. Kalau Ramadhan sampai Lebaran, produksinya pasti naik lumayan banyak," tuturnya.